alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Hukum
icon featured
Hukum

Tak Ada Reklamasi di Eks Galian C, Penindakan di Jombang Dinilai Lemah

09 Juni 2020, 12: 18: 01 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kuari bekas galian C di Dusun Ngaren, Desa Plosogenuk, Kecamatan Perak.

Kuari bekas galian C di Dusun Ngaren, Desa Plosogenuk, Kecamatan Perak. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Belum ada kejelasan perkembangan kasus tewasnya bocah di kuari bekas galian C di Dusun Ngaren, Desa Plosogenuk, Kecamatan Perak, mendapat sorotan dari kalangan pemerhati publik. Salah satunya Sholikin Ruslie, yang menganggap bukti penindakan terkait reklamasi galian C di Jombang sangat lemah.

”Rasa empatinya baik Pemkab Jombang maupun penegak hukum sangat rendah, bahkan dapat dikatakan tidak ada sama sekali,” ujarnya kemarin (8/6). Rasa empati itu, lanjutnya, bukan hanya ditunjukkan dengan memberikan santunan. Lebih dari itu, bagaimana yang paling benar hukum bisa ditegakkan.

”Kalau punya niat dan komitmen, ini sebenarnya persoalan sangat mudah,” kata Sholikin. Hanya saja, kasus seperti ini sudah menjadi hal biasa, bahkan sudah ada sekitar tujuh kasus serupa tiba-tiba lenyap begitu saja tanpa ada kejelasan secara hukum.

”Kasus ini delik umum, seharusnya tetap dilanjutkan sampai ke persidangan karena tidak bisa dihentikan, misalnya hanya karena keluarga korban membuat pernyataan tidak menuntut,” ungkap dosen Fakultas Hukum Untag Surabaya ini.

Dia menyebut sangat mudah mencari siapa tersangka dan yang paling bertanggungjawab terhadap kasus ini. Menurutnya, mencari muara kasus seperti ini sangat mudah. Bahkan menurutnya lebih sulit menangkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

”Saya heran penegak hukum yang seperti itu belajar hukumnya dulu dimana? Menangkap curanmor saja bisa, tapi mengusut persoalan yang sudah jelas, nggak bisa. Apa karena yang terlibat orang besar, sehingga segan dan takut ada backing di belakangnya,” sindir mantan anggota DPRD Jombang ini.

Apabila kasus seperti ini tidak jelas, maka patut dipertanyakan penegakan hukum di negara apa. ”Ini negara hukum, negara kekuasaan atau bahkan negara yang dikuasi borjuis,” ungkapnya kesal. Terlebih lagi, persoalan nyawa dibuat permainan. Padahal beberapa anak-anak generasi masa depan bangsa sudah terenggut menjadi korban.

Karena itulah kasus ini harus benar-benar diusut. Ia menyebut sudah jelas siapa pemilik lahan dan siapa yang mempunyai kegiatan tambang tersebut. ”Betapa susahnya keluarga yang ditinggalkan,” katanya. Lebih dari itu, Pemkab Jombang juga harus hadir dalam mengawal pendampingan hukum masyarakat agar bisa ditegakkan. ”Pemerintah harus melindungi rakyatnya, bukan hanya melihat seakan-akan ini hanya tontonan,” pungkas Sholikin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Firman Santoso, 13, asal Dusun Ngaren, Desa Plosogenuk, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang tewas di kuari bekas tambang galian C di desanya, Kamis siang (4/6). Ia tewas setelah nekat berenang di dalam kuari.

Kejadian nahas ini bermula, saat Kamis pagi kemarin (4/6), Firman bersama tujuh temannya yang lain mendatangi kuari di desanya. Sejak awal, mereka bermaksud memancing.

Namun sesampai di lokasi, seluruh anak itu justru memilih berenang di salah satu lubang bekas galian. Berenang mulai dari pinggir, beberapa saat kemudian Firman terus berenang mengarah ke bagian tengah lubang yang kondisinya sangat dalam.

Hingga beberapa saat kemudian, Firman tiba-tiba saja meminta tolong karena tak bisa berenang dengan baik di air yang dalam hingga tenggelam. Setelah tenggelam teman-teman korban berteriak dan meminta tolong ke warga sekitar. Beberapa pemancing yang ada di lokasi, akhirnya menceburkan diri ke dalam kuari dan membantu mencari korban.  

Untuk diketahui, kejadian tenggelamnya anak di kuari di Dusun Plosogenuk ini bukan kali pertama. Lima tahun lalu, tepatnya 12 Desember 2015, empat siswi SDN 1 Sukorejo Perak juga tewas di lokasi lahan bekas penambangan galian C. Mereka adalah Eva Trianggraini (10), Fatikhul Khusna Aprilia (10), Anggik Arianti (10) dan Devi Anugrah Cahyani (11).

Saat itu, ia bersama belasan siswa lain tengah mengikuti outbond ke lokasi galian bersama guru pendamping. Hingga siswa kelas 4 SD itu tewas saat mencoba bermain air di pinggir kuari.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia