alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Pusing dengan Tikus, Petani Jombang Pasang Setrum Hingga Sewa Penembak

28 Juni 2020, 13: 58: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Aktivitas petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Aktivitas petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang dibuat pusing. Itu setelah benih padi yang akan ditanam, habis diserang hama tikus. Tak sedikit dari mereka yang memasang setrum dan menyewa juru tembak.

“Sekarang pinian (benih padi, Red) banyak yang kena tikus,” keluh Jumain, salah seorang petani. Benih padi yang sudah disemai dan tumbuh beberapa minggu lalu, diserang tikus. Dia kemudian memasang bedengan semacam plastik sebagai tembok penghalang.

Diceritakan, benih padi miliknya diantaranya diserang tikus sehingga dipasang bedengan sejak beberapa minggu lalu. “Tikusnya itu ngincer dongkel padi. Jadi dijebol terus dimakan dongkel yang ada gabahnya, daun tetap dibiarkan,” imbuh dia.

Kalau sudah begitu, maka tanaman padi dipastikan mati. Sehingga tak bisa lagi ditanam. “Sudah pakai racun sama tetes,” sambung Jumain. Penggunaan racun dan tetes yang diharapkan bisa membasmi tikus, ternyata juga tidak mempan. Serangan tikus justru meluas.

Sehingga mereka memasang tembok berlapis yang terbuat dari plastik. Kini hampir di setiap persemaian padi, selalu dipasang alat setrum listrik. Kabel semacam kawat yang terpasang melingkari di semua sisi benih. Sementara di samping terdapat bedengan itu.

“Lebih banyak yang dipasang setrum. Soalnya kalau sudah ditanam di sawah, banyak yang tidak berani, khawatir kena orang,” terang dia. Disampaikan, alat setrum itu akan menyala hanya ketika malam hari. “Pokoknya setelah maghrib sampai subuh. Setelah itu dimatikan listriknya,” terangnya.

Menurut dia, cara itu dirasa cukup ampuh karena hampir di setiap pagi ada beberapa tikus yang mati kesetrum. “Awal dulu sampai ada 20 ekor tikus, kalau sekarang tidak mesti. Biarpun tidak banyak pasti ada yang kena,” beber dia.

Langkah itu dirasa paling akhir setelah memasang racun juga tidak mempan. “Kalau racun itu ngasih pakan setiap hari, nggak ngatasi,” papar Jumain.

Senada disampaikan Erton petani asal Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben yang mengaku serangan tikus sekarang ini luar biasa. Padi yang rusak meluas hampir di semua titik. “Akhir-akhir ini muncul lagi, soalnya sudah mulai musim tanam,” katanya.

Dia sendiri sebelumnya sudah berupaya agar tanaman padi bisa terselamatkan. Tahun lalu misalnya, menyewa juru tembak tikus. “Desember tahun lalu itu sewa penembak buat buru tikus, satu ekornya diberi Rp 1.500,” papar dia.

Saat itu lokasi yang dituju sawah berdekatan dengan jalan tol. “Waktu itu dapat 2.800 ekor tikus, sementara yang di Kandangan dapat 1.800 ekor,” sebut Erton. Namun, saat ini jasa juru tembak tidak dilakukannya lagi karena sebagian besar petani lebih memilih memasang setrum listrik. “Katanya lebih efektif pakai setrum, istilahnya cara terakhir. Kalau sewa penembak juga bayar, pakai racun juga tidak efektif,” pungkasnya.

Sebelumnya, serangan hama tikus yang menyerang petani di Jombang dibenarkan pihak Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Jawa Timur di Jombang. Bahkan serangannya hampir merata dan paling banyak di wilayah yang berhimpitan dengan jalan tol.

“Memang akhir-akhir ini tikus membuat resah petani, jadi serangannya merata. Mulai Kesamben, Sumobito, Tembelang, Megaluh sampai Jombang ini juga ada, Perak serta Bandarkedungmulyo. Pokoknya yang dekat dengan tol yang paling banyak,” terang Sutami Koordinator POPT Jawa Timur di Jombang.

Meski belum bisa menyebut luasan areal lahan yang terserang, menurut dia daerah yang berhimpitan dengan jalan tol dinilainya paling terdampak. “Karena apa? Kita sinyalir tol ini jadi sarang tikus. Karena disampingnya kan ada tanah kosong, sementara kita mau pengendalian tidak bisa,” imbuh dia.

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia