alexametrics
Rabu, 05 Aug 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Wereng Menyerang Padi, Petani Jombang Ciptakan Obat Racikan Sendiri

27 Maret 2020, 18: 01: 18 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sejumlah petani di Desa Dapurkejambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang, melakukan pengasapan di tanaman padi.

Sejumlah petani di Desa Dapurkejambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang, melakukan pengasapan di tanaman padi. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Banyak petani di Jombang harus berjibaku sendiri melawan hama wereng yang menyerang tanaman padi. Salah satunya dengan berkreasi dengan obat racikan dengan cara penyemprotan tersendiri.

Seperti yang dilakukan sejumlah petani di Desa Dapurkejambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang. “Ini sedang menyemprot padi, kan kena wereng, jadi kita coba dengan cara menyemprot seperti nyamuk,” terang Miono, 57, pemilik sawah.

Dua hektare sawah miliknya, memang sedang diserang hama wereng sejak dua minggu terakhir, seperti puluhan hektare sawah di sekelilingnya.  “Sejak 15 hari terakhir ini, serangan wereng makin parah, kalau jumlahnya mungkin sudah 50 hektare yang terkena,” lanjutnya.

Ini bisa dilihat dari banyaknya tanaman padi yang roboh di sekiling sawah. Beberapa petak padi bahkan nyaris tak menyisakan padi yang berdiri. Bahkan menyebabkan padi mengering dan bulirnya tak bisa dipanen. “Yang diserang rata-rata padi berusia di atas 60 hari, yang sudah kering banyak, punya saya ini sudah mulai menempel, makanya sebelum rusak parah kita coba diasapi,” sambung Miono.

Upaya penyemprotan inipun dilakukan sebagai upaya terakhir setelah serangkaian upaya penyemprotan sebelumnya tak membuahkan hasil. Terlebih, ia mengaku tak ada bantuan dari dinas terkait maupun kelompok tani dalam mengatasi serangan hama wereng ini.

“Ya semuanya biaya sendiri, tidak pernah ada bantuan, kemarin beli obat wereng juga mahal, karena tidak efektif, makanya kita cari jalan lain pakai racikan sendiri,” imbuh warga asli Dapurkejambon ini.

Ia mengaku, untuk melakukan penyemprotan ini bahan yang digunakan seluruhnya racikan sendiri. Obatnya pun disebut hasil coba-coba. Campuran insektisida buatan miliknya hanya berbahan solar dan obat nyamuk cair.

Untuk 700 meter persegi sawah, setidaknya membutuhkan total 22 liter campuran larutan insektisida buatannya. “Kalau 20 liter solar berbanding 2 liter obat nyamuk cair, alatnya ya pinjam, kan tidak dipakai nyemprot nyamuk, yang kerja juga yang sudah biasa nyemprot nyamuk,” rincinya.

Meski mengaku belum tahu hasil dari penyemprotan yang dilakukan sendiri, ia mengaku biaya yang dikeluarkan bisa ditekan. Sebab, jika menggunakan insektisida pabrikan, ia harus mengeluarkan hingga Rp 600 ribu untuk 700 meter persegi sawah dalam sekali semprot. Biaya ini terkurangi hingga separo setelah ia membuat fogging sendiri, yang hanya Rp 300 ribu.

“Kita memang butuh yang murah, karena penyemprotan tidak bisa sekali saja, harus berkali-kali. Kalau obatnya mahal ya habis modal kita untuk nyemprot saja,” pungkas Miono. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia