alexametrics
Minggu, 05 Jul 2020
radarjombang
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Putus Penyebaran, Gugus Tugas Covid-19 Jombang Kuatkan Koordinasi

19 Mei 2020, 17: 19: 45 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Gugas PP Covid-19 Jombang saat menggelar konferensi pers.

Gugas PP Covid-19 Jombang saat menggelar konferensi pers. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Guna memutus tali rantai persebaran, Gugus Tugas Percepatan Penanganan (Gugas PP) Covid-19 Jombang menguatkan koordinasi. Salah satunya, melakukan karantina ketat pada orang tanpa gejala (OTG) baik secara mandiri maupun di tempat karantina yang sudah disiapkan di gedung SD setiap desa.

“Koordinasi ini sangat penting karena kita tidak mungkin setiap hari memantau ke rumah pasien,” ujar dr Pudji Umbaran, Koordinator Bidang Penanganan Gugas PP Covid-19 Jombang.

Pihaknya berkoordinasi dengan bidang pencegahan, yang sudah melakukan isolasi pada orang tanpa gejala (OTG). Baik secara mandiri, maupun di rumah karantina gedung SDN. Setelah muncul keluhan dari OTG, baru bidang penanganan bertindak memeriksa.

Pemeriksaan lebih dulu dilakukan di faskes tingkat satu yaitu puskesmas. Jika muncul kecurigaan yang mengarah ke Covid-19 seperti hasil rapid test yang reaktif, maka akan digeser ke faskes yang lebih tinggi yaitu rumah sakit.

Di rumah sakit akan menjalani pemeriksaan laboratoris dan radiologis. Hasilnya akan dianalisa, jika mengarah ke Covid-19, maka pasien akan dirawat dan dilakukan uji swab. Jika tidak, pasien diperbolehkan pulang namun tetap isolasi mandiri di rumah selama dua minggu.

“Nah sejak masuk ke puskesmas itu tidak dikenakan biaya lagi, karena dia mau lapor. Kecuali dia tidak mau lapor ternyata muncul gejala, disitu dia harus bayar sendiri. Maka dari itu lebih baik lapor dan jujur,” jelasnya.

Koordinasi gugus tugas tidak hanya dilakukan ke lintas bidang saja. Tapi juga ke camat, jika rilis pasien yang dilepas pulang ke rumah. Camat akan diundang untuk dijelaskan mekanisme pengawasan. Selanjutnya, camat yang melakukan koordinasi lagi dengan pihak desa untuk melakukan pemantauan.

“Pemantauan kita lakukan secara berkala. Baik secara langsung maupun melalui telepon. Selanjutnya kita pasrahkan kea camat hingga linmas yang ditugaskan,” ujarnya.

Selain itu, antisipasi terhadap wabah juga dilakukan dengan rapid test terhadap beberapa kelompok yang sering bersentuhan langsung dengan orang banyak.

Seperti Forkopimda, jajaran kepolisian, camat, kepala OPD, wartawan dan pedagang di pasar. Dengan berbagai upaya pencegahan yang sudah dilakukan, Pudji berharap wabah korona bisa segera berakhir.

Ia juga mengingatkan kepada masyarakat untuk mematuhi anjuran pemerintah. Bagi pendatang dari luar kota termasuk zona merah juga diwajibkan melapor dan menjalani isolasi di posko.

“Justru yang lebih penting laporan pendatang. Karena kalau sudah positif pasti kita tangani. Kalau OTG, itu lebih berbahaya karena kita tidak tahu apakah dalam tubuhnya ada virus atau tidak,” pungkasnya.

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia