alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Pembagian Bansos Covid-19 di Desa Bandung Diwarnai Protes Warga

07 Juli 2020, 18: 28: 05 WIB | editor : Binti Rohmatin

KECEWA: Salah satu penerima bansos melakukan aksi protes di depan balai Desa Bandung kemarin

KECEWA: Salah satu penerima bansos melakukan aksi protes di depan balai Desa Bandung kemarin (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Proses pembagian bansos dampak Covid-19 di Desa Bandung, Kecamatan Diwek diwarnai protes. Salah satu warga mendatangi kantor desa dengan membawa sejumlah poster bernada protes.

Aksi itu dilakukan lantaran dia merasa diperlakukan kurang adil oleh pemdes terkait penyaluran bantuan.

Kepada sejumlah awak media, Zainuri, 50, warga Dusun Sugihwaras, Desa Bandung, Kecamatan Diwek mengaku kecewa, lantaran merasa ditelantarkan desa. Meski namanya masuk dalam daftar penerima bantuan, dia tetap merasa kecewa lantaran masuknya setelah ada usulan tambahan.

”Padahal saya sangat terdampak Covid-19, harusnya saya dapat sejak awal yang Rp 600 ribu, ini setelah saya protes akhirnya baru dapat yang Rp 200 ribu,” bebernya.

Aksi yang dilakukan Zainuri terbilang nekat. Sambil berjalan kaki dari rumah, dia menutupi sekujur tubuhnya dengan tempelan poster bernada protes terkait bansos di Desa Bandung.

Jarak rumahnya dengan kantor desa sekitar 1 kilometer. Sontak aksinya ini mengundang perhatian sejumlah warga yang hadir ke balai desa, termasuk para pengguna jalan yang melintas di Jl Raya Bandung.

Di depan balai desa, ia sempat menggelar mimbar bebas sendirian. Ia menyebut, aksinya ini merupakan cara penyampaian aspirasi. Ia bahkan menolak disebut aksinya ini demonstrasi.

”Saya tidak demo, saya sendirian kok, dan ini aspirasi saya pribadi. Saya kecewa kepada pemdes,” terangnya.

Zaenuri, menyebut selama lebih dari tiga bulan terakhir sudah nyaris frustasi lantaran seluruh pekerjaannya hilang dan berhenti akibat Covid-19.

Pria yang sehari-harinya bekerja jadi tukang pijat panggilan juga pengusaha warung kopi ini menyebut tak bisa mendapat uang semenjak pandemi Covid-19.

”Jadi kalau ngomong terdampak, saya sejak awal sudah jadi orang yang juga terdampak. Tapi dari desa apa tindakannya, tidak ada,” ucapnya.

Ia, mengaku kecewa lantaran tak masuk data penerima bansos sejak awal pandemi. Ia dan istrinya makin geram, tatkala mengetahui banyak warga lain di sekitarnya yang dirasa mampu justru lebih dulu mendapatkan bantuan ini.

”Saya tidak dapat apa-apa dari awal, padahal saya ini dililit hutang, penghasilan minim karena Covid-19. Tapi yang kaya, yang dekat sama perangkat desa justru dapat, menurut saya ini kan membingungkan,” imbuhnya.

Upayanya klarifikasi ke pemerintah desa disebutnya tak membuahkan hasil maksimal. Justru dia mengaku terlibat adu mulut dengan beberapa perangkat desa.

Kendati demikian, ia akhirnya diberikan bantuan setelah proses pemberian bansos di bulan ke tiga. ”Saya akhirnya dapat bansos yang dari Provinsi, yang Rp 200 ribu itu. Itu juga diberikan setelah ribut dulu.

Jadi kayaknya mereka (Pemdes, Red) malu,” tambahnya.

Aksinya ini sempat dihalau perangkat desa yang mempertanyakan alasannya menggelar aksi, padahal sudah mendapatkan undangan untuk menerima bantuan. Beruntung, kejadian ini berhasil diredam warga lain.

Zainuri tetap mengambil haknya yakni bansos APBD Provinsi Rp 200 ribu. Namun, ia menyebut tak akan menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadinya, bansos akan digunakan untuk makan-makan bersama tetangga dan kerabatnya.

”Uangnya diambil buat liwetan (makan-makan, Red) anak-anak yang di warung.

Bantuannya tidak layak, dapatnya juga terlambat, harusnya saya dapat yang pertama kok dapat yang terakhir. Saya sudah jengkel, karena hutang terlalu banyak. Rumah sudah saya tawarkan, saat ini sudah saya gadaikan” pungkasnya.

Data Penerima Sudah Melalui Musdes

SEMENTARA itu, Kepala Desa Bandung M Mukhtarom enggan menanggapi terkait aksi  protes yang dilakukan warganya itu. Sebab, terkait penerima bansos sudah dibahas dalam musdes, dan pemilihan penerima dilakukan langsung Kasun dan RT/RW.

”Sekali lagi kembali kepada Kasun, RT/RW yang memilih ini. Ya mungkin saja terjadi mas, warga ini dapat Rp 200 ribu yang itu dapat Rp 600 ribu ya kalau menurut saya itu sudah rejekinya masing-masing,” singkat Muhtarom. D

Dia mengatakan, seluruh penerima manfaat dari berbagai bansos itu sudah melalui proses yang seharusnya. Sejak awal dia mengusahakan seluruh warga yang terdampak pandemi Covid-19 menerima bantuan.

Total ada sekitar 1.900 orang saat itu yang dimasukkan usulan database desanya. Seluruh warga itu, diusulkan masing-masing kasun dan RT/RW kepadanya untuk dilakukan Musdes.

”Prosesnya juga panjang. Awalnya dulu boleh satu KK dua orang, yang penting terdampak. Tapi ada surat susulan lagi yang isinya satu KK hanya boleh satu penerima bantuan. Usulan kami juga dipangkas, tidak seluruhnya masuk,” lanjutnya.

Dari 1.900 usulan penerima itu, ia menyebut tak sampai 50 persen yang dapat bantuan. Ia merinci total ada 881 orang penerima bansos Covid-19 di desanya saat pembagian pertama dilakukan.

”Itupun dibagi tiga, jadi BLT Kemensos, BT DD juga BLT APBD Kabupaten itu totalnya 881. Bahkan untuk penerima bansos yang Kemensos ada 374  juga bukan pendataan dari kami, itu langsung turun dari kabupaten,” tambahnya.

Setelah sempat gaduh, barulah ada tambahan penerima bantuan untuk BLT APBD Provinsi. Itupun jumlah penerimanya tidak banyak. ”Hanya 96 orang yang tambahannya ini memang,” imbuhnya.

(jo/riz/bin/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia