alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Tak Pernah Dijenguk Dokter, Pasien Reaktif ‘Murka’ ke Bupati Jombang

29 Juni 2020, 15: 17: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Potongan video telekonferensi Bupati Mundjidah dengan perwakilan pasien. Pasien banyak mengeluhkan penanganan di rumah isolasi yang dinilai tak jelas.

Potongan video telekonferensi Bupati Mundjidah dengan perwakilan pasien. Pasien banyak mengeluhkan penanganan di rumah isolasi yang dinilai tak jelas. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Penanganan pasien Covid-19 di rumah isolasi gedung Tenis Indoor patut dievaluasi. Itu setelah beredar video telekonferensi Bupati Mundjidah dengan perwakilan pasien. Pasien banyak mengeluhkan penanganan di rumah isolasi yang dinilai tak jelas.

Dalam video berdurasi 13 menit itu, terlihat salah satu pasien menghadap kamera yang tersambung langsung dengan Bupati Mundjidah. Seolah sudah melakukan persiapan, salah satu perwakilan pasien penghuni rumah isolasi terlihat membawa secarik kertas berisikan keluhan-keluhan yang dirasakan pasien.

Sambil duduk dan dikerumuni sejumlah pasien lainnya, pasien yang mengaku asal Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng menyampaikan beberapa keluhan.

Di antaranya beban ekonomi keluarga. Sejak menjalani proses isolasi di gedung Indor, dia pun mengeluhkan nasib keluarganya di rumah yang disebutnya kelimpungan mencari memenuhi kebutuhan sehari-hari.

”Contohnya yang laki-lakinya di sini, istrinya makan apa, anaknya makan apa wong tidak ada jaminan dari desa untuk kebutuhan hidup mereka. Jangan-jangan sini yang selamat tapi banyak di rumah malah mati karena nggak bisa makan bu,” lanjutnya.

Selain itu, banyak OTG (orang tanpa gejala) yang menghuni rumah isolasi, terancam kehilangan pekerjaan lantaran dikeluarkan dari tempat kerja.

Tak hanya itu, dalam rekaman video itu, dia juga mengeluhkan penanganan pasien dirasa jauh dari maksimal. Dia pun menyoroti sepinya dokter menyambangi pasien.

”Selama ini selama kami ditaruh sini, tidak ada dokter spesialis atau dokter ahli apapun yang menjenguk kita. Jadi kita cuma dikumpulkan saja tanpa perawatan dan pengawasan yang jelas,” tambah pria yang mengaku berasal dari Kecamatan Bareng ini.

Parahnya lagi, beberapa pasien yang sudah terkonfirmasi hasil test swab positif tidak segera dievakuasi sehingga tetap dibiarkan berbaur dengan pasien OTG lain. ”Mereka (yang positif,Red) cuma diletakkan di pojokan saja. Lha ini bagaimana padahal makan ya kita satu piring, kumpul setiap hari dengan pasien yang lain,” imbuhnya.

Selain itu, usai dilakukan uji swab, pasien juga kebingungan mengambil hasil. Sebab, alurnya tidak jelas. ”Ambil hasil swab kemana tidak jelas, katanya nunggu Surabaya, ambil ke puskesmas, ke RSUD nggak jelas,” bebernya.

Tak hanya mendengar, bupati Mundjidah terlihat beberapa kali menyahuti penyampaian pria yang terpampang di layar. Termasuk menanyakan identitas dan tempat tinggalnya.

Tak berhenti sampai di situ saja, perwakilan pasien ini juga mempertanyakan penanganan pasien yang usianya masih di bawah lima tahun. ”Di sini ada anak usia kira-kira 2 tahun dan 4 tahun yang dikarantina, tapi orang tuanya tidak ikut. Tidak ada yang merawat, akhirnya ya tetangganya yang di sini yang merawat,” imbuhnya.

Selin itu, dia juga menerima laporan nasib salah satu keluarga pasien yang mendapat perlakukan tak wajar dari lingkungannya. ”Ada juga keluarga pasien di sini dari Desa Kedungbetik yang anaknya diasingkan di rumah kosong sama pemerintah desanya,” pungkasnya.

Diakhir penyampaiannya, dia pun menyampaikan permohonan kepada bupati agar segera menindaklanjuti permasalahan ini. ”Mohon ibu bupati, mewakili teman-teman pasien OTG di sini, tolong kami lebih diperhatikan, khusunya keluarga kami di rumah,” singkatnya yang diamini sejumlah penghuni rumah isolasi lainnya.

Hanya Tugaskan Perawat di Tenis Indoor

SEMENTARA itu, dr Pudji Umbaran, Koordinator Bidang Penanganan Gugas PP Covid-19 Jombang membenarkan video telekonferensi antara Bupati Mundjidah Wahab dengan pasien reaktif yang menghuni rumah isolasi gedung Tenis Indoor.

”Kemarin siang memang ibu bupati bilang ingin telekonferensi dengan pasien di Indoor, tapi saya tidak mengikuti, sehingga saya sendiri tidak tahu isi dari telekonferensi tersebut seperti apa,” ungkap dr Pudji Umbaran kemarin.

Disinggung keluhan pasien terkait sepinya dokter yang ditugaskan berjaga di rumah isolasi gedung Tenis Indoor, Ia tak menampik. ”Dokter hanya datang ketika ada keluhan dari pasien saja,” bebernya.

Meski begitu, dia menyebut sudah menempatkan tenaga kesehatan perawat di lokasi. ”Benar memang di sana yang jaga hanya tenaga kesehatan perawat saja, kalau ada keluhan bisa lapor ke tenaga kesehatan yang berjaga di sana,” ungkap dr Pudji.

Setiap hari, lanjutnya, petugas kesehatan yang berjaga akan melaporkan ke dokter spesialis yang ada di RSUD Jombang. ”Sejauh ini kondisinya baik-baik saja, tidak ada keluhan, dokter ke sana memang kalau ada keluhan yang perlu ditangani,” tambahnya.

Berbeda dengan rumah isolasi Stikes Pemkab, di sana ada dokter yang jaga karena di sana merupakan pasien yang sudah dinyatakan positif Covid-19. 

Keluhan lain seperti pasien yang hasil uji swab sudah keluar namun tidak segera ada petugas yang menjemput, sehingga berbaur dengan pasien OTG lain. Dia beralasan terkendala kesiapan lokasi.

”Kondisinya semalam memang masih ada penataan ruang di Stikes, mengingat kapasitas Stikes Pemkab sudah penuh.  Jadi baru kita tata semuanya hari ini, harus ada penataan ulang, tapi hari ini sudah dipindahkan,” jelasnya.

Lebih rinci ia menjelaskan, tidak jauh berbeda perlakukan antara pasien yang dirawat di rumah isolasi Stikes Pemkab maupun di Tenis Indoor. Mengenai menu makan sehari-hari misalnya, semua sama, menggunakan box, sehingga tidak terjadi saling tukar tempat makan. ”Kita juga beri suplemen tapi namanya apa saya kurang tahu, yang jelas isinya vitamin C dan Vitamin B Komplek,” pungkasnya.

Bupati Harus Cepat Tanggap

SEMENTARA itu, beredarnya rekaman video curhat pasien di rumah isolasi gedung Tenis Indoor juga mengundang respons dewan. Para wakil rakyat mendesak bupati segera menindaklanjuti dengan serius.

”Ini kan bupati sudah mendengarkan langsung dari pasien yang terdampak, jadi diharapkan memang bupati bisa cepat tanggap,” ujar M Syarif Hidayatullah, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jombang kemarin.

Menurutnya, pemkab sudah menganggarkan anggaran besar guna percepatan penanganan Covid-19, sehingga dia meminta penanganan pasien harus maksimal. ”Terlebih lagi di video itu ada yang mengeluhkan terkait kebutuhan makan dan tidak ada dokter yang menangani, ini harus jadi perhatian serius dari pemkab,” tegasnya.

Dia khawatir, kejadian seperti ini juga akan menimbulkan efek trauma di masyarakat, sehingga mereka takut memeriksakan diri ke petugas. ”Kalau seperti ini akan menjadi ketakutan di masyarakat. Sekarang masyarakat saja takut apabila mau periksa. Karena takut untuk dikarantina,” terangnya.

Selain itu, dirinya meminta Pemkab agar menjamin atau memberi bantuan untuk keluarga pasien yang menghuni rumah karantina. ”Karena masyarakat mau dikarantina karena keluarga yang ditinggal itu dijamin. Sekarang malah tidak mendapat perhatian,” katanya.

Dirinya juga menanyakan terkait hasil uji swab. Pasalnya sudah ada PCR, seharusnya hasilnya bisa cepat keluar. Ia juga mengungkapkan, pemerintah desa juga harus memberikan sosialisasi ke masyarakat, jangan sampai mengucilkan warga yang keluarganya dikarantina.

”Ini penyakit bukan aib, kenapa harus dikucilkan harusnya pemerintah desa bisa memberikan sosialisasi yang baik agar masyarakat bisa saling mendukung,” pungkas pria yang kerap disapa Gus Sentot tersebut.

Sebagai langkah, dia pun akan membawa permasalahan ini ke internal komisi. ”Kalau perlu kami akan tindaklanjuti ke lapangan,” singkatnya.

(jo/riz/wen/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia