alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Mengenal Plumbon Gambang, Desa Kebanggaan Jombang yang Sudah Mendunia

23 Juni 2020, 19: 44: 17 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kantor Desa Plumbon Gambang

Kantor Desa Plumbon Gambang (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo adalah salah satu desa kebanggaan Pemkab Jombang. Desa yang kini dipimpin Nur Wachid ini tidak hanya terkenal di dalam negeri, namun sudah mendunia. Ini setelah, Desa Plumbon Gambang memiliki sentra industri manik-manik yang menjadi ikon Kabupaten Jombang.

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono pun pernah meninjau langsung produksi manik-manik di Desa Plumbon Gambang pada 11 September 2008 silam. ”Desa Plumbon Gambang sejak dulu terkenal  dengan sentra manik-maniknya,” ujar Kepala Desa Plumbon Gambang Nur Wachid kemarin (21/6).

Wahid menceritakan, asal usul Desa Plumbon Gambang berasal dari kata pohon Palumbu dan Gambangan (alat kerawitan). Dari cerita yang turun temurun ke warga, dulunya wilayah Desa Plumbon Gambang masih berupa hutan belantara yang tidak bisa ditinggali manusia karena dihuni bangsa jin.

Manik-manik Plumbon Gambang menjadi salah salah satu ikon UMKM Kabupaten Jombang yang mendunia

Manik-manik Plumbon Gambang menjadi salah salah satu ikon UMKM Kabupaten Jombang yang mendunia (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Namun, ada seorang leluhur desa yang membuat perjanjian cikal bakal dengan para lelembut  agar hutan tersebut dapat ditempati manusia. ”Cerita itu sudah melekat di desa kami,” tambahnya.

Desa Plumbon Gambang pertama kali dipimpin kepala desa bernama Diman Karto Sentono, pada 1928-1969 silam. Total hingga sekarang ada 11 kepala desa yang pernah menjabat di Desa Plumbon Gambang.

Secara administratif, wilayah Desa Plumbon Gambang memiliki lima Dusun, lima RW dan 22 RT. Secara keseluruhan, Desa Plumbon Gambang luasnya 173,860 hektare. ”Pada tahun 2018, total ada  928 KK dengan jumlah total 3.498 orang dan kini sudah ada 1.128 kepala keluarga (KK), dan Alhamdulillah Desa Plumbon Gambang pernah menjadi Desa Percontohan pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” pungkasnya.

Sentra Manik-Manik Kebanggaan Jombang

SEMENTARA itu, Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo juga dikenal sebagai sentra penghasil manik-manik yang cukup tersohor di belahan dunia.

Berbagai macam jenis manik-manik sudah diekspor ke sejumlah negara sejak 1990 silam. Tak Pelak, Desa Plumbon Gambang merupakan salah satu desa kebanggaan yang dimiliki Kabupaten Jombang.

Di bawah kepemimpinan Nur Wachid, sentra manik-manik yang ada didesanya semakin berkembang. ”Manik manik sampai saat ini tetap eksis dan tetap berkembang,” ujar dia kemarin kemarin, (21/6).

Sebagai kepala desa yang juga memiliki UMKM manik-manik, Nur Wahid memiliki banyak strategi pemasaran untuk mengenalkan manik-manik ke pasar regional hingga internasional. Bahkan ia sering berbagi ilmu dan pengalaman kepada pengusaha manik-manik lain.

”Apalagi dengan didukung IT yang canggih, sekarang banyak anak-anak muda bisa memasarkan secara online. Kami sering sharing untuk mengembangkan pemasaran,” tambahnya.

Manik-manik Desa Plumbon Gambang sendiri merupakan kerajinan turun temurun. Kerajinan itu awalnya ditekuni Sugiyo, warga setempat pada 1978. Kemudian, kisaran 1978 sampai dengan 1987 pembuatan manik-manik terus berkembang dan produknya kian beragam.

Di antaranya, desain manik cincin, manik tindik, manik koptel, manik oval (mata cincin) dan manik buah-buahan.. ”Terutama sejak berkembang ke beberapa pasar di Bali,” jelas dia.

Pemasaran manik-manik Plumbon Gambang sendiri tidak hanya didominasi dalam negeri seperti, Bali, Kalimantan, Papua dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Namun juga diekspor hingga luar negeri misalnya Malaysia, Jepang, Australia, Amerika, Denmark, Prancis, Italia dan Afrika, New Zeland, Inggris.

Di Desa Plumbon Gambang sendiri, ada sekitar 122 UMKM manik-maik. Satu UMKM mempekerjakan minimal lima hingga 20 karyawan. ”Jika ditaksir kira-kira ada 1.000 tenaga kerja yang terlibat mulai proses produksi,” jelas dia.

Menurut dia, potensi pendapatan dari sentra manik-manik cukup besar. Sebab, satu UMK omzet satu bulan bisa mencapai Rp 100 juta. Jika dikalikan dengan 122 yang ada, bisa mencapai miliaran rupiah. ”Oleh karena itu pelatihan dan pendampingan akan kita lakukan terus untuk kemajuan pengembangan kerajinan manik-manik,” pungkasnya.

Turun Langsung Salurkan BLT

KEPEDULIAN Nur Wachid terhadap warganya patut diacungi jempol. Terbukti saat penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) untuk warga terdampak Covid-19, ia rela mengantar ke rumah warga yang tidak bisa hadir di balai desa.

”Itu merupakan tanggung jawab saya sebagai kepala desa. Alhamdulilah penyaluran BLT di Plumbon Gambang, baik tahap satu dan tahap dua berjalan lancar,” ujar dia kemarin (21/6). 

Dari total 1.128 kepala keluarga (KK) di Desa Plumbon Gambang, ada sekitar 408 warga yang masuk dalam daftar penerima bantuan terdampak Covid-19. ”Sebelumnya dalam proses pendataan, kami menemukan ada sembilan KK yang ganda, namun setelah kami lakukan verifikasi semuanya sudah tidak ada lagi yang ganda,” tambahnya.

Di Desa Plumbon Gambang, ada 144 KK yang menerima BLT Dana Desa (DD), 128 KK menerima BLT APBD kabupaten, 54 KK menerima APBD provinsi dan 82 menerima BLT Kemensos. ”Selain itu, bagi warga yang belum tercover bantuan dari pemerintah, kami juga berupaya mencarikan bantuan dari pihak ketiga, misalnya tokoh masyarakat yang peduli maupun organisasi sosial,” tandasnya pria kelahiran Jombang 6 Juli 1968 ini.

Wachid berharap, bantuan yang disalurkan dapat bermanfaat kepada warga terdampak Covid-19. Meski bantuan tidak bisa mencukupi seluruh kebutuhan mereka, namun setidaknya meringankan beban di masa pandemi Covid-19 ini. ”Ya harapannya dapat membantu mereka untuk bertahan di masa pandemi ini,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia