alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Kreatifitas Budi Setiadi Sulap Limbah Jati Belanda Jadi Hiasan Dinding

07 Mei 2020, 17: 58: 45 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Di tangan Budi Setiadi, salah satu perajin, lembaran limbah jati itu disulap menjadi hiasan dinding minimalis.

Di tangan Budi Setiadi, salah satu perajin, lembaran limbah jati itu disulap menjadi hiasan dinding minimalis. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Kayu jati Belanda memang punya daya tarik sendiri bagi pecinta seni. Di tangan Budi Setiadi, salah satu perajin, lembaran limbah jati itu disulap menjadi hiasan dinding minimalis. Ditengah pandemi seperti sekarang, hiasan inipun tetap laris.

“Memang tertarik hanya jati Belanda, karena bagus seratnya sangat terlihat, jadi nilai seni terlihat,” ucap Budi Setiadi, warga Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupaten Jombang, ditemui beberapa waktu kemarin.

Menurutnya, tidak hanya bagus dari sisi serat kayu yang terlihat jelas, jati Belanda juga kuat. Tekstur kayunya sangat kering sehingga awet karena anti serangga. Sehingga lembaran limbah jati itu kemudian diolah menjadi hiasan dinding.

Sebenarnya, cerita Budi, ia tak berniat untuk membuat hiasan dinding dari limbah kayu jati Belanda. Sebab, ia cukup lama menekuni sovenir pernikahan. Namun setelah mengikuti perkembangan jaman yang terus berubah, banyak orang yang menginginkan sesuatu unik sebagai pernak pernik pernikahan, seperti kotak cincin.

Sekitar 2019, ia mulai membuat kotak cincin dengan sistem manual. Yaitu beli kayu secukupnya, cari tukang seadanya, dan membuat desain sendiri. Kali pertama membuat itu dirasakannya sangat ribet dan mahal. Berbekal itu ia kemudian menabung untuk membeli alat tukang sendiri untuk produksi secara berkelanjutan.

“Kalau cari desain, kayu, tukang, ribet dan lama, jadi nekat beli alat sendiri, konsekwensinya harus berkelanjutan dan produksinya banyak,” ungkap dia. Setelah peralatan lengkap, sebagai produksi pertama, ia membuat kotak cincin dan hiasan mahar dari kayu jati Belanda. Hasilnya, ternyata cukup diminati pasar.

Sejak saat itu kemudian terpikir untuk membuat hiasan dinding minimalis dan unik. Termasuk membuat perabot rumah tangga unik, seperti rak bunga, tulisan hias, rak serbaguna, jam hias, mahar dan lain sebagainya. Semua didesain sendiri dengan  menyesuaikan permintaan pemesan.

Tak disangka, limbah kayu jati Belanda banyak diterima masyarakat. Setiap hari ia bisa menghasilkan lima set hiasan dinding. “Minimal satu hari terjual satu set, entah itu hiasan dinding, jam hias, atau hiasan kotak cincin,” tambah Budi.

Untuk proses pembuatan, kayu lembaran yang dibeli dari Sidoarjo itu dihaluskan menggunakan mesin. Kemudian dipotong sesuai desain, diamplas dan dirakit menggunakan paku tembak atau lem kayu. Baru kemudian masuk tahap akhir yaitu pernis agar warna kayu tampak mengkilat tanpa menghilangkan warna asal, yaitu putih kecokelatan. “Tanpa ada pengecatan, agar serat kayu tidak hilang,” tambah ayah dua anak ini.

Selain membuat stok untuk dipajang di gerainya, ia juga menerima pesanan. Bentuknya juga bisa disesuaikan dengan keinginan pemesan. Misalnya untuk hiasan dinding satu set isi tiga sama bentuk beda ukuran, bisa dibeli polosan, bisa dibeli sekaligus dengan kreasi hiasannya.

Begitu pula dengan kotak cincin, bisa dibeli polosan, maupun dengan hiasan bunga. “Kalau kotak cincin kita juga menyewakan, karena ada yang berfikiran dipakai sebentar saja terlalu mahal kalau beli,” jelas dia.

Hiasan dari jati Belanda itu dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 85 ribu, hingga Rp 500 ribu. Untuk hiasan dinding satu set isi berisi tiga misalnya, dijual dengan harga Rp 180 ribu. Harga ini berubah jika minta dilengkapi dengan batu alam dan bunga hias, bisa mencapai Rp 250 ribu.

“Harga kita sesuaikan dengan permintaan pelanggan,” tambahnya. Olahan limbah jati Belanda ini menurutnya sebagai penolong ditengah pandemi Covid-19. Pasalnya, sovenir yang ia jalankan mandek, semua pesanan dijadwalkan mundur. Angpau lebaran yang ia buat juga sepi.

Berbeda dengan hiasan dinding, yang semakin mendekati hari raya akan semakin ramai. “Mahar, sovenir, dan semua pernak pernik pernikahan gak jalan selama masa korona, tapi Alhamdulillah untuk hiasan dinding minimalis dan kotak cincin yang unik justru lebih laku jelang lebaran ini,” pungkasnya.

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia