alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Produsen Tempe di Jombang Tetap Bertahan meski Harga Kedelai Naik

26 Maret 2020, 16: 54: 11 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Suyono, salah satu produsen tempe asal Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang

Suyono, salah satu produsen tempe asal Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang (Azmy Endiyana Z/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Dalam satu bulan ini sejumlah produsen tempe mengeluhkan harga kedelai impor yang naik hingga 20 persen. Sebab, mereka tak bisa menaikkan harga jual meski keuntungan yang didapatkan menipis.

Seperti yang dialami Suyono, warga Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Ia mengeluhkan kenaikan bahan baku yang terjadi. Ini setelah harga kedelai impor yang sebelumnya hanya Rp 6.400 perkilogram kini menjadi Rp 7.400 per kilogram. “Kenaikan ini sudah dua minggu yang lalu, mungkin karena adanya virus korona, sehingga kedelai impor juga sulit dicari,” ujarnya sambil membersihkan kedelai.

Karena itu kedelainya harus dicuci dua kali lebih banyak dibanding biasanya. Sebab, dengan melihat persebaran virus yang terjadi di beberapa negara sekarang ini, muncul kekhawatiran ada bakteri dan virus yang menempel.

“Ya dicuci lebih banyak lagi dengan air mengalir agar kedelai benar-benar bersih,” ungkapnya. Setelah dicuci bersih, kemudian kedelai tersebut dimasukan ke dalam panci berukuran besar untuk proses perebusan. Setelah empat jam, baru kedelai ditiriskan.

“Setelah dingin diberi ragi, jadi prosesnya tidak begitu rumit,” beber dia. Meski harga kedelai naik, dirinya tidak bisa menaikan harga begitu saja. Bahkan untuk memperkecil ukuran tempe yang dijualpun tidak bisa dilakukan. Satu alasannya, kalau harga dinaikkan atau ukuran diperkecil, dikhawatirkan pelanggannya kabur.

“Saya juga tidak mengurangi jumlah produksi, setiap hari membuat aatu kwintal kedelai,” ungkapnya. Melihat perkembangan inilah hasil pendapatan yang dikumpulkannya setiap hari berkurang. Jika sebelumnya dalam kondisi normal bisa mendapat Rp 300 ribu, kini paling banyak Rp 250 ribu.

“Kalau rugi sih tidak, tapi ya untungnya menipis,” tegasnya. Saat ditanya stok kedelai di pasaran, dia mengaku tidak tahu. Sebab, dia sendiri masih memiliki bahan kedelai untuk produksi tempe selama sepuluh hari ke depan. “Saya masih ada stok 10 kwintal,” terangnya.

Karena itulah dirinya berharap, harga kedelai bisa segera turun dan normal kembali. “Jika tidak, maka pengusaha kecil seperti kami akan bangkrut,” pungkas dia. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia