alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Telur Asin Khas Diwek; Produksi Masih Tradisional, Pakai Resep Warisan

08 Juni 2020, 12: 05: 34 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Produk olahan telur asin dari telur bebek yang dikembangkan warga Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek.

Produk olahan telur asin dari telur bebek yang dikembangkan warga Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG juga punya produk olahan telur asin dari telur bebek. Salah satunya, dikembangkan warga Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek. Di sini, telur asin diproduksi dengan cara yang masih tradisional menggunakan resep legendaris dari Jawa Barat.

Proses pembuatan telur ini berada di sebuah rumah di pinggir jalan provinsi Jombang-Kediri. Di rumah ini, Agus Supriyono, 26, mengolah sendiri telur-telur ini. Untuk jadi telur asin berkualitas baik, Agus harus  menggunakan telur-telur kualitas baik.

“Itulah kenapa saya hanya pakai telur yang saya kembangkan sendiri, supaya kualitasnya jelas, dan saya bisa menjamin mutu telurnya,” ucapnya. Agus, menyebut mengembangkan peternakan bebek petelur sendiri untuk produksinya ini. Lokasinya di wilayah Pare, Kediri.

Proses pembuatannya pun dilakukan dengan cara tradisional seluruhnya. Pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat  ini menyebut, nyaris seluruh bahan dan cara produksi ini adalah warisan dari orang tua dan saudaranya. “Kebetulan waktu kecil dulu membuat telur asin sudah biasa, karena orang tua dulu pernah juga membuat,” lanjutnya.

Prosesnnya pun terlihat sederhana, meskipun sangat memakan waktu. Telur kotor dari kandang, mula-mula harus dicudi bersih. Saat pencucian, telur juga harus disikat untuk membantu menipiskan cangkang, agar mempermudah peresapan garam. Setelah itu, telur dibiarkan semalaman. “Tujuannya agar airnya benar-benar habis saat pencucian,” imbuhnya.

Sambil menunggu telur siap diproses, Agus  menyiapkan adonan tumbukan batu bata halus yang dicampur dengan garam dan air hingga lembek. Nantinya, telur yang sudah bersih akan dibaluri dengan adonan ini dan diungkep selama 10-14 hari. “Proses pengasinannya di sini nanti,” tambahnya.

Setelah selesai, telur pun harus kembali dibersihkan, sebelum dipacking, telur ini harus terlebih dulu direbus hingga matang. “Biasanya dua minggu bisa produksi sampai enam ribu telur, kalau jualnya paling banyak di wisata makam Gus Dur sini, juga di Malang dan Surabaya,” pungkasnya.

Ada Proses Diungkep dan Direbus

MENURUT Agus, di Jombang produksi telur asin bisa dilakukan lebih cepat dibanding di Jawa Barat. Bedanya ada di proses pengungkepan dan perebusan telur.

Perbedaan waktu ini, berdasarkan pada lamanya proses pengungkepan telur dalam adonan bata asin. Agus menyebut, untuk pasar Jawa Timur, proses pengungkepan biasanya hanya dilakukan dalam waktu 10 hari. “Untuk 10 hari itu sudah pas asinnya bagi orang sini. Warna kuning telurnya cukup di oranye saja,” tambahnya.

Hal ini tentu berbeda dengan telur asin untuk pasar Jawa Barat. Agus menyebut, di daerah asalnya Indramayu, proses pengungkepan telur asin biasanya berlangsung sampai 14 hari. “Dengan waktu selama itu, warna kuningnya jadi makin bagus sebenarnya, jadi makin merah dan berminyak. Tapi rasanya terlalu asin buat orang Jawa Timur,” ujarnya.

Perbedaan lain, terdapat pada proses perebusan telur yang sudah diasinkan. Di daerah asalnya, perebusan telur asin biasanya dilakukan hingga lebih dari dua jam. Sedangkan yang dia lakukan, perebusan telur biasanya hanya dilakukan selama setengah jam.

“Lama perebusan ini juga mempengaruhi keawetan telur asin. Untuk telur produksi saya ini setengah jam perebusan awetnya sudah 20 hari. jadi kalau lebih lama perebusannya juga pasti lebih lama juga awetnya,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia