alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Lebih Dekat dengan Wawang Hoetawarman, Kepala SMAN Jogoroto

04 Mei 2020, 13: 19: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kepala SMAN Jogoroto yang juga Sekretaris MKKS SMAN Kabupaten Jombang Wawang Hoetawarman.

Kepala SMAN Jogoroto yang juga Sekretaris MKKS SMAN Kabupaten Jombang Wawang Hoetawarman. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Sosok kepala sekolah yang satu ini cukup dikenal karena memang paling senior. Beberapa sekolah pinggiran dan kota pernah dipimpinnya dalam kurun waktu cukup lama. Berderet prestasi pun diraih, akademik maupun non akademik baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional.

Ya, dia adalah Wawang Hoetawarman Kepala SMAN Jogoroto yang sekarang didapuk sebagai Sekretaris MKKS SMAN Jombang. Wawang lahir di Surabaya, 25 Januari 1962 dari pasangan Bambang Sutomo dengan Asri Diyatin. Sebagai anak pertama dari enam bersaudara, ia sejak kecil menghabiskan waktu di Kota Pahlawan.

Memulai pendidikan di SDN Alun-Alun Contong 1/87 Jl Sulung Surabaya lulus 1973. Kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Surabaya lulus 1976 dan SMAN 4 Surabaya lulus 1980. Cita-cita menjadi seorang guru memang didambakannya sejak kecil karena bisa mencerdaskan generasi bangsa.

Dalam hatinya terpatri, guru adalah pekerjaan yang mulia karena mencerdaskan anak bangsa. Untuk itu selepas SMA, ia memilih IKIP Surabaya Pendidikan Kimia sebagai tempat menimba ilmu jenjang S1. ”Setelah lulus saya meneruskan di Unesa Surabaya untuk mengejar pascasarjana,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (2/5).

Setelah lulus kuliah, Wawang kemudian mulai mengamalkan ilmu dengan menjadi pengajar sekaligus perintis berdirinya SMAN Jatirogo Tuban 1982. Ia juga menjadi perintis berdirinya SMAN 14 Surabaya. ”Baru 1986 saya diangkat menjadi PNS di Jombang setelah mengikuti perekrutan CPNS Kemendikbud,” jelas dia. 

Kali pertama masuk ke Jombang, Wawang menjadi guru Fisika dan Kimia di SMAN 1 Jombang. Kala itu, dia langsung mendapat amanah untuk mengajar di dua sekolah yakni SMAN 1 Jombang dan SMAN 2 Jombang. ”Saya juga diminta menjadi tim penyusun mapel Unas Kimia di pusat, sebagai instruktur Kimia di Jatim,” paparnya.

Hingga kemudian Wawang berkesempatan mengikuti kuliah di Malaysia setelah berhasil mendapat penghargaan sebagai instruktur nasional terbaik dari 286 pesaing.

”Alhamdulillah itu pengalaman yang berharga bagi saya,” jelas dia. Dalam kariernya sebagai guru, dirinya pernah juga ditarik ke Kemendikbud RI untuk menjadi Widyaiswara (PNS yang diberi tugas di lembaga diklat pemerintah, Red) guna menyusun Kurikulum 2004 yang kini lebih dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

”Kemudian 2006 saya mengundurkan diri karena merasa lelah harus bolak-balik PP Jombang-Jakarta,” pungkas pria yang sebelumnya menjabat kepala SMAN 2 Jombang dan SMAN Mojoagung ini.

Jalin Kerjasama Kelas Internasional

USAI mengundurkan diri sebagai Widyaiswara, Wawang kemudian mengikuti tes calon kepala sekolah di Jombang. Dari puluhan calon kepala sekolah yang ikut, ia berhasil meraih peringkat pertama. Tak menunggu lama, 2006 ia kemudian ditempatkan di SMAN Kesamben. 

Di sekolah pinggiran itu Wawang merasa ditantang untuk merubah sekolah pinggiran yang tak begitu dikenal menjadi sekolah unggulan. ”Memang saat itu kondisi SDM anak-anak belum bagus. Akhirnya, kami bersama bapak ibu guru bekerja keras mendorong anak-anak lebih semangat dalam belajar,” ujar dia.

Setelah dua tahun berjalan, prestasi siswa mulai membuahkan hasil. Secara perlahan, SMAN Kesamben menjadi salah satu sekolah rujukan di Jombang. Atas keberhasilannya itu ia kemudian dipindah ke SMAN Ploso. Di sekolah yang terletak di utara Brantas ini Wawang juga disuguhkan dengan kondisi sekolah yang cukup memprihatinkan. ”Bahkan disana peminatnya sedikit. Namun Alhamdulilah setelah tiga tahun banyak anak yang sekolah disana (SMAN Ploso). Siswa yang lolos PTN negeri relatif lebih banyak,” jelas dia.

Lalu, 2012 Wawang dipindah ke SMAN Mojoagung yang menghadapi penilaian sekolah RSBI dari pemerintah pusat. Dengan ketelatenan dan jiwa disiplin yang ditanamkannya, SMAN Mojoagung akhirnya bisa mendapat penghargaan terbaik nasional. ”Itu juga berkat kerja keras bapak ibu guru disana,” tuturnya bangga. 

Atas prestasi itu ia kemudian dipromosikan menjadi Kepala SMAN 2 Jombang. Selama memimpin di SMAN 2 Jombang banyak perubahan besar. Salah satunya, SMAN 2 Jombang terpilih sebagai satu dari tiga sekolah di Jawa Timur yang menjadi sekolah rujukan nasional. ”Ada 3 sekolah saja, SMAN 3 Malang, SMAN 5 Surabaya dan SMAN 2 Jombang,” papar dia.

Terakhir, saat menjadi Kepala SMAN Jogoroto, Wawang  juga berhasil menorehkan penghargaan bergengsi seperti usaha keras dan gebrakan yang dilakukan sebelumnya. Giliran, SMAN Jogoroto yang mendapat prestasi sekolah rujukan nasional. Jalin kerjasama kelas internasional pun dilakukan guna mendongkrak prestasi sekolah. ”Sekarang prestasi itu disandang SMAN Jogoroto sejak 2019 lalu,” tegasnya.

Menjadi kepala sekolah, Wawang juga pernah beberapa kali berkesempatan kuliah di luar negeri. Setelah berhasil meraih penghargaan Australian Award 2016 lalu, ia dapat menimba ilmu di Griffith Brinston selama dua bulan. Saat menjadi kepala SMAN Jogoroto, Wawang juga pernah beberapa kali menjalin kerjasama dengan beberapa kelas internasional.

Diantaranya University of New South Wales (UNSW) Global Australia yang membawahi International Competition and Assesments for School (ICAS), lembaga Peace Corps dari pemerintah United States, Osaka Kokusai Academy dan AIM Nara International Academy.

Tak berhenti disitu, bapak tiga anak ini juga pernah menjadi dosen pengampu di Stikes Pemkab Jombang, STKIP PGRI Jombang, perintis berdirinya Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum 1999. ”Kala itu diberi amanah jabatan oleh Kiai Asad Umar menjadi Dekan Fakultas MIPA, namun kini fokus di kepala sekolah,” pungkasnya.

Dipercaya Menjadi Sekretaris MKKS SMAN

SEBAGAI kepala sekolah senior di Jombang, Wawang Hoetawarman dipercaya menjadi Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMAN Jombang sejak 2016 atau lebih tepatnya saat menjadi kepala SMAN Jogoroto. Pengalamannya memimpin sekolah hingga meraih prestasi tingkat nasional membuat inovasi kepimimpinannya dibutuhkan untuk memberi motivasi kepala sekolah lain.

Dia masuk keanggotaan MKKS sejak 2006 saat menjabat kepala SMAN Kesamben. Seiring berjalannya waktu, Wawang kemudian dipercaya menjadi sekretaris. ”Saya di sekretaris sejak empat tahun lalu, tepatnya saat di SMAN Jogoroto,” ujar dia. Menjadi sekretaris bukan hal berat karena memang di forum, dirinya tetap bekerja bersama.

”Tugas saya mengoordinasi kegiatan-kegiatan kepala sekolah, juga menginventarisir administrasi yang kaitannya dengan kegiatan kita, itu saja,” paparnya. Segala kesibukan di sekolah dan aktivitasnya di kepengurusan MKKS, tak menyurutkan komunikasi  rumah tangganya.   

Wawang menikah dengan Rina Kustiningsih, perempuan asli Magetan 28 Februari 1987 yang juga seorang guru. Mereka kemudian dikaruniai tiga anak, Anindhita Utami Kuswardhani, Bisela Utami Kuswardhani dan Chastita Utami Kuswardani. Terbukti, rumah tangganya bahagia sampai sekarang.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia