alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Mengenal Eny Rosidhah, Kepala SMK Swasta Termuda di Jombang

08 Juni 2020, 07: 30: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Eny Rosidhah Bendahara MKKS SMK swasta Kabupaten Jombang

Eny Rosidhah Bendahara MKKS SMK swasta Kabupaten Jombang (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Bagi civitas akademik dan alumni SMK Matsna Karim yang terletak di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang tentu tak asing dengan Eny Rosidhah. Meski masih muda, namun pola kepemimpinan yang dijalankannya cukup disiplin dan tanggungjawab. Ia juga dipercaya sebagai bendahara MKKS SMK Swasta Jombang.

Eny lahir di Jombang 10 Februari 1991, bungsu dari empat bersaudara pasangan Kolil dan Alfiah asli Parimono. Ia mengawali pendidikan dasar tak jauh dari rumahnya, di MI Mujahidin Parimono lulus 2004. Kemudian melanjutkan pendidikan ke SMPN 5 Jombang lulus 2007 dan SMK PGRI Jombang lulus 2010.

”Setelah lulus SMK, saya langsung bekerja di salah satu koperasi simpan pinjam,” ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang (6/6) kemarin. Pekerjaan itu hanya dijalani satu tahun. Ia kemudian melanjutkan kuliah di STKIP PGRI Jombang jurusan Pendidikan Ekonomi. Setelah lulus, ia mengabdi sebagai tenaga bagian tata usaha (TU) SMK Matsna Karim.

Tak butuh waktu lama,  kinerja cukup cekatan dan disiplin tinggi, membuat ia dipercaya keluarga yayasan untuk mengelola dan memimpin sekolah tersebut. ”Saya awalnya kurang pede dan merasa minder karena banyak yang lebih senior. Namun karena ini amanah maka saya bertekad dan tekuni dalam hati,” jelas dia.

Eny kemudian masuk kategori kepala SMK termuda di Jombang. Usianya baru 29 tahun. ”Saya menjadi kepala sekolah sudah lima tahun ini, dalam memimpin saya tekankan anak-anak selalu disiplin,” tandasnya. Selain aktif mengurus sekolah, Eny juga dipercaya menjadi koordinator asesor lembaga sertifikasi profesi (LSP) P1 di bawah naungan yayasan Ma'arif. ”Saya aktif sebagai asesor akuntansi sejak 2013,” tegasnya.

Cerita dia, menjadi asesor akuntansi berawal saat dirinya mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) dasar. Setelah lulus, dia aktif sebagai asesor akuntansi di Jombang. ”Kami sebagai asesor hanya menguji, untuk sertifikat langsung dari BSNP pusat,” pungkas Eny.

Belajar dari Kepala Sekolah Senior

SEJAK diberi amanah menjadi Kepala SMK Matsna Karim, Eny Rosidhah terus berkomitmen memajukan sekolah termasuk mewujudkan lulusan SMK berjiwa entrepreneur. Sejak bergabung menjadi anggota Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK swasta, ia banyak belajar dari kepala sekolah senior.

”Jadi saya masuk sebagai anggota MKKS SMK swasta sejak 2016, tepat setelah saya menjadi kepala SMK Matsna Karim,” sambung dia. Awalnya, Eny merasa minder karena anggota di MKKS adalah kepala sekolah senior, seperti Sugito Kepala SMK PGRI 1 Jombang dan Kepala SMK Dwija Bhakti 1 Jombang Arief Sugiharto.

”Beliau adalah kepala sekolah senior yang hebat. Seperti pak Sugito beliau adalah kepala sekolah dan sekarang menjadi rekan di MKKS,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Eny kemudian dipercaya menjadi bendahara MKKS menggantikan Sugito. Meski sempat ragu karena terlibat langsung di setiap kegiatan MKKS. Namun karena memiliki visi misi sama dalam mengembangkan sekolah, Eny kemudian bersedia. ”Saya diberi amanah teman-teman menjadi bendahara sejak 2019 – 2023,” papar dia.

Setahun menjadi bendahara, Eny mulai belajar banyak pengalaman berharga untuk mengelola keuangan, termasuk belajar tentang leadership kepala sekolah. ”Kami di MKKS tidak hanya membahas tentang kegiatan kepala sekolah. Lebih dari itu kami koordinasi intensif terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat,” pungkasnya.

Dukung Tryout Berbasis Koran

AGENDA rutin tahunan tryout berbasis koran yang diadakan Jawa Pos Radar Jombang didukung Eny Rosidhah Kepala SMK Matsna Karim Bulurejo Diwek. Ajang tersebut sebagai ajang untuk menilai tolok ukur siswa dari SMK swasta yang lain.

”Setiap tahun kami mengikuti, ajang tryout berbasis koran sangat membantu anak-anak sebelum ujian,” terangnya. Beberapa keunggulan yang terlihat adalah variasi latihan. Menurut dia, anak-anak mudah bosan ketika ujian diadakan dalam bentuk kertas atau di depan komputer. Akan lebih baik jika latihan dikemas dengan media lain.

”Sehingga latihan melalui koran itu sangat membantu sekali anak-anak untuk menghadapi soal-soal ujian,” terangnya lagi. Meski begitu, Eny menyampaikan ada kendala ketika para siswa mengerjakan soal yang menjadi satu eksemplar koran. Sebab, variasi berita dan foto yang memukau di koran, membuat anak-anak tidak fokus mengerjakan soal.

Mereka justru terpancing dengan berita dan foto tersebut dan menggunakan estimasi waktu untuk membaca koran. ”Akibatnya waktu mengerjakan soal molor hingga satu jam,” tambahnya. Belajar dari pengalaman setiap tahun itulah ia kemudian mengemas tryout dengan cara berbeda. Yakni mengambil satu halaman berisi soal kepada siswa, sedangkan untuk halaman berita ia berikan setelah siswa selesai mengerjakan soal.

”Jadi korannya kita berikan saat tryout berlangsung. Namun setelah mereka selesai mengerjakan, mereka kita beri waktu untuk membaca di dalam kelas, karena itu juga sebagai bentuk budaya literasi,” papar dia.

Saat ditanya kehidupan pribadinya, Eny mengaku sampai sekarang masih single. ”Saya belum menikah, mungkin karena terlalu fokus dengan kesibukan sebagai kepala sekolah,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia