alexametrics
Minggu, 05 Jul 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Lebih Dekat dengan Manager PSID Jombang H Arif Mahfud

17 Mei 2020, 06: 03: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

H Mahfud Arif (topi merah) mendampingi Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab di Stadion Merdeka beberapa waktu lalu.

H Mahfud Arif (topi merah) mendampingi Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab di Stadion Merdeka beberapa waktu lalu. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Berbekal loyalitas cukup tinggi, Mahfud Arif didapuk menjadi manager klub sepak bola kebanggaan Jombang. Ia mampu mengantarkan PSID Jombang menjadi kesebalasan profesional.  

H Mahfud Arif lahir di Jombang 24 Juni 1976. Ia putra ke-6 dari 9 bersaudara pasangan Kasmaji dengan Ruqoiyah yang dari Sidoarjo. Semasa kecil, ia menghabiskan waktu di Desa Bongkot, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang bersama tiga saudara perempuan dan lima laki-laki.

Sama seperti anak desa lainnya, Mahfud mengawali pendidikan di Madrasah Ibtidaiah di Desa Bongkot dan MTs Rahmat Sa’id. Kemudian melanjutkan jenjang SMA di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan. ”Setelah lulus SMA saya langsung bekerja,” ujarnya ditemui Jawa Pos Radar Jombang kemarin.

H Mahfud Arif, Manager PSID Jombang dalam bingkai foto.

H Mahfud Arif, Manager PSID Jombang dalam bingkai foto. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Arif, begitu biasanya disapa, menceritakan kali pertama bekerja itu sebagai teknisi handphone salah satu merk terkenal di Korea Selatan. Di sana ia belajar banyak mengenai perakitan, perawatan sekaligus penjualan perangkat elektronik yang terkenal itu. ”Saya di sana sembilan tahun mulai 2001-2009,” kenangnya.

Meski dibayar mahal dan hidup mapan di negeri gingseng, Arif merasa rindu dengan kampung halaman. Setelah 9 tahun menjalani kehidupan di Korea Selatan, ia pulang ke Indonesia. ”Di sana gaji saya lumayan tinggi. Waktu itu sekitar Rp 20 juta lebih, namun akhirnya pulang ke Indonesia,” terangnya.

Setelah pulang, Arif langsung menikah dengan perempuan pujaan hatinya Emi Mahfiyah. Tepatnya, 7 Juli 2009. Dari pernikahannya itu mereka dikaruniai tiga anak perempuan. Masing-masing Nesrin Azzahra Arif, Naura Nadhifa Arif dan Fathiyah Ansia Arif.

Awal mula perjalanan dia menjadi manager PSID dimulai 2018. Sebagai pengusaha sekaligus pecinta sepak bola, ia didapuk salah satu pentolan PSID Jombang menjadi manager kesebelasan laskar Kebo Kicak. Berbekal pengalaman, dua tahun berjalan PSID semakin moncer.

Arif tak segan merogoh kocek pribadinya untuk tim. Selama dua tahun menjadi manajer, tim klub sepak bola PSID Jombang makin solid dan kompak. ”Alhamdulillah teman-teman di lapangan juga kompak, baik saat latihan maupun bermain,” ujar dia.

Tidak hanya mengantarkan PSID berhasil masuk babak 32 besar dua tahun berturut-turut. Arif juga mampu mendongkrak performa tim. Pada 2019, PSID finish di peringkat ketiga klasemen grup H babak 32 besar nasional. Hasil dua kali seri dan hanya sekali kalah. Keduanya sama-sama dengan skor 1-1. Serta hanya satu kali kalah dari Persemi Mimika Papua dengan skor 1-3. ”Hasil itu lebih bagus dibanding tahun sebelumnya,” tandasnya.

Hobi Ngetrail untuk Bakti Sosial

SELAIN aktif di dunia sepak bola, pria yang dikenal supel ini memiliki hobi menantang. Ya, hobi ngetrail dengan medan terjal dan menantang. Bukan hanya untuk kesenangan semata, hobinya itu sering diisi dengan kegiatan bakti sosial.

”Kalau ngetrail memang saya hobi. Sejak kecil ingin bisa menjadi pembalap tapi terkendala modal,” ujar dia. Setelah banyak mendapat kenalan yang sehobi, akhirnya bapak tiga anak ini memutuskan bergabung dengan Jombang Motor Club (JMC).

”Ada banyak kegiatan baksos yang kita kemas dalam event ngetrail. Hasil uangnya kita berikan untuk pembangunan masjid, panti asuhan dan lain-lain,” paparnya.

Ia juga sering ngetrail di beberapa daerah di Jawa Timur, khususnya Jombang di Wonosalam hingga Plandaan. ”Kita sering ngetrail. Tapi kegiatannya lebih banyak ke baksos,” terang dia. Selama ngetrail itu tidak ada lomba atau kejuaraan yang diikuti. Semua didasari dari hobi.

Kendati demikian, Arif mengaku sering mendapat hadiah maupun doorprize dari hobi ekstremnya itu. ”Kami lebih sering adventure (petualangan) dan saya sering dapat undian seperti kipas angin, sepeda MTB hingga hadiah lainnya,” pungkasnya.

Giat Baksos Disinfektan Selama Pandemi

SIKAP peduli sesama juga ditunjukkan Mahfud Arif. Selama pandemi Covid-19, ia mengadakan baksos penyemprotan disinfektan secara gratis di 21 kecamatan di Jombang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian agar persebaran virus tidak meluas.

Arif menyampaikan, alasan utama dirinya merogoh kocek pribadi itu ingin berguna bagi masyarakat banyak. Terutama di daerah pinggiran yang tingkat kesadaran masyarakat masih rendah.

Selain itu dia merasa iba, di satu sisi pemerintah meminta masyarakat untuk tetap di rumah, namun di sisi lain tidak ada gerakan pembasmian virus korona. ”Itu kan percuma,” ujarnya.

Pemerintah desa maupun daerah harus bersungguh-sungguh memerangi Covid-19 di Jombang. Terutama melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala di penjuru maupun pelosok desa. Namun faktanya kegiatan tersebut minim dilakukan. ”Tidak ada langkah preventif yang dilakukan, artinya ini kan sama saja,” papar dia.

Dari kegiatan baksos itulah ia berharap pemerintah terketuk hati untuk melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala di setiap desa/kelurahan. ”Itu dilakukan untuk memutuskan mata rantai Covid-19,” terangnya.

Sebelum Ramadan, hampir semua kecamatan sudah disemprot. Ia bersama tim turun melakukan penyemprotan mandiri. ”Semua sudah, mulai Bareng, Perak, Kesamben hingga Plandaan sudah kita bantu. Dan itu semua dana pribadi,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia