alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarjombang
Home > Events
icon featured
Events
Edisi Khusus Ulang Tahun ke-6

Kesan Para Pembaca Setia Jawa Pos Radar Jombang (35); drg Budi Nugroho

Punya Kenangan Emosional

01 Juli 2020, 13: 23: 17 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kepala Bappeda Kabupaten Jombang drg Budi Nugroho

Kepala Bappeda Kabupaten Jombang drg Budi Nugroho (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Jawa Pos bagi Kepala Bappeda Kabupaten Jombang drg Budi Nugroho tak sekadar media massa. Namun baginya Jawa Pos adalah teman yang pernah berjuang bersama di masa lalu. Kisah itu terukir saat gempa bumi disertai tsunami di Flores 12 Desember 1992 silam.

Di salah satu ruang kerja kantor Bappeda Kabupaten Jombang, dengan mata berkaca-kaca Budi bercerita tentang kisah masa lalunya bersama Jawa Pos. “Ceritanya bermula dari gempa bumi berkekuatan 6,8 SR yang mengguncang utara Flores. Kejadiannya 1992, saat itu saya masih berdinas sebagai dokter di sana,” ungkapnya.

Budi mengaku awal masuk Flores 1989. “Saya pengangkatan PNS dokter melalui Kementerian Kesehatan dan ditugaskan di RSUD Dr TC Hillers Maumere. Kemudian 1992 terjadi gempa hebat, ada tsunaminya juga. Alhamdulillah, saya adalah salah satu korban yang selamat,” lanjutnya. Adanya musibah tersebut, Jawa Pos bersama RS Dr Soetomo Surabaya mengirimkan bantuan logistik dan tenaga medis.

“Saya bertemu dengan relawan dari Surabaya, dan tergabung sebagai tim dokter untuk menangani korban. Seingat saya korban meninggal 2.000 orang lebih, 400 orang luka-luka, dan ribuan mengungsi,” tambahnya. Dari peristiwa ini, Budi mengaku banyak menyimpan kenangan bersama Jawa Pos. “Tidak hanya sekadar koran untuk dibaca, tapi (Jawa Pos) juga teman perjuangan,” kenang Budi.

Namun takdir berkata lain. Di tengah masa rekonstruksi Flores usai bencana gempa dan tsunami, Budi harus pindah tugas ke Kabupaten Jombang. “Saya masuk Jombang 1993 dan berdinas di Puskesmas Perak. Tinggal di rumah kos, saya kemudian berlangganan koran Jawa Pos,” ujar bapak tiga anak ini.

Selain karena hobi membacanya, Budi mengaku bisa mendapatkan update informasi dan perkembangan penanganan bencana di Flores. “Jawa Pos terus mengupdate berita-berita mengenai gempa dan tsunami di sana, bahkan sampai 1994 masih terus update. Karena memang bencananya sangat hebat, jadi butuh waktu lama untuk pemulihan wilayah yang terkena gempa,” terangnya.

Kebiasaan membaca Jawa Pos itu bertahan hingga sekarang. Meskipun, pada periode 1998-1999 kebiasaan Budi membaca Jawa Pos sempat terhenti karena harus menempuh pendidikan di University of Southern California (USC) Los Angeles, California. “Selama di Amerika saya tidak bisa membaca Jawa Pos, saat itu juga belum ada versi online seperti sekarang. Tapi istri di rumah tetap berlangganan Jawa Pos,” lanjutnya.

Selama menjadi pembaca setia, Budi mengaku Jawa Pos dan Radar Jombang termasuk media massa yang konsisten menjaga independensi. “Jujur saja, saya ini berhutang budi kepada Jawa Pos dan Radar Jombang. Kontrol sosialnya seolah menyelamatkan saya, baik secara pribadi maupun institusi. Dalam beberapa hal, dari mulai saya jadi kepala DPPKAD sampai sekarang di Bappeda,” tambah Budi.

Untuk itu dirinya meminta Jawa Pos dan Radar Jombang tetap menjaga independensi. “Bagi saya Jawa Pos dan Radar Jombang masih punya banyak peluang untuk mengembangkan bisnis. Apalagi di era teknologi yang maju seperti sekarang, sudah saatnya mengembangkan media secara digital. Tapi koran tetap ada,” pungkasnya. (bersambung)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia