alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Miris, Petani di Jombang Berjuang Sendiri Atasi Serangan Hama Tikus

29 Juni 2020, 17: 47: 56 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Aktivitas petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Aktivitas petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Di tengah pandemi korona, para petani dibuat kebingungan menghadapi serangan hama tikus. Selama ini petani berjuang sendiri, sebab sepinya bantuan dari pemerintah.

Seperti yang diungkapan Jumain, petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben menyebut selama ini berjuang sendiri mengatasi hama tikus. Dia pun berharap ada bantuan ke petani. ”Harapannya ada bantuan, entah itu racun atau apa. Kalau di sini belum ada,” katanya.

Tak ingin gagal tanam, dia harus merogoh kocek lebih dalam guna menanggulangi serangan hama tikus. “Semuanya beli, makanya sekarang pakai setrum,” imbuh dia.

Menurutnya, meski sudah dilakukan gerakan gropyokan bersama, namun cara itu dirasa kurang efektif. “Lebih kelihatan pakai jebakan setrum ini,” beber dia.

Hal serupa juga diungkapkan Langgeng, petani di Kecamatan Bareng. Dua minggu terakhir hama tikus menyerang tanaman padi miliknya. Khawatir padi semakin rusak, dia akhirnya memasang jebakan tikus dengan aliran listrik. “Dua minggu lalu pakai setrum listrik, tapi tidak nyalur ke rumah. Jadi pakai genset,” katanya.

Genset lanjut dia, difungsikan saat sore hingga malam hari. “Nyala mulai pukul 16.00 sampai 22.00,” sebut dia.

Meski sadar akan dampak bahaya, cara itu dirasa lebih efektif. Sebab setiap harinya terdapat tikus yang mati tersengat jebakan yang dipasang. “Kalau yang awal-awal dulu itu sampai 80 ekor per hari, akhir-akhir ini sekitar 10 sampai 20 ekor. Pokoknya setiap hari mesti ada yang mati,” papar dia.

Sebelumnya, banyaknya serangan hama tikus yang menyerang petani di Jombang dibenarkan pihak Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Jawa Timur di Jombang. Bahkan serangannya hampir merata, paling banyak wilayah yang berhimpitan dengan jalan tol.

“Memang akhir-akhir ini tikus membuat resah petani, jadi serangannya merata. Mulai Kesamben, Sumobito, Tembelang, Megaluh sampai Jombang ini juga ada, Perak serta Bandarkedungmulyo. Pokoknya yang dekat dengan tol ini yang paling banyak,” terang Sutami Koordinator POPT Jawa Timur di Jombang  saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jombang Kamis (25/6) kemarin.

Meski belum bisa menyebut luasan areal lahan yang terserang, menurut dia daerah yang berhimpitan dengan jalan tol dirasa paling terdampak. “Karena apa? Kita sinyalir tol ini jadi sarang tikus. Karena disampingnya itu kan ada tanah kosong, sementara kita mau pengendalian tidak bisa,” imbuh dia.

Dorong Disperta Pro Aktif

SEMENTARA itu, banyaknya keluhan para petani terkait serangan hama tikus mendapat respons kalangan dewan. Komisi B DPRD Jombang akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang.

”Memang di tingkat petani masih banyak yang mengeluhkan hama tikus,” ujar Sunardi, Ketua Komisi B DPRD Jombang kemarin.

Pihaknya, sudah melakukan pemantauan khususnya di daerahnya, lantaran juga ada serangan hama tikus. ”Kami harap ada laporan dari petani apabila ada serangan hama tikus,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan meminta data ke dinas, kecamatan mana saja yang seranganannya cukup parah dan bagaimana langkah dinas yang sudah dilakukan. ”Kalau memang ada laporan dinas bisa melakukan bantuan seperti obat tikus dan lain sebagainya,” tegasnya.

Terlebih lagi, kondisi saat ini cukup sulit. Sehingga apabila petani sampai gagal panen, maka akan mengancam ketahanan pangan di Jombang. Sehingga, harus benar-benar diperhatikan serius. ”Jangan sampai petani nantinya merugi karena dampak serangan hama tikus,” ungkapnya.

Rohmat Abidin anggota Komisi B menambahkan, apabila tidak segera ditangani maka petani mengalami kerugian bahkan bisa terancam gagal panen. ”Harus ada penanganan kontinyu, jangan hanya ada saat musim tanam saja. Jadi harus terus menerus,” tambah Rohmat

Dia berharap, Disperta punya solusi tepat dalam menangani serangan hama tikus. Selain itu, dinas juga harus turun langsung ke lapangan. ”Fungsi penyuluh itu harus benar-benar dioptimalkan,” tegas dia.

Lebih dari itu, selanjutnya ke depan ada sosialisasi kepada petani untuk penanganan hama tikus. Selain bisa menangani serangan tikus sendiri, nasib petani juga lebih diperhatikan agar bisa menikmati hasil panen. Dengan begitu, petani menjadi lebih mandiri dalam mengatasi hama tikus maupun wereng yang setiap tahun menjadi momok. ”Memang harus ada perhatian lebih untuk petani,” pungkas Rohmat.

(jo/fid/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia