alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Olah Limbah Jadi Miniatur Sepeda; Awalnya Iseng, Kini Usaha Andalan

29 Juni 2020, 17: 43: 58 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KREATIF: Aji Wahyu Santoso, 23, warga Desa Sudimoro,Kecamatan Megaluh sudah empat tahun menekuni kerajinan miniatur kendaraan unik.

KREATIF: Aji Wahyu Santoso, 23, warga Desa Sudimoro,Kecamatan Megaluh sudah empat tahun menekuni kerajinan miniatur kendaraan unik. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Asal mau kreatif, limbah rumah tangga bisa diolah menjadi kerajinan menarik dan bernilai ekonomis. Adalah Aji Wahyu Santoso, 23, pemuda asal Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang mulai berdikari dengan produk kerajinan miniatur sepeda dari bahan sampah.

Tepatnya sejak 2016, Aji mulai tertarik membuat kerajinan miniatur sepeda dari bahan sampah. Ide kreativitasnya terinspirasi dari sampah kartu seluler yang berserakan di rumah.

Remaja lulusan SMKN 3 Jombang ini akhirnya terbesit untuk memanfaatkan barang-barang tak terpakai di rumahnya untuk membuat miniatur sepeda. ”Pandangan saya, bagaimana agar limbah-limbah ini memiliki nilai jual,” ujar Aji kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (28/6).

UNIK: Beberapa miniatur sepeda yang dibuat Aji Wahyu Santoso mulai model klasik hingga modern.

UNIK: Beberapa miniatur sepeda yang dibuat Aji Wahyu Santoso mulai model klasik hingga modern. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Tak berhenti sampai di situ, dia pun mulai membuat konsep kerajinan miniatur sepeda pertamanya. ”Pertama saya buat miniatur sepeda motor Honda 75,” bebernya.

Setelah konsep jadi, dia pun mulai mengumpulkan barang-barang dari sampah untuk merealisasikan idenya. Beberapa diantaranya, sampah kartu seluler, pipa, sandal serta perkakas lainnya. Pertama-tama dia membuat bagian rangka sepeda. Limbah kartu seluler dia potong sesuai mengikuti pola gambar miniature sepeda yang dia inginkan.

Sedangkan untuk jok sepeda, roda, stang, pedal hingga gir sepeda, ia tetap memanfaatkan bahan kartu perdana ditambah dengan bahan pipa bekas, karet sandal, sedotan minuman dan jarum.

Seluruh komponen sepeda yang telah terbentuk, kemudian dirangkai menggunakan lem besi sebagai perekatnya. 

Agar terlihat lebih detail layaknya sepeda, Aji mewarnainya dengan menggunakan cat semprot dan menambahkan sejumlah asesoris. ”Awalnya memang agak jelek, ada yang bagian jok (tempat duduk) kurang simetris, hingga pewarnaan yang belepotan,” tambahnya.

Namun hal itu tak membuat Aji patah semangat, dia terus mencoba mengotak- ngatik dengan desain lain. ”Kemudian, saya mencoba sepeda ontel dengan desain yang lebih mudah,” papar dia.

Dari situlah Aji mulai berkibar. Belajar dari setiap kekurangan dalam membuat miniatur, satu persatu produk miniatur sepeda ontel Aji selesai dibuat. ”Alasan saya membuat miniatur sepeda karena penggemarnya di Indonesia kan cukup banyak, sehingga saya ingin menyasar pasar itu,” terangnya.

Setelah sejumlah produk miniatur sepeda buatannya selesai, dia pun iseng memasarkannya. Selain melalui medsos, dia pun kadang memasarkan produknya di tempat-tempat keramaian. ”Misal di car free day, ternyata lama kelamaan banyak yang tertarik, dari situlah timbul keinginan untuk mengembangkan usaha ini,” terangnya.

Hingga empat tahun berjalan ini, Aji sudah menjual ribuan minatur ke berbagai penjuru di Indonesia. Kehadiran e-commerce dan media sosial membantunya memasarkan produk miniatur sepeda ke berbagai daerah. Tak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa penggemar miniatur sering memesan dengan model yang agak rumit. ”Selain sepeda ontel, kini  pesanan model baru seperti sepeda MTB, sepeda lipat juga saya layani,” jelas dia.

Beda model beda pula tingkat kerumitan, namun setelah empat tahun menekuni pembuatan miniatur tangannya semakin luwes dan lihai saat memotong, merakit. Produknya pun kian beragam. ”Kalau desain yang rumit biasanya saya lihat model di internet,” pungkasnya.

Miniatur Sepeda Brompton Paling Laris

MESKI menggunakan bahan baku sampah rumah tangga, produk miniatur sepeda karya Aji tak kalah bagus dengan merek aslinya. Contohnya, saat membuat sepeda lipat jenis brompton asal London yang terkenal dengan mahalnya. Aji bisa meniru dengan hasil hampir mirip aslinya.

”Memang, untuk sepeda lipat banyak pesanan akhir-akhir ini sejak adanya korona,” ujar dia.

Dia mengaku, berbagai pesanan datang masuk ke pesan chat-nya sejak sepeda jadi tren. Karena tak bisa membeli aslinya, banyak penggemar sepeda brompton melirik miniaturnya. ”sementara ini, sudah ada lima orang yang pesan model brompton,” tambahnya.

Jika sepeda brompton asli dibandrol hingga Rp 100 juta, miniatur Aji hanya dijual antara Rp 50 ribu – Rp 200 ribu tergantung tingkat kerumitannya. Bahan bahan yang digunakan pun bervariatif, mulai pipa, bekas korek api, jarum pentul, hingga kartu bekas perdana yang ia dapat dengan harga Rp 100 dari beberapa outlet penjual kartu seluler.

”Kalau yang model biasa kami jual dengan Rp 50 ribu, kalau model klasik yang rumit biasanya Rp 200 ribu dengan pewarnaan pilox atau air brush sesuai permintaan,” papar dia.

Seiring tingginya permintaan dari pelanggan, Aji mengaku mulai kewalahan. Dia pun merekrut satu temannya untuk membantu pekerjaannya. ”Untuk beberapa model klasik saya jual online, mulai lewat medsos maupun jualan lewat market place,” papar dia.

Per hari, selama masa pandemic korona omzetnya juga meningkat mulai Rp 100-200 ribu. ”Memang sejak korona banyak yang pesan, dan alhamdulillah sekarang jadi usaha andalan saya,”pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia