alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Ini Alasan Warga Kelurahan Jombatan Minta Dua Pasien Covid-19 Pindah

05 Mei 2020, 09: 06: 25 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Minggu malam (4/5), warga Kelurahan Jombatan mendatangi rumah yang menjadi tempat isolasi dua pasien Covid-19.

Minggu malam (4/5), warga Kelurahan Jombatan mendatangi rumah yang menjadi tempat isolasi dua pasien Covid-19. (Achmad Riza/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Dua pasien positif Covid-19 yang dipulangkan dari RSUD Jombang setelah hasil uji swab pertama negatif, ternyata tidak pulang ke rumah asal.

Mereka dikarantina di rumah warga RT 02/RW 01 Kelurahan Jombatan, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Pada minggu malam (4/5), warga sekitar mendatangi rumah itu dan minta kedua pasien pindah ke tempat tinggal semula.

Pantauan di lokasi, sekira pukul 20.00 puluhan orang sudah berada di pinggir Jl Ki Hajar Dewantara dan berkumpul di depan rumah salah satu warga. Rumah itu ditempati dua pasien Covid-19 yang baru saja pulang dari isolasi RSUD Jombang. Dua pasien itu merupakan ASN Kemenag Jombang berjenis kelamin laki-laki.

Semakin malam, warga yang berkumpul jumlahnya semakin banyak. Tak jarang mereka berteriak agar dua pasien positif itu segera pindah dari rumah berpagar putih. Tak berselang lama, warga kemudian menempel poster yang berisi tuntutan agar mereka segera pindah ke rumah asal. Lebih dari enam poster itu ditempel di pagar rumah. Hingga akhirnya keluarga dua pasien tiba dan sempat terjadi adu mulut.

Ahmad Nafik Ketua RT 02/RW 01 Kelurahan Jombatan mengungkapkan, warga merasa geram lantaran dua pasien positif tersebut bukan warga Kelurahan Jombatan. “Intinya warga minta segera dipindahkan, karena mereka bukan warga Jombatan,” katanya kepada awak media.

Dikatakan, sejumlah warga mengetahui kedua pasien berada di rumah itu sejak Rabu (29/4). “Tapi saya tahunya Kamis pagi,” imbuh dia. Dia sendiri tidak mengetahui persis siapa kedua orang yang berada didalam rumah tersebut. “Soalnya kami tidak dikasih tahu dan tidak ada laporan identitas dari mana,” ungkap Nafik.

Padahal, selama pandemi Covid-19 setiap warga yang masuk ke kampung harus didata. Terlebih bukan warga setempat. “Kalau ada tamu saja kan harus lapor, bermalam pun harus menunjukkan fotocopi KTP. Ini tidak ada,” beber dia.

Karena itulah warga dibuat geram. Mereka meminta keduanya meninggalkan rumah tersebut dan pulang sesuai alamat asal. “Tuntutan kami secepatnya, warga tidak mau tahu apakah dia positif atau negatif. Kalau pulang, ya pulang ke rumahnya,” beber dia.

Disampaikan, rumah yang ditempati keduanya merupakan sanak keluarga dari salah satu pasien. “Íni rumah Bu Luluk. Di rumah itu bukan tempat tinggalnya, tetapi ini tempat usaha. Apa memang layak, sebab ini kaitannya dengan lingkungan,” tegas dia.

Tak lama kemudian, pihak kemananan tiba di lokasi. Warga bersama dengan keluarga pasien kemudian diajak ke kantor kelurahan untuk melakukan mediasi. Mediasi yang dipimpin Camat Jombang Muhdlor didampingi Kapolsek Jombang kota AKP Wilono serta Lurah Jombatan sempat berjalan alot.

Baik warga maupun keluarga pasien nampak serius mengikuti jalannya mediasi. Tak jarang, setiap kali terjadi perdebatan warga yang hadir bersorak dan menyerukan agar kedua pasien segera pindah. Lebih lebih dari satu jam mediasi baru berakhir. Keputusannya, kedua pasien pindah ke rumah salah satu pasien di Desa Sengon.

“Karena masyarakat menghendaki beliau isolasi di tempat tinggalnya, Alhamdulillah sampai malam akhirnya warga dan keluarga pak SB dan AH bersepakat meninggalkan Jombatan,” kata Muhdlor Camat Jombang, usai mediasi malam (3/5). Pindahnya dua pasien itu karena memang bukan  warga Jombatan. “Karena beliau ini bukan penduduk Jombatan,” imbuh dia.

Muhdlor tak menampik, mediasi sempat berjalan a lot lantaran melibatkan dua keluarga dengan masyarakat sekitar. “Ini kan orang banyak, kalau hanya satu orang mudah diarahkan,” sambung Muhdlor. Kedua pasien akhirnya mau pindah ke Desa Sengon. “Ke rumah asli beliau di Sengon, keduanya tergantung beliau berdua, mereka jadi satu di rumah pak SB” tegasnya.

Terpisah, salah satu pihak keluarga pasien, mengaku keduanya pindah ke Desa Sengon. “Insyaallah dipulangkan ke rumah Sengon,” kata salah satu keluarga yang tidak mau disebut identitasnya. Semula kedua pasien tak dipulangkan ke Desa Sengon lantaran pihak keluarga merasa keberatan. “Kalau ke Sengon itu satu rumah harus isolasi. Karena itu kami keberatan, akhirnya mengajukan ke pemkab,” pungkas wanita ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di RSUD Jombang dipulangkan untuk menjalani isolasi mandiri di rumah. Ini setelah  hasil uji swab kedua keluar menyatakan negatif. Tiga pasien itu ASN Kemenag berjenis kelamin laki-laki asal Kecamatan Jombang, kedua ASN dokter berjenis kelamin perempuan asal Kecamatan Diwek dan pasien ketiga ASN Kemenag berjenis kelamin laki-laki asal Kecamatan Diwek. Ketiga pasien itu  tertular virus korona dari klaster Sukolilo setelah mengikuti pelatihan haji di Surabaya.

Hasil uji swab kedua untuk tiga pasien tersebut sudah keluar dengan hasil negatif. Pihak medis RSUD Jombang menyatakan sudah sehat secara klinis, namun belum bisa dinyatakan sehat secara laboratoris karena menunggu hasil uji swab selanjutnya. Sehingga butuh sekali lagi hasil uji swab negatif untuk dinyatakan sembuh.

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia