alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Events
icon featured
Events
Edisi Khusus Ulang Tahun Ke-6

Kesan Para Pembaca Setia Jawa Pos Radar Jombang (49); Wabup Sumrambah

Sejak SD sudah Baca Jawa Pos

15 Juli 2020, 14: 17: 13 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

GEMAR BACA: Wabup Sumrambah membaca Jawa Pos di ruangannya, Senin (13/7).

GEMAR BACA: Wabup Sumrambah membaca Jawa Pos di ruangannya, Senin (13/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Wabup Sumrambah, 45, sangat bersyukur punya guru SD bernama Estu Ningsih. Sang guru mendorongnya gemar membaca sehingga sejak kecil senang membaca buku dan koran Jawa Pos.

JOMBANG - Tiga koran menghiasai meja kerja Wabup Sumrambah di Pemkab Jombang, Senin (13/7). Namun yang dibaca duluan adalah Jawa Pos. “Pagi di rumah dinas, saya sudah berbagi koran Jawa Pos dengan keluarga,” ucapnya.

Biasanya, pria yang lahir 25 Oktober 1975 ini membaca halaman nasional duluan. Sementara halaman lainnya dibaca istri dan dua anaknya. “Sarapan seperti ada yang kurang kalau tanpa Jawa Pos,” ucapnya lagi.

KEBANGGAAN: Wabup Sumrambah menunjukkan pigora koran Jawa Pos edisi 24 September 2018.

KEBANGGAAN: Wabup Sumrambah menunjukkan pigora koran Jawa Pos edisi 24 September 2018. (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Setelah halaman utama, Sumrambah melanjutkan baca opini. Baru kemudian halaman daerah dan Radar Jombang. “Yang belum tuntas di rumah, saya teruskan baca di kantor,” bebernya. Selesai Jawa Pos, baru dia beralih membaca dua koran lainnya.

“Saya baca Jawa Pos sejak SD,” kata alumnus SDN Banjaragung 2 Bareng ini. Saat itu, koran Jawa Pos datang pukul 10.00. “Sehingga Jawa Pos menjadi bacaan wajib setelah pulang sekolah,” bebernya. Orang tuanya langganan koran untuk menanamkan budaya baca kepada anak-anak. “Walaupun petani murni, orang tua sangat memahami pentingnya budaya baca,” jelasnya.

Di sekolah, dia juga punya guru yang pintar menanamkan budaya baca. Namanya Estu Ningsih. “Beliau sangat berjasa bagi saya,”ungkapnya. Saat kelas 2 SD, Bu Ningsih sering memberinya buku. “Setelah dua atau tiga hari, dia menanyai saya isi bukunya tentang apa?” Rambah pun menjelaskan singkat.

Setelah itu, Ningsih memberinya buku lagi. Begitu seterusnya. “Dari situ saya menjadi gemar baca,” ujar suami Wiwin Esnawati ini. Alumni SMPN 1 Bareng ini menjelaskan sejak kecil senang membaca cerita silat bersambung di Jawa Pos. “Diantaranya cerita Ki Ageng Badar Bondowoso yang ditulis Agus Sunyoto,” terang bapak dua anak ini.

Karena hobi baca, saat di SMAN 2 dia sudah biasa membuat tulisan. Terlebih ketika kuliah, dia sempat menjadi ketua unit kegiatan mahasiswa (UKM) Forum Diskusi dan Pengembangan Penalaran (Fordimapelar) Unibraw Malang.  “Jawa Pos selalu menjadi sumber informasi yang utama,” ungkapnya.

Menurut Sumrambah, berita-berita Jawa Pos sangat luar biasa. “Kalimat-kalimatnya pendek sehingga enak dibaca. Bahasanya ringan sehingga mudah dicerna. Namun isinya tetap dalam dan inspiratif,” urainya.

Berita-berita di Radar Jombang menurutnya juga sudah bagus. “Informasi yang diberitakan sering tidak kita dapat dari lainnya,” ulas dia. Sehingga bisa menjadi bahan perbaikan bahkan membuat kebijakan.

Rambah mengaku tidak masalah dengan berita koran yang cenderung mengkritik. “Saya tidak anti kritik. Karena memang tugas media adalah untuk mengangkat realitas sekaligus balancing kekuasaan,” ucap aktifis lembaga pers Aqua Fakultas Perikanan Unibraw ini. “Media juga berfungsi mengontrol pemerintah agar tidak ceroboh,” pungkas dia. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia