alexametrics
Minggu, 12 Jul 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Mengenal Petirtaan Sumberbeji, Peninggalan Majapahit yang Terpendam

18 Mei 2020, 13: 45: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Situs petirtaan kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro

Situs petirtaan kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Penemuan situs ini, sempat menghebohkan warga Kabupaten Jombang. Situs petirtaan kuno di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro ini awalnya hanya dianggap  mata air biasa. Namun setelah digali, temuan kuno di dalamnya mengandung banyak sejarah.

Situs ini, berada di tanah desa di perbatasan Desa Kesamben dan Desa Badang. Bangunan ini, awalnya hanya diketahui hanya berbentuk sebuah mata air di sudut berbentuk persegi. Mata air ini, jadi sumber pengairan untuk sawah petani di sekitar Desa Kesamben, lantaran airnya yang tak pernah kering.

Hingga Juli 2019 lalu, sekelompok pemuda desa, bermaksud membersihkan mata air di sendang itu. Namun, saat pembersihan, mereka menemukan struktur batu bata kuno sepanjang beberapa ratus meter. Struktur bata ini  terpendam dan tak berfungsi, karenanya air muncul dari lubang persegi itu.

Lambang garuda yang ditemukan di situs petirtaan kuno Dusun Sumberbeji.

Lambang garuda yang ditemukan di situs petirtaan kuno Dusun Sumberbeji. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Ekskavasi pun dilakukan, sejak Agustus 2019. Petugas dari BPCB Trowulan menemukan sejumlah struktur lain pun ditemukan. Bentuknya jauh lebih besar, dan mulai tampak membentuk petirtaan. Luas bangunan 18 x 24 meter. Situs ini terpendam di dasar kolam dengan kedalaman sekitar 2-3 meter dari bibir kolam.

Struktur bangunannya, menyimbolkan legenda samudramantana, yakni keyakinan dalam Agama Hindu tentang penciptaan air suci lewat pengadukan samudra susu. Unsurnya yakni tubuh ular yang melilit kura-kura dengan gunung di atasnya.

Dimana saluran air masuk dan keluar di masing-masing ujungnya, dengan bangunan utama berupa gunungan dan pancuran air di bagian tengah. Bangunan utama ini dikelilingi kolam dengan kedalaman 1,2 hingga 1,5 meter.

Hingga akhir 2019, sudah tiga tahap ekskavasi dilakukan pada situs ini. Belum seluruh bagian terlihat, namun secara umum, fungsi dan bentuk bangunannya sudah bisa terbaca. Bangunan ini diperkirakan sudah ada sejak sebelum kebesaran Kerajaan Majapahit.

’’Diperkirakan ada sejak abad ke 10-12. Artinya sebelum Majapahit, atau Majapahit muda, tapi digunakan sampai era Majapahit, bahkan sempat direnovasi pada masa Majapahit,” ucap Wicaksono Dwi Nugroho, ketua tim Arkeologi BPCB Trowulan yang memimpin ekskavasi Sumberbeji. Ekskavasi lanjutan, akan dilakukan pada tahun ini, namun terganjal kondisi darurat bencana pandemi Covid-19.

Diyakini Petirtaan Petinggi Kerajaan

SITUS Sumberbeji ini dinilai arkeolog BPCB Trowulan bukan sekadar petirtaan biasa. Struktur bangunan yang sangat rapi, juga banyaknya temuan benda penting dan megah di dalamnya, mengindikasikan petirtaan ini adalah petirtaan sekelas kerajaan.

Hal pertama bisa dilihat di sejumlah temuan jaladwara, atau pancuran air berbahan batu andesit. Sepanjang penggalian Sumberbeji, ditemukan belasan  benda ini. Baik yang  kecil maupun  besar, seluruhnya memiliki ukiran khas yang berbeda satu dan lainnya.

’’Istilah arkeologi ukirannya ini raya, ukirannya rapi dan detil, jadi memang akan sangat mustahil bila bangunan sekelas pemukiman, desa bahkan bangunan pribadi kala itu, menggunakan ukiran sedetil ini,” terang Wicaksono Dwi Nugroho, ketua tim Arkeologi BPCB Trowulan.

Saluran air dalam struktur bata, juga terlihat dibangun sangat  detail.  Tak jarang, pada beberapa sisi saluran hingga kini masih bisa dilihat air yang keluar dari sela-sela salurannya. ’’Tidak seluruh saluran airnya mati memang, ini juga bukti kerja yang sangat rumit dan hati-hati pada bangunan ini,” lanjutnya.

Pada bangunan Sumberbeji juga ditemukan adanya penggunaan teknologi takikan. Yakni pola saling kunci antar batu bata penyusun petirtaan. ’’Takikan ini umumnya ada pada beberapa candi atau situs yang bahannya batu andesit ya, jarang ditemukan pada batu bata. Ini menunjukkan jika bangunan ini dibangun dengan kualitas yang benar-benar utama, juga,” lontarnya.

Yang paling menghebohkan, tentu saja ditemukannya jaladwara berbentuk arca Garudeya. Arca ini, adalah satu-satunya Garudeya yang ditemukan dalam kondisi utuh dan in-situ pada sebuah situs petirtaan. Keberadaan arca ini, sangat menggambarkan bagaimana pentingnya bangunan ini bagi sebuah peradaban kerajaan.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia