alexametrics
Kamis, 09 Jul 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Akad Nikah, Sejoli di Jombang Jabat Tangan dengan Penghulu Pakai Tali

02 April 2020, 13: 56: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Prosesi akad yang biasanya menggunakan jabat tangan diganti dengan tali berwarna putih.

Prosesi akad yang biasanya menggunakan jabat tangan diganti dengan tali berwarna putih. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Pademi korona (Covid-19) tak menjadi penghalang M Ifan Saifudin dan Miftahul Firdaus melangsungkan akad di Dusun/Desa Sumberjo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Meski deg-degan, tapi prosesi akad berjalan lancar.

Jika akad umumnya dihadiri banyak orang dengan raut wajah bahagia, yang terlihat kemarin (1/4) justru sangat sunyi. Satu persatu saksi dan kedua pengantin memasuki ruang akad yang berlangsung di musala setempat.

Mereka diwajibkan mengenakan masker, memakai hand sanitizer serta diminta duduk berjarak sesuai protokol yang dianjurkan pemerintah. Yang unik, ada sebuah benang putih sepanjang 60 centimeter di meja akad. Benang itu ternyata sebagai media pengganti berjabat tangan.

Benang dipegang penghulu dan pengantin laki-laki yang akan melangsungkan ijab kabul. Sebelum akad dimulai, pengantin laki-laki terlebih dahulu dilatih untuk mengucapkan lafal akad, agar tak salah saat prosesi ijab berlangsung.

Hasanuddin, Kepala KUA Kecamatan Jombang mengatakan pernikahan dalam situai badai Covid-19 ada beberapa hal yang tidak biasa dilakukan. Pertama, sesuai anjuran Kemenag RI akad nikah boleh dilakukan asalkan tetap menjalankan prosedur tetap. Diantaranya, jumlah orang yang hadir dibatasi, duduk berjarak, menggunakan hand sanitizer dan lainnya.

”Termasuk mennggunakan sarung tangan dan masker,” ujar dia. Sedangkan untuk penggunaan benang sebagai media pengganti jabat tangan adalah upaya untuk menjamin keselamatan bersama. Apalagi ditengah pandemi Covid-19 kontak fisik seperti salaman, cium tangan tidak diperbolehkan. ”Kita memakai tali sebagai pengingat agar saat prosesi akad yang bersangkutan, langung menjawab tanpa jeda,” tambahnya.

Hal tersebut menurut Islam diperbolehkan dan tidak meninggalkan keabsahan maupun nilai pada prosesi akad. ”Karena sah dan tidaknya sebuah pernikahan itu terletak pada saat menjawab,” papar dia.

Selain itu, tali sepanjang kurang 60 centimeter dilakukan untuk menjaga jarak dari orang yang berada di depannya. Sehingga jarak lawan bicara tetap minimal satu meter sesuai anjuran pemerintah. Selama pandemi Covid-19 setidaknya, lanjut dia, ada empat calon pengantin di Kecamatan Jombang yang menunda prosesi akad nikah.

Sebagian ada yang tetap menjalankan namun merubah jadwal akad. ”Beberapa diantaranya tetap berjalan namun lokasi akad diganti di rumah,” bebernya.

Sementara, M Ifan Saifudin pengantin pria mengaku deg-degan saat melangsungkan akad nikah. Pria asli Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito ini tak menduga jika pernikahan mereka berlangsung sedemikian beda dari biasanya. ”Memang awalnya sempat ragu. Namun saya mantapkan dalam hati, untuk menikah,” ujar suami Miftahul Firdaus ini.

Dia bersama sang istri juga sudah sepakat untuk membatalkan acara resepsi karena pandemi Covid-19. ”Catering sudah siap, dan resepsi sudah siap. Namun kami batalkan karena tidak boleh,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia