alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Nanik Masriyah, Penggerak Literasi asal Kudu Jombang

Berkah Dibelikan Ibunya Buku Sejak Kecil

24 April 2020, 10: 09: 52 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Nanik Masriyah, guru SMPN 1 Kudu ini sering menjadi pembicara tentang literasi.

Nanik Masriyah, guru SMPN 1 Kudu ini sering menjadi pembicara tentang literasi. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Nanik Masriyah, adalah salah satu perempuan penggerak literasi asal utara Brantas. Tepatnya di Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Guru SMPN 1 Kudu ini pernah meraih penghargaan Sutasoma dari pemerintah pusat sebagai tokoh sastrawan berpengaruh di bidang literasi.

Nanik lahir di Jombang 15 Mei 1965. Ia adalah anak ke empat dari delapan bersaudara pasangan Moekri dan Rowiyah. Besar dari keluarga sederhana di pedesaan, Nanik cukup bahagia karena ibunya selalu membelikan buku untuk dibaca sewaktu masih kecil. Meski, masa kecilnya tak seperti anak lainnya karena sang ayah meninggal dunia sejak ia masih duduk di bangku SD.

Nanik mengenyam pendidikan dasar di  SDN Watudakon hingga kelas 4. Lalu, berpindah ke SDN Keboan 2 saat kelas 5. Setelah itu dia melanjutkan ke SMP Swadaya Kesamben dan SMA Muhammadiyah Jombang. Karena suka membaca sejak kecil, Nanik memilih jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Wijaya Kusuma untuk menuntaskan progam sarjana.

Setelah pendidikannya tuntas, Nanik menjadi pengajar sebagai guru tidak tetap (GTT) di SMP Karya Ngares, Gedek sejak 1993. Dalam sebulan, ia mendapat gaji Rp 14 ribu/bulan. Dua tahun berjalan, Nanik kemudian mengajar di SMPN 1 Kudu dan SMAN Gedek Mojokerto.

Nanik termasuk perempuan cekatan. Selain mengajar di dua sekolah sekaligus dalam sehari. Di kesibukan sebagai pengajar, ia juga menjadi penyiar radio swasta. “Ya memang begitu, saya sehari loncat-loncat hingga 3 kali. Pagi ke SMPN kudu, siang ke SMAN Gedek Mojokerto, lalu kemudian ke siaran radio paradise,’’ ujar dia, kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.

Ditemani vespa nyentrik, Nanik mengaku menjalani aktivitas tersebut hingga enam tahun. Setiap hari mulai pagi sampai malam ia bolak-balik Jombang-Mojokerto untuk mewujudkan cita-citanya.

Tak hanya aktif sebagai pendidik, Nanik juga aktif di Karang Taruna Desa Keboan. Hingga kemudian perjuangannya selama enam tahun bisa terwujud setelah ia lolos tes CPNS 2000 silam. ”Saya kemudian bertugas langsung di SMPN 1 Kudu hingga sekarang,’’ pungkas dia.



Dikirim ke Jepang, Keliling Indonesia, Dirikan Taman Baca di Ngusikan

SEJAK muda, Nanik aktif di berbagai macam kegiatan termasuk menjadi ketua karang taruna di kampung halaman. Nanik juga pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang, setelah terpilih sebagai pemuda pelopor yang diberangkatkan pemerintah Indonesia. Disana ia belajar budaya, etos kerja dan teknologi Jepang.

Pengalaman itu ia ceritakan 1993 silam. Nanik lolos mengikuti seleksi pemuda pelopor mulai tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi dengan mulus. Dia diberangkatkan bersama 27 pemuda pelopor se-Indonesia. ”Sebelum berangkat kita ditempa selama dua bulan di Jakarta untuk belajar Bahasa Jepang. Selama 11 bulan belajar budaya, etos, pertanian, pendidikan dan berbagai macam hal di Jepang,’’ ujarnya kepada Jawa pos Radar Jombang.

Hal tersebut merupakan pengalaman berharga baginya. Bahkan, setelah pulang dari Jepang, ilmu yang didapatkannya tetap berkesinambungan. Setelah dirinya diundang berbagai instansi dan forum untuk berbagi pengalaman sebagai pemuda pelopor yang dikirim ke Jepang.

Bahkan, undangan membuat dirinya keliling ke berbagai daerah di Indonesia. ”Itu merupakan pengalaman luar biasa dalam hidup saya,’’ tambahnya. Di sisi lain, sejak kecil Nanik suka mengoleksi buku. Baik buku penunjang pelajaran, buku sejarah, buku agama hingga buku fiksi.

Dari hal kecil itu akhirnya Nanik bisa mendirikan taman baca di rumahnya sendiri. Taman baca itu diberi nama Masriyatul Ilmi. Masriyatul diambilkan dari nama belakangnya sendiri, Masriyah, sedangkan ilmi berarti ilmu. ”Saya namakan taman baca supaya muncul kesan membaca itu menyenangkan. Berbeda jika saya namakan perpustakaan maka yang muncul adalah kesan membosankan,’’ tuturnya.

Setiap hari, taman baca miliknya ramai dikunjungi anak-anak dari Desa Keboan dan sekitarnya, hingga anak-anak sekolah dari Mojokerto. Saat itu, buku sangat sulit diperolehnya sehingga buku menjadi satu-satunya jendela pembuka wawasan anak-anak ke dunia luas. ”Kami sediakan pinjam buku gratis. Dahulu banyak tokoh yang datang ke taman baca saya, mulai Cak Nun, alm Bahrudin dan tokoh-tokoh lain. Saya sangat bersyukur,’’ jelas dia.

Beberapa tahun berjalan, akhirnya Nanik mulai merasakan liku-liku. Ini setelah buku yang dipinjam banyak yang hilang karena tak kembali. Sehingga koleksi bukunya menipis dan Nanik memutuskan untuk menutup hingga empat bulan lamanya. Kemudian taman baca dibuka kembali awal 2015 lalu. Baru buka beberapa bulan, terjadi bencana hebat di Kecamatan Ngusikan.

Rumah warga diporak pondakan angin kencang. Akibatnya, sebuah pohon mangga berukuran besar ambruk tepat menimpa atap taman baca miliknya. Kejadian ini pula yang sempat membuat Nanik lemas dan hampir berputus asa. ”Pohon yang ambruk tepat di atap taman baca itu membuat atap terbuka dan air hujan membanjiri seluruh ruangan,’’ jelas dia.

Kala itu, dia butuh waktu seminggu untuk mengevakuasi pohon mangga karena menunggu giliran dengan warga desa lain yang juga terkena musibah.  ”Saya menangis berhari-hari karena koleksi saya tidak bisa terselamatkan. Dari ribuan buku, yang selamat hanya ada puluhan saja,’’ papar dia.

Lambat laun, akhirnya Nanik mulai membuka kembali taman bacanya setelah banyak mendapat bantuan buku dari beberapa pihak termasuk mahasiswa. Bahkan, atas kegigihan dan jasanya, 2017 lalu, dia pernah diundang untuk mendapat penghargaan Sutasoma sebagai penggerak literasi yang sudah berdedikasi untuk masyarakat.

Bentuk Tim Literasi Sekolah

TAK hanya aktif menjadi penggerak literasi di kampung halaman. Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Kudu ini cukup getol menanamkan budaya literasi di sekolah. Salah satunya membentuk tim literasi sekolah.

”Setiap pagi, kami disini lakukan pembiasaan berupa jurnal membaca,’’ ujar Nanik ditemui kemarin (4/13). Dia mengatakan sebelum jam pelajaran dimulai, ada waktu selama 40 menit yang digunakan siswa sebagai jam pembiasaan. Waktu tersebut, diawali dengan membaca Juz Amma, melafalkan pancasila, setelah itu dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

”Kemudian terakhir kami selingi membaca buku non pelajaran, buku fiksi, non fiksi atau buku-buku penunjang lainnya,’’ tambahnya.  Setelah membaca, siswa diminta merangkum secara ringkas dalam sebuah buku laporan.

Dia menambahkan, setiap kelas sudah disediakan sudut baca. Terdiri dari rak kecil yang berisi buku-buku terletak di pojok kelas. Saat ini, perpustakaan di sekolahnya terdapat 12.344 koleksi buku dan 2.400 buku diantaranya berada di sudut baca. ”Bukunya kita tempatkan di rak sudut baca dan setiap bulan dicek wali kelas, lalu dilaporkan ke tim literasi,’’ terangnya.

Menurut dia, literasi diawali dengan sebuah pembiasaan kepada siswa. Dapat dimulai dengan membaca buku yang disukai.  ”Keberhasilan dalam literasi juga tergantung dari buku yang kita tawarkan ke anak-anak. Kalau bukunya beraneka ragam Insya Allah anak-anak pasti datang,’’ papar dia.

Selain kebiasaan jurnal membaca, tim literasi juga mengadakan progam bedah buku, progam menulis cerpen dan puisi. Saat ini karya siswa-siswi SMPN 1 Kudu sudah diajukan ke percetakan untuk diterbitkan.  ”Disamping itu kita juga ada progam infaq buku. Jadi anak-anak yang bersedia menyumbangkan buku kita terima,’’ pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia