alexametrics
Selasa, 04 Aug 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Mengenang Sosok KH Agus Muhammad Zaki Hadzik, Cucu KH Hasyim Asy’ari

05 Juli 2020, 16: 42: 39 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

SUPEL: Sosok almarhum KH Agus Muhammad Zaki Hadzik Pengasuh Ponpes Putri Al –Masruriyah.

SUPEL: Sosok almarhum KH Agus Muhammad Zaki Hadzik Pengasuh Ponpes Putri Al –Masruriyah. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - KH Agus Muhammad Zaki Hadzik atau yang akarab disapa Gus Zaki wafat di usia 48 tahun, Rabu (1/7). Cucu hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Timur. Ia juga aktif di berbagai organisasi NU di Kabupaten Jombang.

Gus Zaki lahir di Jombang 13 agustus 1972 dari pasangan KH M Hadziq Mahbub dan Nyai Khadijah binti KH M Hasyim Asy’ari dari Ketanggungan Brebes. Khadijah adalah saudara dari KH A Wahid Hasyim, ayah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Menurut KH Fahmi Amrullah Hadzik (Gus Fahmi) pengasuh pondok putri Tebuireng yang juga kakak kandung Gus Zaki menceritakan, jika mereka memiliki tiga saudara. Anak pertama, Muhammad Ishomuddin Hadziq (Gus Ishom) dan anak terakhir KH Agus Muhammad Zaki Hadzik. ”Jadi saya putra kedua,” ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang (4/7).

Sama seperti anak pada umumnya, Gus Zaki mengawali pendidikan dasarnya di SDN Cukir 1 lulus 1984. Kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo selama enam tahun mulai Madrasah Tsanawiyah hingga Aliyah. Setelah lulus Aliyah, ia melanjutkan ke Universitas KH Hasyim Asy’ari Fakultas Dakwah.

”Setelah lulus kuliah, Gus Zaki kemudian meneruskan hobinya yang pandai berdagang sejak muda. Saudara saya Gus Ishom dan Gus Zaki memang suka berdagang,” papar dia.

Selain itu, Gus Zaki juga dikenal pandai mengoperasikan IT. Ia sering menjual beberapa perangkat lunak maupun keras komputer untuk bisnisnya. ”Dia sering menjual ke teman-temannya, beliau memang suka komputer meski belajarnya otodidak,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Gus Ishom anak pertama dari Hadziq wafat 2003 silam. Gus Ishom juga meninggalkan beberapa kitab peninggalan KH Hasyim Asy’ari. Almarhum kemudian mewariskan kepada Gus Zaki. ”Sampai sekarang Gus Zaki yang merawat kitab Mbah Hasyim, dan mungkin nanti saya minta anak-anaknya untuk melanjutkan setelah Gus Zaki wafat,” tandas dia.

Gus Zaki menikah dengan Hj Nyai Eka Susanti 1997 silam. Dalam pernikahan yang sudah berjalan 23 tahun ini mereka dikaruniai lima anak.

Supel dan Pekerja Keras

KH Agus Muhammad Zaki Hadzik atau yang akrab disapa Gus Zaki dikenal supel dengan semua orang. Sebagai pengasuh Pondok Putri Al Masruriyah, ia tak pernah segan atau malu berkumpul dengan siapapun. Mulai kalangan tukang becak hingga pejabat.

”Orangnya gampang supel dengan orang lain, mulai dari tukang becak sampai pejabat,” ujar Gus Fahmi kakak kandung Gus Zaki kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (4/7).

Karena kesupelannya, Gus Zaki kemudian dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Timur sejak 2018 lalu. ”Hal itu yang membuat beliau menjadi Ketua RMI NU Jatim. Karena untuk meraih itu kan tidak mudah,” papar dia.

Selama menjadi ketua RMI Jatim, ia sering membuat agenda menarik. Mulai dari agenda silaturahmi Gus dan Ning se-Jatim serta perkumpulan Nyai se-Indonesia. Hal itu membedakan sosok kepemimpinan Gus Zaki dengan pemimpin RMI Jatim sebelum-sebelumnya yang masih mengutamakan kegiatan seremonial.

”Kemarin ada teman-teman RMI yang kesini, mereka cerita sejak RMI dipegang beliau perkembangannya luar biasa, beliau sudah dua tahun ini di RMI menggantikan Gus Reza yang sebelumnya dari Lirboyo,” papar dia.

Selain ketua RMI Jatim, Gus Zaki juga dikenal aktif sebagai Wakil Ketua PCNU Jombang dan pengurus Ansor Jombang. ”Memang beliau juga aktif di Ansor dan PCNU,” tambahnya.

Gus Zaki juga dikenal sosok kiai yang pekerja keras. Itu diketahui dari sifatnya yang ringan tangan terhadap orang yang membutuhkan bantuan. Bahkan ia sering lembur membantu pondok mengerjakan penyusunan proposal. ”Selain itu, beliau masih sering membantu pondok lain untuk membuatkan laporan semisal pengajuan proposal hingga pengajuan bantuan,” tandas Gus Fahmi.

Selamat Jalan Gus Zaki

DIMATA keluarga, Gus Zaki begitu spesial. Menurut Gus Fahmi, Gus Zaki sangat mudah akrab dengan siapapun sehingga baginya bisa menjadi partner hingga saudara yang bisa memberikan solusi kala ada masalah.

”Beliau orangnya baik, suka membantu dan selalu bisa memberikan solusi. Dibandingkan dengan beliau, saya tidak ada apa-apanya,” ujar dia. Sejak muda, lanjutnya, kiprah Gus Zaki memang cenderung aktif di luar pondok. Mulai dari PCNU, RMI maupun hubungan dengan pondok lain. ”Kami memang sudah komitmen beliau yang aktif di luar pondok, sedangkan saya fokus mengurus pondok saja,” tambahnya.

Gus Zaki sendiri wafat Rabu (1/7) di RSUD Jombang. Sebelumnya, Senin malam, Gus Zaki sempat dirawat di Pusat Kesehatan Pesantren Tebuireng. ”Beliau suspect DB dan saya jenguk Selasa pagi, namun karena kondisinya tidak baik jadi kita tidak ngobrol,” papar dia.

Sebelum meninggal, ia merasa dilanda kecemasan selama dua hari. Bahkan, saat ia menjalankan salat hingga rapat dengan keluarga pondok selalu merasa cemas. ”Akhirnya jawaban dari kecemasana dijawab oleh Allah SWT pada Rabu petang itu, saya mendapat kabar kalau Gus Zaki wafat,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia