alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Rapid Test 700 Warga Jombang; 40 Reaktif, Paling Banyak Pedagang Pasar

19 Juni 2020, 14: 40: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

PANTAU: Bupati Mundjidah Wahab saat memantau rapid test masal di Puskesmas Jelakombo Jombang.

PANTAU: Bupati Mundjidah Wahab saat memantau rapid test masal di Puskesmas Jelakombo Jombang. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Rapid test massal di wilayah zona merah sudah menyasar ratusan warga Jombang. Hasilnya, dari 700 orang yang jalani rapid test, diketahui ada 40 orang menunjukkan reaktif. Selain akan dibawa ke rumah isolasi terpusat di gedung tenis indoor, mereka juga akan dijadwalkan mengikuti uji swab secepatnya.

“Ini tadi laporan dari Dinkes ada 700 orang rapid test, 40 orang reaktif, maka akan diuji swab, waktunya masih dijadwalkan,” ucap Bupati mundjidah Wahab. Rapid test massal itu dilakukan di beberapa tempat wilayah zona merah. Mulai Kecamatan  Peterongan, Sumobito, Jombang, Jogoroto dan Kecamatan Diwek.

“Prioritasnya memang untuk lima kecamatan yang sebarannya paling tinggi di Jombang,” tambahnya. Dari 700 orang yang tercatat mengikuti rapid test itulah ada 40 orang yang hasilnya menunjukkan reaktif. Sehingga mereka harus mengikuti aturan yang ada, menjalani isolasi di gedung tenis indoor. Sekaligus menunggu uji swab yang dijadwalkan Bidang Penanganan Gugas PP Covid-19 Jombang.

Bupati Mundjidah juga melakukan pemantauan rapid test di Puskesmas Jelakombo Jombang kemarin (18/6). Di Puskesmas Jelakombo ini ada 80 orang yang menjalani rapid tes, termasuk orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien positif asal Kecamatan Jombang. Selanjutnya, sebanyak 300 alat rapid test  lainnya akan digunakan di sejumlah pondok pesantren yang sudah menerima kedatangan santri.

Sementara itu dr Pudji Umbaran, Koordinator Bidang Penanganan Gugas PP Covid-19 Jombang menyebut belum semua warga yang hasil reaktif berada di rumah isolasi gedung tenis indoor. “Mungkin yang hasilnya keluar dua hari lalu sudah, tapi yang hari ini belum karena masih harus ada persiapan penataan dan lain sebagainya,” jelasnya.

Uji swab juga akan dilakukan kepada warga yang dinyatakan reaktif. Namun, kapan pelaksanaan uji swab pihaknya belum bisa memastikan. Sebab, alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk pemeriksaan laboratorium guna mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, yang digunakan uji swab hingga sekarang masih dalam tajap uji fungsi dan memastikan kevalidan hasil.

Dijelaskannya, validasi masih terus dilakukan dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya. Empat hari lalu, 21 sampel sudah dikirimkan. “Kabarnya hari ini (kemarin) diproses, mudah-mudahan hasilnya segera keluar, kalau PCR kita dinyatakan valid, maka bisa kita gunakan untuk memeriksa orang yang reaktif dengan lebih cepat,” tambahnya.

Ia juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Jombang. Ada kemungkinan pemeriksaan uji swab dilakukan dengan menghadirkan mobil PCR keliling milik Pemprov Jawa Timur. “Kemungkinan mendatangkan mobil PCR keliling, kemarin dapat info ibu kepala dinas sudah koordinasi dengan pihak provinsi,” pungkas Pudji.

Sistem Ganjil-Genap di Semua Pasar

SEMENTARA itu semua pasar tradisional di Jombang bakal diterapkan sistem ganjil-genap. Menyusul banyaknya pedagang pasar yang hasil rapid test menunjukkan reaktif seperti yang terjadi di Pasar Peterongan hingga muncul klaster baru.  

”Rencananya tidak hanya di pasar peterongan, tapi semua pasar akan kita berlakukan sama,” ungkap Bupati Mundjidah Wahab. Hanya saja, ia tak bisa memastikan kapan penerapan sistem ganjil-genap tersebut dimulai di pasar-pasar.

Sebagai gambaran, teknis yang akan dilakukan di lapangan sama. Semisal sterilisasi pasar seperti Pasar Peterongan dengan dilakukan penyempotan didinfektan di semua sudut pasar. Selanjutnya, sistem penjualan diatur ganjil-genap.

“Teknisnya nanti kita bicarakan dengan OPD terkait. Nanti akan kita rapatkan,” ungkapnya. Ia lantas menyampaikan penerapan sistem ganjil genap di Pasar Peterongan yang diawali dengan penutupan sementara  selama tiga hari (4-6/6) lalu.

Selama tiga hari itu tim Gugus Tugas Percepatan Pencegahan (Gugas PP) Covid-19 Kabupaten Jombang melakukan penyemprotan disinfektan. Setelah masa penutupan berakhir, pedagang berjualan kembali namun dengan sistem ganjil genap.

Sebelumnya Camat Peterongan Shollahudin menyampaikan, setiap pedagang diberi nomor untuk berjualan bergantian di Pasar Peterongan. Pemberian nomor itu dilakukan untuk penerapan sistem ganjil genap lapak. ”Jadi yang dapat nomor satu (ganjil) akan berjualan di tanggal yang ganjil, yakni mulai tanggal 7 (Minggu), kalau dapat nomor dua (genap) berarti berjualan tanggal 8 dan seterusnya,” ujar dia.

Sistem penerapan ganjil genap itu disepakati setelah tim Gugas PP menggelar rapat dengan beberapa unsur. Kemudian, ditindaklanjuti dengan sosialisasi di Pasar Peterongan. Langkah ini dilakukan karena sejumlah pedagang di Pasar Peterongan terpapar Covid-19 dan menjadi klaster baru persebaran virus.

Usulkan Rapid Test Tambahan

TERPISAH, Koordinator Gugus Tugas Percepatan Penanganan (Gugas PP) Covid-19 Kabupaten Jombang Agus Purnomo menyampaikan usulan rapid test tambahan yang disampaikan ke Pemprov Jawa Timur. Usulan itu ditujukan untuk tracing orang-orang yang pernah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif.

”Kita sudah mengusulkan ke pemprov, ada tambahan rapid test 200 orang,” ujarnya kemarin (18/6). Tambahan itu sebagai tindak lanjut rapid test yang sudah dilakukan tiga hari sebelumnya. Tambahan rapid test itu nanti akan ditujukan ke orang-orang yang melakukan kontak pasien positif sebelumnya.

Agus menjelaskan, alasan gugus tugas mengajukan tambahan rapid test itu karena hasil tracing yang dilakukan gugus tugas luar biasa. "Kalau bisa kita kerja cepat, kerja tuntas sekalian. Walaupun toh hasilnya nanti mengecewakan, tapi itu harus kita terima," jelasnya.

Untungnya, selama pelaksanaan rapid test berjalan lancar tanpa ada penolakan dari orang-orang sekitar. Sehingga alokasi 1.000 rapid test dari Pemprov Jatim sudah digunakan hampir semua. Bahkan, pihaknya akan menambah 1000 lagi rapid test yang disediakan Pemkab Jombang sendiri. ”Nanti sasarannya ke pedagang pasar, khususnya Pasar Pon Jombang,” ungkapnya

Hingga sekarang, jelas Agus, rapid test yang sudah dilakukan bidang pencegahan jumlahnya mencapai 9.000 orang. Sangat wajar kelau kemudian hasilnya diketahui lebih cepat hingga Kabupaten Jombang masih bertahan di posisi tertinggi ke-8 di Jawa Timur. Posisi ini turun dua tingkat setelah sebelumnya bertahan di posisi ke-6.

"Daerah lain berbeda, ada yang baru 3.000-5.000 orang yang di-rapid. Rangking tidak bisa dibuat acuan. Semakin banyak rapid test, tentu ada kemungkinan semakin besar angka positif yang terdeteksi,” pungkasnya.

Semua Faskes Harus Siap Layani Covid-19

SEMUA fasilitas kesehatan (Faskes) di Jombang harus siap melayani pasien Covid-19. Menyusul kebijakan new normal, maka ke depan perawatan pasien positif tidak hanya menjadi tanggung jawab rumah sakit rujukan RSUD Jombang, maupun rumah sakit penyangga seperti RSK Mojowarno dan RSUD Ploso.  

“Menuju new normal, tidak bisa hanya rumah sakit penyangga dan rumah sakit rujukan saja yang harus merawat pasien Covid-19, tapi semuanya,” ungkap dr Pudji Umbaran, Koordinator Bidang Penanganan Gugas PP Covid-19 Jombang.

Fasilitas kesehatan yang dimaksud, mulai dari puskesmas, klinik dan rumah sakit swasta. Mau tidak mau, semua fasilitas kesehatan harus menyiapkan desain ruangan Covid-19 dan non Covid-19. Begitu juga petugas yang melayani di fasilitas kesehatan, harus diatur untuk pelayanan Covid-19 dan non Covid-19.

Meski begitu, hal ini menurutnya masih menunggu keputusan kepala daerah. Jika bupati sudah menetapkan semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan siap pelayanan Covid-19, maka akan diterapkan. “Namun yang pasti Surat Edaran Kementerian Kesehatan mengenai hal tersebut sudah terbit, tinggal menunggu keputusan kepala daerah,” jelasnya.

Kebijakan ini dilakukan sebagai persiapan menuju era new normal. Karena tidak ada yang tahu kapan pandemi korona akan berakhir, mengingat kasus terkonfirmasi sampai saat ini masih terus bertambah. Termasuk Jombang yang beberapa hari terakhir menyebut, kurva kasus bertambah.

Meski pada perkembangan kemarin malam (18/6), jumlah  terkonfirmasi tak ada penambahan dan masih bertahan 178 orang. Bahkan Kabupaten Jombang bergeser turun peringkat ke-8 dari sehari sebelumnya peringkat ke-6 Jawa Timur.

(jo/wen/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia