alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Kue Satru Khas Bedahlawak, Suguhan Keluarga yang Laris saat Lebaran

Bahannya Nasi Sisa, Lebih Awet Tanpa Kelapa

25 Mei 2020, 05: 48: 51 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kue satru atau yang biasa disebut emput makin digemari banyak orang. Kue yang awalnya hanya sebatas suguhan keluarga itu kini laris terjual. Tak heran, Lathifah, 83, warga Desa Bedahlawak, Kecamatan Tembelang membuat setiap tahun.

Kue satru atau yang biasa disebut emput makin digemari banyak orang. Kue yang awalnya hanya sebatas suguhan keluarga itu kini laris terjual. Tak heran, Lathifah, 83, warga Desa Bedahlawak, Kecamatan Tembelang membuat setiap tahun. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Kue satru atau yang biasa disebut emput makin digemari banyak orang. Kue yang awalnya hanya sebatas suguhan keluarga itu kini laris terjual. Tak heran, Lathifah, 83, warga Desa Bedahlawak, Kecamatan Tembelang membuat setiap tahun.

Setiap tahun saat lebaran, suguhan kue tradisional ini seakan-akan menjadi hidangan wajib di meja Lathifah. Maklum, kue satru ini memang yang paling dicari cucu dan cicitnya saat berkunjung ke rumahnya. Selain empuk, satru yang dibuatnya sendiri juga manis dan legit.

“Sudah lama saya bikin kue ini, diajarkan ibu dulu, semua yang datang ke sini pasti yang dicari, ya jajan emput,” katanya. Ia lantas menceritakan pembuatan kue tradisional ini yang cukup rumit. Prosesnya dari menjemur sisa nasi yang masih bersih hingga menjadi karak. Sisa nasi itupun milik sendiri sehingga tahu tingkat kebersihannya.

Jika karak harus membeli dari orang lain, maka ia harus mencuci dulu sampai betul-betul bersih. Baru kemudian karak yang bersih dijemur kembali. Setelah kering, karak itu dipilah lagi untuk membedakan antara yang sudah hancur dengan yang masih kasar. Setelah itu disangrai menggunakan gerabah tanah liat.

Tidak sembarangan, proses sangrai juga tetap menggunakan tungku kayu bakar agar menghasilkan aroma khas. Proses sangrai ini terpisah antara karak halus dengan karak kasar. “Kalau disangrai bareng nanti matangnya tidak merata,” tambahnya. Hal inilah yang membuat kue satru buatan Lathifah warnanya putih bersih. “Karena karaknya tidak ada yang gosong, disangrai sendiri-sendiri,” imbuh dia.

Belum selesai disitu. Giliran kacang hijau yang juga disangrai. Setelah matang, kulit kacang hijau dibuang. Baru setelah itu dicampur dengan karak yang sudah disangrai. Ditambahkan gula dan sedikit garam. Untuk lima kilogram karak, tambahan gula pasir cukup 1,5 kilogram.

Setelah tercampur semua baru dibawa ke jasa penggilingan untuk dihaluskan. Kue satru buatan lathifah sedikit beda dengan yang lain. Jika banyak orang menggunakan kelapa yang juga disangrai, satru buatannya justru tidak. Menurutnya, tanpa kelapa kue satru lebih awet. “Kalau pakai kelapa menurut saya apek,” ujarnya.

Setelah semua bahan menjadi halus, baru bisa dicetak dan dikukus selama 10 menit. Mengukusnya ini juga perlu hati-hati agar tidak terkena tetesan air. Tutup kukusan harus diberi lap bersih sebelum digunakan. Saat bahan dikukus pun juga tidak bisa ditumpuk agar bisa matang sempurna.

“Jadi membuatnya perlu telaten dan ulet,” bebernya. Selama lebaran, ia  membuat kue tradisional ini hingga melalui empat musim cetakan. Dari bahan yang diletakkan di loyang yang kemudian diiris setelah matang. Kemudian muncul musim cetakan yang besar-besar. Setelah itu menggunakan cetakan kecil per biji seperti sekarang.

Kini, ia lebih menggunakan cetakan kecil dengan bentuk beragam. Satu cetakan bisa berisi 10 kue. Meski sudah memasuki usia lanjut, Lathifah masih tampak sehat dan mampu membuat kue satru dalam jumlah banyak setiap hari.

Bahkan tahun ini tidak hanya dikonsumsi sendiri dan keluarga, tapi juga satru buatannya dijual. Ide menjual kue satru itu muncul dari sang cucu yang tinggal serumah. Kue satru dikemas dalam toples yang apik, diberi stiker dan diunggah ke media sosial. Peminatnya cukup banyak, bahkan pengiriman dilakukan hingga ke Jakarta.

Apalagi, kue satru yang dijual cukup terjangkau hanya Rp 20 ribu per toples. “Banyak juga yang beli dari luar kota, yang dari Jombang sendiri juga banyak,” pungkas nenek 15 cucu dan 7 cicit ini. (wen)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia