alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Events
icon featured
Events
Edisi Khusus Ulang Tahun ke-6

Kesan Para Pembaca Setia Jawa Pos Radar Jombang (42); Samaun

Berlangganan Sejak Harga Koran Masih Rp 150

08 Juli 2020, 10: 58: 56 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Samaun, salah satu pembaca setia Jawa Pos asal Desa Candimulyo, Kecamatan Jombang.

Samaun, salah satu pembaca setia Jawa Pos asal Desa Candimulyo, Kecamatan Jombang. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Bagi Samaun, waktu paginya tak lengkap tanpa ditemani Koran Jawa Pos. Sambil menikmati secangkir kopi, Samaun betah berlama-lama membaca berita. Dia mengaku sudah sejak 1990-an berlangganan.

JOMBANG - Waktu masih pagi, sekitar pukul 09.00 Selasa (7/7) kemarin. Samaun terlihat duduk santai di ruang tengah rumahnya di Desa Candimulyo, Kecamatan Jombang. Dia pun langsung mempersilakan masuk.

Tanpa banyak kata, Samaun langsung bercerita tentang Jawa Pos. Ya, sejak 1990 silam, dia sudah berlangganan koran ini. Meski tak disebutkan pasti tahun berapa, salah satu developer properti di Jombang ini masih ingat harga koran kala itu. “Sejak zamannya Pak Soeharto itu sudah berlangganan, seingat saya koran ini harganya masih Rp 150,” katanya.

Karena sudah lama berlangganan, dia lantas kembali menyebutkan harga koran saat itu. “Naik jadi Rp 300, lalu naik lagi menjadi Rp 1.000 akhirnya sekarang jadi Rp 6.000,” beber dia sembari menyebutkan.

Menurut dia, sudah lama berlangganan Jawa Pos lantaran bahasanya dirasa pas untuk semua kalangan. “Dulu saya berlangganan koran lain juga, tetapi kalau Jawa Pos ini enak bahasanya. Bisa masuk, akhirnya lama-kelamaan pilih Jawa Pos saja, tidak pilih langganan yang lain,” papar lelaki kelahiran 14 Maret 1957 ini.

Sebelum dia berlangganan lanjut Samaun, orang tuanya lebih dulu menyukai Jawa Pos. “Tetapi belum berlangganan, sekedar baca. Ternyata malah saya yang akhirnya kecanduan,” terang dia.

Jawa Pos selama ini menemani waktu pagi Samaun. Sebelum beraktivitas dia melahap habis semua berita-berita Jawa Pos. “Jadi setiap pagi setelah salat subuh koran ini sudah datang. Soalnya yang nganter saya peseni, pagi sarapan saya kopi dan baca koran,” ungkap bapak tiga anak ini.

Berita yang paling diburu yakni terkait kabar di Jombang. “Pertama yang saya buka itu pasti Radar Jombang, hari ini ada kabar apa. Seperti kemarin waktu ada video viral pasien Covid-19 yang telepon bupati saya mengikuti. Terus kelanjutan pembunuhan di Desa Temuwulan juga mengikuti perkembangannya. Pokoknya yang Jombang ini beritanya detail,” beber Samaun.

Baru kemudian dilanjut ke berita sekitaran Surabaya, Jawa Timur diakhiri berita nasional. “Makanya kalau siang ini sudah habis, karena pagi sudah saya baca semua,” terang dia.

Tidak ada rubrik khusus yang dia buru. Menurutnya setiap berita jadi incarannya membaca. “Sebetulnya berimbang, kalau lagi anget-angetnya politik misal ada pilkada dan sebagainya ya mengikuti,” terang kakek tiga cucu ini.

Menurutnya, Jawa Pos kini sudah lumayan dan banyak kemajuan. “Hampir mencakup seluruh Indonesia. Tetapi belum semua, biasanya yang penting saja. Kalau dulu itu masih sekitar Jawa saja, seperti Kalimantan jarang,” pungkas Samaun. (bersambung)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia