alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Events
icon featured
Events
Edisi Khusus Ulang Tahun ke 6

Kesan Para Pembaca Setia Jawa Pos Radar Jombang (45); Widjono Soeparno

Jawa Pos Sumber Inspirasi

12 Juli 2020, 09: 34: 59 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

SANTAI: Widjono Soeparno membaca koran di rumahnya, Rabu (8/7).

SANTAI: Widjono Soeparno membaca koran di rumahnya, Rabu (8/7). (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Karena menjadi anak politisi, Widjono Soeparno, 68, sejak kecil sudah akrab dengan koran. Selama menjadi pejabat hingga sekarang, Wakil Bupati Jombang 2008-2013 ini tiap pagi baca koran.

JOMBANG - Pukul 06.00 loper koran Jawa Pos sudah tiba di kediaman Widjono di Jl Hayam Wuruk. Jam segitu, bapak dua anak dan kakek lima cucu ini sudah selesai bersih-bersih. “Begitu koran datang, langsung saya baca di kursi teras,” ucapnya kemarin.

Di teras rumahnya ada sepasang kursi. Juga satu meja dengan tumpukan koran di atasnya. “Sejak masih menjabat dulu, jam 06.00 sudah baca koran. Lalu berangkat ke kantor. Berita yang belum selesai dibaca di rumah, dibaca di kantor,” terang pria kelahiran 20 Juli 1952 ini.

Suami Sri Susilo Eka Fajarwati ini terbiasa membaca Jawa Pos sejak SMP. “Ayah saya ketua partai dan anggota DPRD, jadi langganan koran untuk mengikuti perkembangan,” jelasnya. Ayahnya, alm Soeparno, merupakan PNS Penerangan yang kemudian pensiun dan menjabat ketua PDI Jombang.

“Orang dulu pendidikannya tidak terlalu tinggi. Makanya terus menambah pengetahuan dengan membaca koran,” ulasnya. Karena di rumah ada koran, Widjono dan saudaranya yang lain termasuk mantan Gubernur Jatim Imam Utomo,  selalu baca koran. “Korannya ya Jawa Pos,” tegasnya.

Hobinya membaca koran terus berlanjut kala ia menjadi pejabat. Lulus APDN 1980 dia menjadi staf di kepegawaian. Lalu mantri polisi di Mojoagung 1982-1987. Kemudian camat Megaluh 1987-1993. Pindah menjadi Camat Jombang 1993-1997 dan kepala Dispenda 1997-2003. Kepala BKD 2003-2005. Sekda 2005-2008. Terakhir Wakil Bupati Jombang 2008-2013.

“Jawa Pos itu sumber  inspirasi,” ujarnya. Makanya tiap pagi dirinya selalu mengawali  hari dengan membaca berita nasional di halaman pertama. Baru ke halaman Jatim. Dan terakhir  halaman daerah.

“Bahan yang kita sampaikan dalam sambutan-sambutan itu ya dari koran,” tuturnya. Khususnya terkait situasi dan kondisi terkini. Bahkan, berita koran itu juga menjadi bahan rapat. “Misalnya di koran ada ini. Di rapat kita tanyakan. Apa betul seperti ini? Coba ditelusuri. Laporan sebenarnya bagaimana?” kenangnya.

Karena banyak permasalahan yang kadang belum dilaporkan. Namun sudah muncul di koran. “Makanya koran itu benar-benar menjadi sumber inspirasi,” ungkap dia. Sebagai pejabat, dia mengaku tidak mungkin terjun langsung ke seluruh wilayah. Juga tidak mungkin mengetahui semua permasalahan yang ada di masyarakat. Makanya dia sangat berterimakasih dengan umpan yang ada di koran.

“Tapi kita tidak boleh langsung marah setelah baca koran,” ucapnya lantas tertawa. Makanya setiap menemukan masalah di koran, dia selalu minta ditelusuri dan diberi laporan yang lengkap. Agar bisa mengambil kebijakan yang tepat.

“Sampai sekarang, walaupun sudah ada informasi lewat HP, saya lebih puas baca koran,” katanya. Karena berita di koran lebih mendalam. Juga lebih lengkap karena ada konfirmasi dan klarifikasi dari pihak-pihak yang diberitakan. (bersambung)

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia