alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Ekonomi Keluarga Kacau, Karantina Pasien Reaktif Rapid Test Dikeluhkan

25 Juni 2020, 14: 01: 05 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: Gedung tenis indoor yang menjadi tempat isolasi warga dengan hasil rapid test reaktif.

ILUSTRASI: Gedung tenis indoor yang menjadi tempat isolasi warga dengan hasil rapid test reaktif. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Sejumlah anggota pasien mengeluhkan langkah Gugus Tugas Percepatan Penanganan (PP) Covid-19 yang melakukan karantina terhadap warga hasil rapid test reaktif. Mereka mengeluh lantaran selama dikarantina tak ada yang bertanggungjawab mengenai kondisi ekonomi keluarga mereka.

Data yang dihimpun wartawan koran ini, setidaknya ada empat warga yang mengeluhkan karena anggota keluarga dikarantina dengan waktu yang belum bisa ditentukan. Salah satunya diakui ST, 40, warga Desa/Kecamatan Peterongan.

Saat ini istrinya, LK sedang menjalani isolasi di gedung Tenis Indoor setelah hasil rapid test dinyatakan reaktif seminggu lalu. ”Jadi ceritanya istri saya kan ikut rapid test di Pasar Peterongan dan hasilnya reaktif. Namun setelah itu tiba-tiba dilakukan karantina oleh petugas dari puskesmas,” ujar dia.

Istrinya adalah pedagang pasar Peterongan yang mengikuti rapid test masal yang diadakan Pemerintah Provinsi  Jatim beberapa waktu lalu. ”Padahal kalau reaktif kan belum tentu positif Covid-19, kemudian saya minta untuk isolasi mandiri di rumah tidak boleh,” keluhnya.

Padahal, lanjut dia, istrinya tak mengalami gejala apapun. Baik batuk, sesak napas maupun panas. ”Dia sehat-sehat saja, dan saya inginnya isolasi mandiri di rumah sembari menunggu hasil uji swab turun,” tambahnya. 

Hal senada juga disampaikan MS, 37. Warga Desa/Kecamatan Peterongan juga mengeluhkan langkah Gugas PP yang melakukan isolasi terhadap istrinya di gedung Tenis Indoor. ”Istri saya setiap harinya jualan tempe di Pasar Peterongan, dia (ER, Red) dinyatakan reaktif setelah ikut rapid test,” papar dia.

Karena istrinya dikarantina, kini hari-hari keluarga MS berubah drastis. Tetangga maupun pelanggan enggan mendekatinya. ”Saya mengandalkan hidup dari jualan tempe, tapi karena kondisinya seperti jadi mau kerja apa saya juga bingung,” papar dia.

Dia mengaku, bersedia menjalani isolasi mandiri di rumah sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. ”Ya harapan saya bisa isolasi mandiri di rumah saja, karena rapid test belum tentu positif Covid,” pungkasnya.

Sementara itu, KF, 30, mengaku dua saudaranya sudah menjalani isolasi di gedung karantina Tenis Indoor sepekan ini. ”Bude saya dan keponakan saya dikarantina padahal bukan karena Covid-19,” papar dia.

Dijelaskan, saudaranya bernama JT, 45, mengalami sakit lambung dan MH, 30, tidak mengalami gejala apapun. ”Keponakan saya tidak sakit dia hanya menjaga bude di sana, justru malah ikut di karantina,” pungkasnya.

Karantina untuk Cegah Penularan

SEMENTARA itu, Kordinator Bidang Penanganan Gugas PP dr Pudji Umbaran mengatakan, langkah pemkab Jombang menempatkan pasien reaktif hasil rapid test sebagai upaya memutus mata rantai virus korona.

”Jadi sebenarnya kita membolehkan isolasi mandiri, namun karena kekhawatiran terjadi penularan sehingga kita upayakan isolasi terkonsentrasi,” ujar dia.

Menurut dia, akan muncul kekawatiran jika warga menjalani isolasi mandiri di rumah. Kepastian mereka melakukan isolasi sesuai protokol kesehatan tentu dipertanyakan. ”Kita tidak bisa memastikan sesuai protap, dan tidak ada jaminan ada pihak yang mengawasi mereka 24 jam. Sehingga langkah kita melakukan karantina adalah sebagai wujud antisipasi penyebaran Covid-19,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia