alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Tradisi Nyekar di Bulan Ramadan, Petani Bunga Pacar Air Banjir Order

17 Mei 2020, 05: 24: 45 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dusun Dukuh, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, salah satu wilayah yang menjadi sentra bunga pacar air.

Dusun Dukuh, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, salah satu wilayah yang menjadi sentra bunga pacar air. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Bunga pacar air atau biasa disebut bunga cimbong akan diburu jelang hari raya. Moment ini paling ditunggu karena penjualan laris manis seiring dengan banyaknya warga yang menjalani tradisi nyekar.

Seperti di Dusun Dukuh, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, salah satu wilayah yang menjadi sentra bunga berwarna merah ini. Hampir di tiap halaman depan atau lahan kosong, selalu ditanami bunga pacar air. Termasuk area sawah juga semakin banyak yang ditanami sebutan bunga cimbong ini.

Salah satunya Kasan, warga setempat yang terlihat sibuk memetik bunga. Aktivitas itu dijalaninya sejak awal puasa dan diperkirakan hingga jelang hari raya nanti. “Kalau hari ini (kemarin, Red) sudah tidak lagi petik, soalnya besok (hari ini, Red) libur. Tidak kirim,” kata Kurniawan Santoso, salah satu anak Kasan, kemarin (16/5).

Menurutnya, dampak pandemi Covid-19 hingga diberlakukannya PSBB di Surabaya turut dirasakannya. Meski tak seberapa, namun dia bersama petani bunga pacar yang lain tetap berjuang agar bisa menjual bunga. “Kalau bicara pengaruh ya jelas pengaruh, tapi tidak seberapa. Soalnya hanya pengaruh waktu jual ke Surabaya itu saja,” imbuh dia.

Untuk penjualan dianggapnya cenderung fluktuatif. Paling-paling, frekwensi penjualan dari petik bunga yang lebih lama. Sebelumnya dalam seminggu bisa lima kali petik. “Saat ini hanya empat kali, jadi sekarang Minggu libur. Makanya hari ini tidak petik. Kalau dulu Minggu masih tetap kirim,” terang Iwan, sapaan akrabnya.

Kendati begitu untuk penjualan bunga ke Pasar Kupang Surabaya setiap hari tidak berubah. “Kalau disebut berapa sebenarnya tidak tentu. Tapi, Alhamdulillah sampai sekarang masih sama, bisa bawa banyak, soalnya di sana ada yang ngecer sama yang jual sendiri,” papar dia.

Iwan sendiri menjadi satu diantara empat petani di tempatnya yang penjualan bunga dilakukan di Kota Pahlawan. “Kalau yang lain itu dijual di Jombang sendiri,” sambungnya. Lebih dari itu, jadwal pengiriman sekarang dilaksanakan lebih pagi. “Ya kirim sekarang antara pukul 03.00-03.30 berangkat dari Jombang. Kalau dulu tidak sepagi itu,” ungkapnya sambil tertawa.

Untuk harga, dirasakan Iwan masih sama. Dia menjual ke Surabaya satu kresek merah besar dengan antara Rp 10.000-Rp 20.000. “Biasanya menjelang Idul Fitri atau prepekan itu naik sampai Rp 50.000,” ungkap dia.

Hanya saja, di musim seperti sekarang, di beberapa titik tanaman bunganya sudah tidak produktif sehingga dibabat habis. “Kalau yang ini sudah dibabati semua. Usianya sudah tiga bulan, jadi tidak produktif lagi. Waktunya diganti, rencananya ditanami jagung,” pungkas Iwan.

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia