alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Waspadai Kedatangan Santri, Pesantren di Jombang Siapkan Ruang Isolasi

24 Juni 2020, 16: 22: 12 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang

KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Dalam waktu dekat, ribuan santri asal luar daerah bakal kembali ke Jombang. Beberapa skema kedatangan santri sudah disiapkan masing-masing pondok pesantren. Selain mewajibkan santri menjalani isolasi selama 14 hari, juga menyiapkan surat pernyataan bermaterai.

Di Pondok Pesantren Tebuireng misalnya, sudah disiapkan beberapa ruang hingga fasilitas santri sesuai protokol kesehatan. Santri yang akan masuk area pondok wajib bermasker dan masuk bilik disinfektan. Selain itu, tempat ruang yang disiapkan juga berjarak. Ada pula ruang khusus isolasi. Termasuk tempat cuci tangan yang diperbanyak di sejumlah tempat.

KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang menjelaskan, dari hasil rapat internal pengurus diputuskan kegiatan belajar mengajar (KBM) santri akan dimulai 15 Juli mendatang. ”Sehingga para santri akan kembali ke pondok mulai akhir Juni hingga awal Juli nanti,” ujarnya kepada sejumlah wartawan kemarin.

Kepastian itu sudah disampaikan dan diumumkan ke wali santri. Namun kondisi itu dapat berubah sewaktu-waktu memerhatikan situasi dan perkembangan Covid-19 di Kabupaten Jombang. ”Sebab kita memperhitungkan unsur kesehatan santri saat akan kembali ke pondok,” tambahnya.

Soal kesiapan penyambutan santri pihaknya menyebut sudah maksimal dengan memerhatikan protokol kesehatan. Seperti fasilitas kegiatan belajar dan asrama santri. Hanya, saat ini yang menjadi pertimbangan lain adalah perjalanan santri menuju Jombang, tidak menutup kemungkinan jika mereka melakukan kontak fisik dengan banyak orang selama di perjalanan. ”Kalau di internal pondok kita siap, namun perjalanan santri itu yang jadi pertimbangan,” tegasnya.

Dijelaskan, santri yang boleh kembali ke pondok hanya santri kelas akhir. Sebab, dia perlu menata space untuk social distancing sembari melihat situasi dan kondisi. ”Kemudian kita lihat perkembangannya dan kita lakukan evaluasi bertahap,” papar dia.

Santri yang balik ke Jombang itu akan dilakukan rapid test dan akan dilakukan isolasi di gedung yang sudah disiapkan selama dua minggu. ”Mereka nanti kita isolasi di sepertiga dari kapasitas yang ada,” tegasnya.

Sementara, di Ponpes Al Aqobah Diwek, santri akan kembali ke pondok secara bertahap mulai (27/6) mendatang. Kebijakan tersebut bukan keharusan namun bersifat pilihan. ”Artinya santri boleh masuk ke pesantren sesuai jadwal yang ditentukan atau memilih menunda masuk ke pesantren sampai keadaan dinyatakan normal,” ujar pengasuh Ponpes Al Aqobah KH Ahmad Junaidi Hidayat.

Santri yang kembali ke pesantren, lanjut dia, harus memenuhi persyaratan dan prosedur protokol Covid-19. Seperti membawa surat negatif Covid-19 bagi santri yang berasal dari daerah zona merah. Sedangkan santri dari luar zona merah cukup membawa surat keterangan sehat dari puskesmas setempat. ”Jadi selama 14 hari pertama tiba di pondok, santri akan diisolasi di ruangan dalam kelompok kecil, dan tidak boleh berinteraksi dengan kelompok lainnya,” tandasnya.

Di Ponpes Al Aqobah, bagi santri yang masuk pondok harus menanda tangani surat pernyataan di atas materai. Surat pernyataan tersebut berisi tidak akan menuntut secara hukum atau dalam bentuk apapun kepada pesantren bila terjadi hal yang tidak diinginkan termasuk terkena Covid-19. ”Kami sudah buatkan suratnya, nanti akan ditanda tangani wali santri, santri sendiri dan pihak kami yang menerima,” tegasnya.

Terpisah, Bendahara Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum (MPPPDU) Rejoso Peterongan, KH Zaimuddin Wijaya As’ad menjelaskan, untuk tahun ajaran baru di Ponpes Rejoso dimulai 15 Juli. ”Baik online maupun offline. Adapun soal teknis kedatangan santri, masih dalam pertimbangan,” pungkas pria yang akrab disapa Gus Zuem ini.

Fasilitasi Rapid Test Santri

PEMKAB Jombang melalui Gugus Tugas PP Covid-19 menyediakan rapid test bagi santri yang akan kembali ke pondok, khususnya di luar Jombang. Sedangkan santri yang akan kembali ke pondok di Jombang cukup menunjukkan surat keterangan sehat.

”Jadi seluruh santri warga Jombang yang mondok di luar dan akan kembali, ada fasilitas rapid test gratis dari pemerintah daerah,” ujar Agus Purnomo Koordinator Bidang Pencegahan Gugas PP Covid-19 Jombang kemarin (23/6). Terkait hal ini pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Jombang.  

Rapid test bisa dilakukan di masing-masing puskesmas sesuai dengan domisili masing-masing santri dengan cara membawa surat pengantar dari kepala desa. ”Untuk jadwalnya kita masih bahas dengan Dinkes,” tambahnya. Sedangkan, untuk santri yang mondok di Jombang sendiri tak perlu mengikuti rapid test. Mereka hanya perlu menunjukkan surat keterangan sehat atau screening kesehatan.  

Namun bagaimana dengan santri asal luar daerah yang akan kembali mondok di Jombang dalam waktu dekat? Agus menegaskan, untuk kebijakan tersebut diserahkan masing-masing pondok. ”Sesuai kebijakan pondok mereka diminta melakukan rapid test di masing masing daerah asal. Dan hasil rapid test hanya berlaku tiga hari,” papar dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jombang drg Subandriyah mengatakan, untuk jadwal rapid test di masing-masing puskesmas masih dikoordinasikan. Begitu juga saat ditanya mengenai jumlah alat rapid test yang disediakan pemkab ia belum bisa merinci. ”Insya Allah dalam jumlah cukup,” pungkasnya singkat.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia