alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Seharian Server PPDB SMP Lemot, Siswa di Jombang Tak Bisa Mendaftar

25 Juni 2020, 09: 46: 47 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

LEMOT: Server PPDB jenjang SMP tak bisa diakses karena sistem lemot seharian kemarin.

LEMOT: Server PPDB jenjang SMP tak bisa diakses karena sistem lemot seharian kemarin. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMP terpantau lemot dan sulit diakses seharian, kemarin (24/6). Akibatnya, banyak orang tua calon peserta didik yang kecewa karena tidak bisa mendaftar dengan cepat. 

Penelusuruan Jawa Pos Radar Jombang di laman ppdbsmp.jombangkab.go.id beberapa kali sulit diakses sejak pagi sekitar pukul 10.00. Sejumlah orang tua calon peserta didik baru dan operator SD mengeluhkan lemotnya laman untuk PPDB online jenjang SMP ini.

Sebab, sejak pagi, login username dan password untuk bisa mengikuti proses seleksi belum bisa dilakukan. Tak sedikit orang tua calon siswa yang mendatangi operator SD masing-masing, menanyakan pendaftaran tak bisa diakses. 

“Mumpung ini masih hari pertama, mohon websitenya segera diperbaiki. Anak saya dan beberapa anak dari orang tua wali lainnya, sampai hari ini (kemarin, red) belum bisa login untuk proses seleksi,” keluh Utomo, salah satu orang tua siswa di Kecamatan Tembelang.

Sejak periode pendataan hingga seleksi yang saat ini tengah berlangsung, ia menyebut anaknya dibantu operator dari SD asal. “Kami dibantu mendaftar secara online, tadi pagi (kemarin) dikabari kalau websitenya lemot. Bahkan sampai siang belum bisa mendaftar,” lanjutnya.

Padahal jika mendaftar sejak hari pertama, menurutnya bisa melihat berapa besar peluang diterima di sekolah pilihan. “Karena jika di sekolah pilihan pertama diketahui tidak diterima, kami bisa pindah ke sekolah lainnya. Jadi harus secepatnya website diperbaiki,” tambah dia.

Pernyataan sama juga dilontarkan Dani, orang tua peserta didik dari Kecamatan Diwek yang menyebut lemotnya laman PPDB online membuat pemantauan hasil pemeringkatan tak bisa dilakukan setiap waktu.

“Kami jadi tidak tahu, anak-anak peluang diterimanya besar atau kecil kalau lemot begini. Karena sudah mendaftar di SMP tujuan pertama. Jika memang peringkatnya turun, kami bisa pindah ke SMP tujuan kedua,” keluhnya. 

Baru sekitar pukul 14.00 laman sudah kembali bisa diakses dengan kondisi sangat lemot. Ada orang tua yang bisa mendaftar dan masih banyak yang tidak bisa mendaftar. Meski tak terakses cepat, antusias calon peserta untuk mendaftar di sekolah yang mereka tuju cukup tinggi. 

Ini terbukti dari 45 SMPN ada beberapa sekolah yang pagunya sudah terpenuhi. Seperti jalur zonasi di SMPN 1 Jombang, pagu terpantau sudah penuh. Jarak terdekat yang diterima sangat dekat hanya 66 meter dengan peserta nama Adhistira Naufal Setiawan yang mendaftar sejak pukul 01.58 dini hari. Kemudian jarak terjauh 1.342 meter dengan waktu pendaftaran pukul 02.00.

”Memang server troubel, sehingga kami belum tahu jumlah pendaftar,” ujar Alim Kepala SMPN 1 Jombang kemarin. Di sekolahnya, total pagu sebanyak 320 siswa. Dengan rincian, 150 masuk jalur zonasi (umum) dan 10 masuk jalur zonasi anak berkebutuhan khusus (ABK) 10. Sedangkan jalur afirmasi sebanyak 48, perpindahan tugas orang tua 16 dan jalur prestasi 96 siswa. ”Namun kemarin kami ingin memantau servernya karena sulit diakses,” tambahnya.

Sementara di SMPN 2 Jombang pagu jalur zonasi juga sudah penuh. Dengan rincian jarak terdekat 130 meter dengan calon nama Erlangga Arya Reswara dan jarak terjauh 1.804 dengan nama Faresa Anggi Pradikta. Begitu juga pagu zonasi di beberapa sekolah lain hampir terpenuhi. Misalnya SMPN 3 Jombang masih 87 dari total pagu 135, SMPN 4 Jombang sudah 95 dari 128 dan SMPN 5 Jombang masih ada lima dari 144.

Dikonfirmasi mengenai hal ini Rhendra Kusuma Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SMP tak menampik jika hari pertama laman PPDB SMP sempat sulit diakses. ”Itu karena yang mengakses di server begitu banyak,” ujarnya.

Saking banyaknya, sistem hingga siang hari masih terlihat sangat lambat. ”Mereka (siswa) berfikir kalau mendaftar lebih awal, maka peluang diterima semakin besar. Padahal bukan itu karena jalur zonasi yang diperhitungkan adalah jarak rumah dengan sekolah. kemudian nomor dua usia dan terakhir waktu pendaftaran,” pungkasnya.

(jo/mar/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia