alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Tambah 19 Orang, Kasus Positif Covid-19 di Jombang Terus Melejit

14 Juli 2020, 16: 28: 34 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Ilustrasi, Covid-19.

Ilustrasi, Covid-19. (ISTIMEWA)

Share this      

JOMBANG – Minimnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan menjadi salah satu faktor angka Covid-19 di Kabupaten Jombang makin melejit. Ini setelah kemarin (13/7) ada penambahan kasus baru sebanyak 19 orang. Sementara dua pasien dinyatakan sembuh total.

Data yang dihimpun dari dinkes.jombangkab.go.id mencatat, penambahan 19 tersebar di delapan kecamatan. Paling banyak Kecamatan Jombang tujuh kasus. Disusul Kecamatan Peterongan dua kasus, Kecamatan Jogoroto tiga kasus, Kecamatan Mojoagung satu kasus, Kecamatan Kesamben satu kasus, Kecamatan Diwek dua kasus, Kecamatan Mojowarno dua kasus dan Kecamatan Gudo satu kasus.

Dengan demikian  total kasus terkonfirmasi secara kumulatif ada 376. Di sisi lain, ada penambahan dua pasien yang dinyatakan sembuh klinis maupun laboratoris. Yakni dari Kecamatan Diwek dan Kecamatan Tembelang.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, dr Pudji Umbaran Koordinator Bidang Penanganan Gugas  PP Covid-19 Jombang menyampaikan, penambahan terkonfirmasi itu sebagian besar berasal dari pasien reaktif hasil rapid test. Mereka tengah menjalani karantina di gedung tenis indoor. ”Jadi mereka rata-rata hasil uji swab yang turun dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Surabaya,” ujarnya.

Dia mengatakan, penambahan kasus kemarin dodominasi orang tanpa gejala (OTG). ”Namun ada satu kalau tidak salah PDP dirawat di RSUD Jombang,” tambahnya. Dijelaskan, salah satu faktor yang membuat angka Covid-19 di Jombang semakin banyak karena kesadaran masyarakat masih rendah dalam menaati protokol kesehatan.

Misalnya saat mereka beraktifitas di luar rumah, banyak yang tidak mengenakan masker. Tidak menjaga jarak dan mencuci tangan. ”Peran serta masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan harus kita tumbuhkan, sehingga tidak hanya petugas yang proaktif,  melainkan masyarakat juga ikut sadar,” papar dia.

Untuk memutus mata rantai Covid-19 ini, tegasnya, diperlukan kesadaran semua pihak. Tidak hanya pemerintah daerah, melainkan peran serta masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan. ”Karena kita sudah tahu bahayanya, pencegahan tinggal masyarakat yang juga harus sadar,” pungkas Pudji.

44 OTG Positif Covid-19 Isolasi di Aparma Unipdu

DI tempat terpisah, hingga Senin siang kemarin (13/7), sebanyak 44 pasien positif Covid-19 dari orang tanpa gejala (OTG) menghuni rumah isolasi Aparma Unipdu Jombang. OTG ini kiriman dari sejumlah rumah sakit di Jombang.

“Kemarin (12/7) ada 45 orang, lalu satu orang dinyatakan sembuh dan boleh pulang, sekarang tinggal 44 yang menetap di sana,” ungkap dr Iskandar Dzulqornain Direktur RSUD Ploso sekaligus penanggungjawab rumah isolasi Aparma.

Selain kiriman dari RSUD Ploso, lanjutnya, OTG tersebut kiriman dari RSK Mojowarno, RS Unipdu dan beberapa puskesmas. “Jadi ini rumah isolasi masal, bisa ditempati pasien dari mana saja,” tambahnya.

Kapasitas tempat tidur yang disiapkan saat ini 64 bed. Jumlah ini bisa ditambah hingga 80 tempat tidur jika dalam kondisi darurat. Sebab, ruang Aparma cukup banyak dengan masing-masing kamar berkapasitas empat orang. 

Iskandar menyebutkan jika rumah isolasi Aparma dalam keadaan baik, tidak ada masalah serius yang dihadapi petugas medis maupun paramedisa. “Kalau hambatan kecil ada, artinya teman-teman tim di sana sudah bisa mengatasi langsung,” jelasnya.

Rumah isolasi Aparma mulai ditempati sejak 29 Juni lalu. Selain tempat tidur juga ada fasilitas tambahan berupa TV, fasilitas wifi untuk petugas maupun pasien yang menjalani isolasi. Pasien juga diberi penguatan mental atau psikologis. Hal itu dinilainya sangat penting untuk mendukung kesembuhan pasien. Mengingat pasien yang terpapar virus Covid-19 membutuhkan daya tahan tubuh optimal dan tidak stres.

”Ada waktu tertentu yang membutuhkan lebih banyak tenaga, seperti pendampingan masalah psikologis atau mental, juga pemeriksaan uji swab yang sudah terjadwal. Tidak banyak tambahan tenaga antara dua sampai lima orang sesuai kebutuhan,” pungkas dia.

(jo/ang/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia