alexametrics
Rabu, 08 Jul 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Jumlah Kasus Covid-19 Melonjak Tajam, IDI Jombang: Ancaman Serius

02 Juni 2020, 18: 33: 48 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Ketua IDI Jombang dr Achmad Iskandar Dzulqornain

Ketua IDI Jombang dr Achmad Iskandar Dzulqornain (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Lonjakan tajam jumlah pasien positif Covid-19 di Jombang mendapat respons IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Jombang.

Ketua IDI Jombang dr Achmad Iskandar Dzulqornain menilai, wacana new normal masih minim sosialisasi.

“Penambahan menunjukkan kasus ini faktanya masih berada di sekitar kita. Khawatir wacana relaksasi dan new normal ini akan disalah artikan masyarakat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Menurutnya Iskandar, wacana new normal dirasa belum tersosialisasikan secara utuh. Sehingga ada kehawatiran berdampak ke masayarakat. “Ini kan tidak disampaikan secara utuh, bisa disalahpahami masyarakat. Coba lihat di jalan bahkan ke kampung, yang awalnya sudah melakukan pencegahan, memasang barikade sekarang beberapa sudah dicopot,” imbuh dia.

Sedangkan lanjut dia, kasus sampai sekarang terus bertambah. “Jadi saya kira belum waktunya untuk relaksasi atau pelonggaran,” sambung Iskandar.

Terlebih menurut dia, menilik kondisi di lapangan yang kini dirasa sudah berubah. “Berapa yang disiplin kaidah dasar, entah itu pakai masker atau jaga jarak. Masih banyak yang abai,” terang Iskandar.

Karena itu menurut dia, kekhawatiran itu akan berdampak pada kasus yang bertambah. “Jangan sampai masyarakat menyikapi dengan cara berbeda. Kasus bertambah, sedangkan rumah sakit, baik di RSUD Jombang, Ploso atau RSK Mojowarno semua ruang isolasi full. Jadi jangan berfikir masalah ini sekarang sudah selesai,” ungkap dia.

Diakui, pertimbangan relaksasi itu karena faktor sosial. “Mungkin pemerintah terlalu berat menanggung beban, terutama aspek sosial dan ekonomi. Tetapi kita juga harus siap, misal betul pakai itu (new normal, Red) harus ada upaya pendisiplinan. Jadi bukan sekedar imbauan lagi, sudah larangan,” pungkas Iskandar.

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia