alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Kasmini, Contoh Warga Miskin Jombang yang Bertahan Hidup saat Pandemi

Tinggal di Gubuk, Andalkan Bantuan Tetangga

18 Mei 2020, 12: 24: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Tu’ah, warga Desa Jarak Kulon, Kecamatan Jogoroto yang hidup sebatang kara di rumah tak layak miliknya.

Tu’ah, warga Desa Jarak Kulon, Kecamatan Jogoroto yang hidup sebatang kara di rumah tak layak miliknya. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

Diantara warga mampu yang menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah, justru ada sebagian warga tak mampu bertahan hidup di tengah pandemi. Ada yang mengaku tak dapat bantuan, ada yang tinggal di rumah reot dan mengandalkan belas kasih tetangga.

JOMBANG - Dengan langkah tertatih-tatih, Kasmini nenek tua yang hidup sebatang kara di Dusun Mojodadi, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang mencoba meraih secangkir teh di mejanya kemarin. Terhitung sekarang, usia Kasmini, genap 58 tahun ini. Ia hidup sendirian di sebuah rumah kecil berukuran 6 x 4 meter dari bambu yang kini sudah reot.

Ya, Kasmini adalah lansia yang bertahan hidup hanya dengan mengadalkan belas kasih tetangganya. Dulunya, ia masih bisa bekerja sebagai tukang pijat. Namun setelah mengalami kecelakaan dua tahun silam, kini ia tak punya tenaga untuk berjalan jauh. ”Dulu masih bisa tandur, tapi setelah terpeleset di sungai kakinya mbok sudah tak kuat,” ucapnya lirih saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di rumahnya.

Perempuan kelahiran 21 April 1952 ini tak memiliki keluarga sama sekali. Suaminya, sudah lama meninggal karena sakit beberapa tahun silam. ”Anak tidak punya, suami sudah meninggal,” tambahnya.

Untuk makan dan minum sehari-hari, ia mengandalkan belas kasih tetangga dan orang lain. Ditanya mengenai bantuan pemerintah, Kasmini mengaku tak dapat. Sejauh ini dirinya pun tak pernah didatangi pihak desa. ”Saya belum didata, juga belum dapat bantuan,” pungkasnya.

Diwawancara terpisah, Khafid Junaidi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Sumobito mengaku jika Kasmini tidak masuk dalam data penerima BLT. Namun, diketahui, Kasmini sudah terdata menjadi KPM BPNT. ”Memang aturannya tidak bisa, kalau sudah masuk BPNT atau PKH tidak bisa diusulkan lagi di BLT,” ujar dia.

Dia menerangkan, jika Kamisni setiap bulan sudah tercover bantuan pangan non tunai. ”Jadi setiap bulan sudah kami antarkan bantuannya, karena bu mini adalah KPM akatif di Desa Plemahan,” pungkasnya.

Tak jauh berbeda dengan nasib Kasmini, Tuah, 60 warga Dusun Santren, Desa Jarak kulon, Kecamatan Jogoroto juga hidup sendiri di rumahnya. Untuk makan sehari-hari ibu satu anak ini mengandalkan belas kasih orang lain. ”Saya punya anak, tapi sudah tinggal dengan suaminya,” ujar dia.

Di masa pandemi, ia mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah baik BLT-DD, BLT Kemensos maupun BLT APBD. ”Belum dapat, kemarin hanya dapat dari santunan sembako dari bapak polisi,” pungkasnya.

Ngatini tetangga Tuah mengatakan, untuk kebutuhan makan sehari-sehari Tuah  mengandalkan dari tetangganya. ”Kalau makan ya kadang saya kasih, kadang di kasih tetangga lain,” ujar dia.

Dia menyebut, sampai saat ini Tuah juga belum mendapat bantuan sosial dari pemerintah. ”Tadi saya cek namanya tidak ada, dan sampai sekarang juga belum didata,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia