alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Pemuda Wonosalam Ini Buat Lukisan Bakar dengan Media Kayu dan Piring

22 Juni 2020, 14: 33: 14 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Idhatur Riadhoh, 24, Dusun Pucangrejo, Desa/Kecamatan Wonosalam berhasil mengembangkan teknik lukisan bakar dengan media kayu dan piring.

Idhatur Riadhoh, 24, Dusun Pucangrejo, Desa/Kecamatan Wonosalam berhasil mengembangkan teknik lukisan bakar dengan media kayu dan piring. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Pirografi atau lukisan bakar merupakan proses melukis di atas kayu dengan menggunakan alat pembakar khusus sejenis solder electronik. Melukis dengan metode pirografi di atas kayu memang tak semudah melukis di atas kertas ataupun kanvas.

Untuk melukis dengan metode ini ada beberapa proses yang harus dilakukan, hingga menjadi sebuah karya seni lukis yang indah. Adalah Idhatur Riadhoh, 24, Dusun Pucangrejo, Desa/Kecamatan Wonosalam berhasil mengembangkan teknik lukisan bakar dengan media kayu dan piring.

Di salah satu kamar di rumahnya, berjajar rapi belasan lukisan yang bentuknya unik. Tak menggunakan tinta, juga media kertas maupun kain, lukisan buatannya ini dipasang pada media kayu. Beberapa lukisan bahkan nampak diletakkan pada permukaan piring.

”Ini hasil karya saya semua, memang sengaja tidak memilih media yang umum, biar lebih unik saja rasanya. Kalau bentuknya sementara ini kebanyakan masih wajah,” ucap Riadhoh.

Riadhoh, menggunakan dua cara dalam melukis. Untuk lukisan kayu, ia menggunakan teknik lukisan bakar. Awalnya, ia harus menyiapkan media kayu yang akan digunakan untuk melukis. Ia menyebut, hampir semua jenis kayu bisa digunakan, asal teksturnya pas. ”Kalau yang saya pakai kebanyakan jati belanda, biasanya bekas palet, atau triplek. Kalau terlalu empuk bisa bolong kayunya, sementara kalau keras susah meengukirnya,” lanjutnya.

Kayu yang sudah siap jadi media, perlahan dibentuk sesuai keinginan. Barulah proses pencetakan dan penggambaran pola dilakukan. Proses ini dilakukan dengan menempel gambar yang akan dilukis pada kayu. Kemudian mulai ditandai garisnya. ”Setelah itu baru digambar. Alatnya pakai semacam solder khusus yang sudah dimodifikasi. Jadi lukisannya memang dari pembakaran. Tanpa tinta, jadi harus pakai perpaduan warna saja,” lanjutnya.

Selain menggunakan media kayu, Riadhoh juga menggunakan media piring untuk media lukisannya ini. Jika lukisan bakar pada kayu tak berwarna karena prosesnya pembakaran, lukisan pada piring ini terlihat lebih hidup, lantaran memiliki warna sesuai keinginan. ”Kalau yang piring ini alatnya pakai pensil warna biasa,” lanjutnya.

Awalnya, piring melamin yang sudah disiapkan harus terlebih dahulu diamplas, untuk menghilangkan permukaannya yang licin. Setelah itu, lukisan bisa langsung diaplikasikan. ”Ya langsung dilukis sesuai keinginan, kalau sudah jadi baru ditutup pelapis, supaya tidak luntur,” tambah Riadhoh.

Proses melukis ala Idhatur Riadhoh cukup menyita waktu. Untuk menyelesaikan satu lukisan, dia membutuhkan waktu hingga lebih dari enam jam. ”Tergantung detail dan tingkat kerumitannya, semakin detail, semakin lama biasanya,” pungkasnya.

Awalnya Hobi, Kini Jadi Usaha Sampingan

HOBI yang membawa untung, begitu kira-kira yang dirasakan Riadhoh. Kebolehannya melukis sejak muda, membuatnya punya peluang lain untuk meraup pendapatan sampingan dari hobinya melukis. ”Iya, ini memang bukan pekerjaan utama saya. Ini buat sampingan saja memang, kalau saya aslinya guru di SD,” ucapnya.

Melukis, memang bukan hal baru baginya. Sejak kecil, bakatnya sudah terlihat. Namun setahun terakhir ini, ia mulai memutar otak agar ada penghasilan tambahan yang bisa ia dapat selain mengajar yang honornya tak seberapa. ”Akhirnya saya coba lukisan ini, awalnya lukisan bakar itu. Belajarnya juga kebanyakan dari internet,” lanjutnya.

Setelah serangkaian percobaan dan kegagalan, ia pun mulai bisa membuat lukisan yang bagus. Bahkan, beberapa pesanan dari orang pun mulai datang kepadanya. ”Kalau enam bulan ini mungkin sudah puluhan yang pesan ya, paling banyak dari Jombang saja, tapi ada juga yang sampai Banyuwangi juga Ponorogo,” tambahnya.

Ia pun, tak mematok harga khusus untuk lukisan yang dibuatnya. Harga lukisan, menurutnya akan disesuaikan dengan kerumitan yang dibuat. ”Kalau harga mulai Rp 100 ribu, makin rumit dan bahan makin mahal pasti harganya juga berbeda,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia