alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Bonsai Kelapa; Awalnya Belajar dari Internet, Kini Jadi Hiasan Cantik

15 Juni 2020, 16: 17: 05 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Adik Kurniawan, 30, asal Dusun Cangkring, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang ini sudah setahun aktif menggeluti hobi bonsai kelapa.

Adik Kurniawan, 30, asal Dusun Cangkring, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang ini sudah setahun aktif menggeluti hobi bonsai kelapa. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Bonsai kelapa jadi salah satu hobi baru bagi beberapa pecinta tanaman hias di Jombang. Selain keindahan yang bisa didapat, hobi ini juga bisa bernilai ekonomis jika diseriusi. Hanya memang, proses pembuatan dan perawatannya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra.

Seperti yang dilakukan Adik Kurniawan, 30, ini. Pria asal Dusun Cangkring, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang ini sudah setahun belakangan aktif menggeluti hobi ini. Ide ini disebutnya muncul saat ia melihat banyak buah kelapa kering berjatuhan di rumahnya.

Ia pun mulai mencari cara agar buah ini tak terbuang sia-sia. Berbekal informasi dari laman di internet, ia mencoba sendiri proses pembuatan bonsai kelapa ini. ”Di internet muncul ternyata kelapa kering dibonsai, dan kemudian mulailah membuat ini, bonsai kelapa,” lanjutnya.

Proses pembuatan bonsai kelapa ini, dimulai dari mencari bahannya, yakni kelapa kering. Nyaris seluruh jenis kelapa kering bisa digunakan, asalkan kondisinya masih baik. ”Kelapa kering ini kemudian dibersihkan sampai ke bagian batoknya, hanya menyisakan serabut di ujung saja, sebagai tempat tumbuhnya tunas,” lanjutnya.

Batok yang sudah dibersihkan, masih harus dihaluskan dan dipoles dengan vernis. Hal ini bertujuan agar batok tak pecah ketika proses pembonsaian. ”Setelah itu ditaruh di air, sampai tunasnya muncul. Prosesnya bisa sampai semingguan sampai tunas agak besar dan melengkung ke atas, dan akar muncul di bawah,” tambahnya.

Proses yang mendetail, baru dilakukan setelah daun mulai terlihat. Adik, menyebut proses ini dengan teknik sayat mawar. Yakni membuka serabut yang menutup daun dengan hati-hati dengan pisau khusus. ”Selain itu, daun yang sudah tumbuh harus terus dibentuk supaya bengkok, dengan ditekuk perlahan setiap hari,” lontar Adik.

Proses ini, bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bentuk daun benar-benar sudah baik dan akar sudah kuat. Khusus untuk yang mulai dijual, Adik menyebut layaknya mulai usia 3-4 bulan. ”DI usia ini akar relatif mulai kuat, dan tua, jadi lebih tahan. Kalau harga mulai Rp 150 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung bentuk dan jenisnya,” pungkasnya.

Bisa di Tanah dan di Air

SECARA umum, bonsai kelapa disebut Adik bisa menggunakan dua media tanam, air dan tanah. Pemilihan media ini, bergantung pada fokus pengembangan akar ataupun daun yang diinginkan pemilik bonsai.

Penanaman bonsai di media tanah, disebut Adik biasanya dilakukan untuk mengejar tampilan indah pada daun bonsai. Setelah akar dirasa kuat dan kokoh, biasanya bagian akar akan dibentuk dan dililitkan namun tak terlau berarti. ”Kalau di tanah itu daunnya pasti bagus bentuknya, mudah dibentuk,” ucapnya.

Sementara media air, biasanya dilakukan untuk mengejar tampilan akar yang lebih besar dan indah. Media ini, biasanya menggunakan akuarium kaca yang diisi air di dalamnya, bonsai kelapa, diletakkan di bagian atas aquarium. ”Dengan air, akarnya akan menjuntai ke bawah, bentuknya juga bisa sangat disesuaikan. Untuk mempercantik, bisa juga ditambah ikan dan lampu,” tambahnya.

Dari kedua media tanam itu, bagi pemula Adik menyarankan untuk menggunakan media air. Selain tak terlalu ribet pada proses pemindahan, bonsai kelapa dengan media air biasanya akan lebih mudah dirawat.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia