alexametrics
Rabu, 08 Jul 2020
radarjombang
Home > Events
icon featured
Events
Edisi Khusus Ulang Tahun Ke-6

Kesan Para Pembaca Setia Jawa Pos Radar Jombang: Hartono Tanojo

Sempatkan Baca Koran Meski Pagi Jam Sibuk

22 Juni 2020, 13: 21: 02 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Hartono Tanojo, salah satu pembaca setia Jawa Pos.

Hartono Tanojo, salah satu pembaca setia Jawa Pos. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Meski hanya memiliki sedikit waktu bersantai di pagi hari. Membaca koran seolah menjadi rutinitas wajib bagi Hartono Tanojo, salah satu pembaca setia Jawa Pos. Setidaknya membaca berita di halaman utama Jawa Pos.

“Saya pagi hari, sarapan, santai cuma sebentar saya manfaatkan untuk baca koran Jawa Pos, baru setelah itu berangkat ke toko, minimal headline hari ini, kadang ke toko bawa koran, kadang lanjut baca setelah pulang.” ungkapnya saat berada di Toko depan pasar Mojoagung.

Dia menuturkan, sejak duduk di bangku SMA sekitar 1984, dia sudah akrab dengan Koran Jawa Pos. Ayahnya, Soehadi Tanojo yang memperkenalkan Jawa Pos kepada Hartono. “Papa saya suka baca koran sejak tahun 1980an. waktu itu saya SMA sering dapat tugas kliping, jadi kenal Jawa Pos dan mulai membacanya,” ungkap ayah tiga anak ini.

Sampai saat ini, ayahnya yang sudah menginjak usia 82 tahun itu juga masih rutin membaca koran setiap hari. Menurutnya informasi di koran Jawa Pos sangat lengkap dan beragam.

Hartono menilai, Koran Jawa Pos merupakan koran yang punya pendirian kuat. Meski beberapa kali berganti kepemimpinan, Jawa Pos tetap memberikan ciri khas yang kuat.

Salah satunya selalu mengikuti perkembangan jaman baik itu tentang rubrik berita maupun tampilan halaman. Tapi tetap mempertahankan ciri tulisan yang lugas, dan penggunaan bahasa yang memasyarakat. “Jawa Pos itu bahasanya ringan, mudah sekali dipahami, dan mengikuti perkembangan jaman,” jelasnya.

Di tengah banyaknya media online yang bisa dibaca hanya menggunakan smartphone, ia tetap setia dengan koran. Ia bahkan mengaku sangat jarang membuka media online, karena ia meminimalisir penggunaan smartphone untuk kesehatan mata.

“Anak-anak saya pakai smartphone, masih usia belasan tahun matanya sudah minus, dan Alhamdulillah saya dan papa saya gemar baca koran sampai sekarang masih sehat meski sudah berusia 51 tahun,” imbuhnya.

Hal yang membuatnya semakin suka dengan Jawa Pos adalah karena ia berdomisili di Jombang. Dimana Jawa Pos memperkuat rubrik Jawa Timur, apalagi ada Radar Jombang yang membuatnya semakin tahu tentang Jombang.

Ia menyebutkan, radar sebagai anak dari Jawa Pos juga sangat lengkap. Ia mencontohkan dalam penyajian berita tentang wabah Covid-19 yang sangat lengkap. “Saya jadi bisa mawas diri kalau kemana-mana, dari Radar Jombang saya tau dimana sebaran Covid-19 sampai ke desa-desa, wartawannya luar biasa, saya tau menggali data seperti itu sangat sulit,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan, Radar Jombang juga sangat adil dalam penulisan berita. Tidak hanya menonjolkan kecamatan atau desa tertentu, tapi sangat lengkap, dimanapun ada informasi itulah yang dimuat.

“Ini yang saya maksud Radar Jombang penuh dengan kacamata keadilan. Jadi memang sangat bagus untuk dibaca warga Jombang. Biar tahu kabar terkini tentang Jombang,” tambahnya.

Mantan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jombang 2007-2010 ini menyarankan, agar Radar Jombang dalam penulisan semakin kuat dan berimbang. Ia juga menyarankan, Jombang sebagai salah satu kota yang bisa dijadikan barometer kerukunan umat beragama, bisa memberikan ruang untuk tulisan dari berbagai tokoh agama di Jombang.

“Karena tokoh pluralisme ada di Jombang semua, ada baiknya jika Radar Jombang menyediakan ruang khusus untuk artikel dari berbagai agama, hal itu akan menjadi sangat positif untuk kerukunan beragama di Jombang,” pungkasnya. (bersambung)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia