alexametrics
Selasa, 07 Jul 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Jombang Dulu Pernah Punya Lapangan Terbang, Lokasinya di Badang Ngoro

25 Mei 2020, 05: 46: 49 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dibangun sebelum pecah perang pasifik oleh Belanda, lapter berada di lahan cukup luas namun terlindungi di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Tahap pertama pembangunan, selesai 4 Agustus 1937.

Dibangun sebelum pecah perang pasifik oleh Belanda, lapter berada di lahan cukup luas namun terlindungi di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Tahap pertama pembangunan, selesai 4 Agustus 1937. (Azmy Endiyana Z/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Sekilas, lapangan di Desa Badang, Kecamatan Ngoro terlihat seperti lapangan biasa. Namun, dulunya lapangan ini dijadikan lapangan terbang (lapter) yang dibangun pemerintah Belanda sebelum pecah perang pasifik menghadapi Jepang.

Dibangun sebelum pecah perang pasifik oleh Belanda, lapter berada di lahan cukup luas namun terlindungi di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Tahap pertama pembangunan, selesai 4 Agustus 1937.

Lapter ini terletak kira-kira 24 kilometer sebelah selatan dari pusat kota Jombang. Nama resmi Ngoro Airfield, namun disamarkan dengan nama Blimbing Airfield. Penyamaran nama ini untuk membingungkan intelijen musuh.

Lapter memiliki dua landasan pacu (runway) dengan kualitas yang rata dan halus. Landasan taksi (taxi way) mengarah ke hutan di sekitar lapangan terbang, di mana pengejaran musuh dapat disamarkan dan disembunyikan dari pengamatan udara.

”Lokasi disamarkan dengan sangat hati-hati sehingga seorang pilot Belanda yang berpengalaman, harus memandu kedatangan pesawat USAAF P-40 milik Amerika Serikat, yang akan mendarat di pangkalan baru,” ujar M Faisol, penelusur sejarah perjuangan di Jombang.

Untuk merahasiakan lokasinya, saat lepas landas, pilot pesawat lebih dulu mengarah ke arah kota sebelum naik ke ketinggian. Pendaratan dilakukan dengan cara yang sama. Mendekati lapter dibuat pada ketinggian rendah, dan pilot baru muncul secara mendadak untuk menurunkan roda pesawat, sebelum mendarat.

”Jenis pesawat Amerika USAAF P-40 dan pesawat pembom B-17 dioperasikan dari Lapter Ngoro ini selama perang Pasifik menghadapi Jepang,” ceritanya. Pada periode Februari 1942, hingga menyerah Maret 1942. Lapter ini akhirnya tetap ketahuan dan jatuh serta diduduki Jepang sejak awal Maret 1942.

Perluasan tahap kedua, tanah tambahan dibeli 8 Februari 1938 yang memperluas jangkauan pendekat ke landasan pacu. Landas pacu (runway) pertama sepanjang  990 yard (900 meter), dengan pendekatan yang jelas di setiap ujung. Landas pacu kedua ini sepanjang 1.155 yard (1.040 meter), dengan pendekatan terbuka dipacu dari arah timur ke barat. Sementara area barak tersembunyi di sekitar Desa Badang.

”Lapter ini tersembunyi dengan semak-semak yang digunakan sebagai kamuflase yang terlipat ketika pesawat mendarat, kemudian tersentak naik setelah itu,” ungkapnya.

Pada 16 Januari 1942, pesawat jenis P-40E Warhawk yang dipiloti Walt Coss mengikuti pesawat Tigermoth Belanda dari lapangan terbang Perak (Surabaya) ke Lapter Ngoro. Untuk melakukan survei yang selanjutnya digunakan pasukan pengejar Amerika Serikat. Digunakan Angkatan Udara AS selama kampanye perang Jawa awal 1942. Selanjutnya 16 Februari 1942, enam belas pesawat jenis P-40 lepas landas dari Lapter Ngoro dalam sebuah misi untuk mengawal pesawat pembom B-17 yang akan menyerang pasukan invasi Jepang di Pulau Dewata.

Namun, akhirnya Belanda tidak bisa mempertahankan pulau Jawa. ”Setelah Belanda menyerah ke Jepang, pesawat Amerika harus diungsikan ke Australia,” terangnya. Jombang kemudian dikuasai oleh Jepang seperti wilayah-wilayah yang lain. Setelah Indonesia merdeka lahan itu dimiliki negara, dengan pengawasan yang diserahkan pada Komando Operasi (Koops II) TNI AU.

Menurut Fatchur Roji, purnawirawan TNI AU sekaligus warga sekitar, dulu lapangan itu memang berupa landasan pesawat terbang. Namun, sekarang sudah menjadi lapangan hewan ternak dan lahan pertanian. “Dulu memang ada berupa landasan pesawat terbang, tapi kini sudah menjadi lahan pertanian dan lapangan bola,” terangnya.

Saat ini, keberadaan lapangan digunakan untuk kegiatan masyarakat bermain sepak bola dan olahraga lainnya. Biasanya,  untuk peringatan hari besar TNI AU dan latihan penerjunan pasukan Linud. Ada giat aeromodelling untuk mengenang masa-masa perang. “Untuk hari besar TNI AU biasanya digelar giat aeromodeling,” pungkas Roji.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia