alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Harga Gula Pasir Masih Tinggi, Per Kilo Tembus Rp 16 Ribu

11 Maret 2020, 20: 01: 11 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu lapak yang menjual gula di Pasar Pon Jombang.

Salah satu lapak yang menjual gula di Pasar Pon Jombang. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Memasuki pekan kedua Maret, harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional menunjukkan kenaikan signifikan. Salah satunya harga gula pasir yang sekarang tembus di angka Rp 16 ribu, jauh melebihi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

”Harga gula juga sudah lama naik, sekarang per kilonya sampai Rp 16 ribu,” terang Edi Cahyono, salah satu penjual di Pasar Pon Jombang.

Ditambahkan, normalnya harga jual gula pasir antara Rp 11 ribu-Rp 12 ribu. Namun sekarang harganya sudah tak terkontrol. ”Kenaikannya sudah sekitar sebulan yang lalu, sampai sekarang masih bertahan,” bebernya.

Lantaran harga yang dipatok dari pemasok sudah tinggi, dia pun menyesuaikan dengan harga jual. ”Dari pemasok sudah Rp 15.500, jualnya dengan harga Rp 16 ribu per kilogram, baik untuk ecer maupun untuk pembelian grosir,” imbuhnya.

Lantaran fluktuasi harga yang tidak menentu, dia pun memilih berhati-hati mengambil stok. ”Saya tidak ambil banyak, karena dari sana memang sudah mahal, biar pelanggan tidak kabur, saya jual sama antara ecer dan beli grosir untuk dijual lagi," jelasnya.

Sejumlah pelanggan yang mengambil stok dari tokonya, dia sarankan untuk menaikkan harga jualnya, sehingga tidak merugi. ”Jualnya bisa Rp 17 ribu, sebab dari sini sudah mahal,” bebernya.

Ditanya penyebab kenaikan harga gula, dia pun tak mengetahui persis. ”Saya juga heran, selama ini stok aman-aman saja, tidak pernah telat, tapi kok harganya melonjak,” bebernya.

Hanya memang, sejak terjadi kenaikan harga gula pasir, dia tak lagi mendapat pasokan gula kemasan yang dari segi harga lebih murah. ”Kalau kata salesnya barangnya ada, pabrik juga produksi, tapi tidak sampai ke Jombang barang sudah habis di Surabaya," jelasnya.

Selain itu, dari informasi yang sampai kepadanya, produksi di pabrik dihentikan dan menghabiskan stok. Selain itu, impor gula juga tidak dilakukan, sehingga gula yang beredar di pasaran hanya gula lokal saja. "Informasinya begitu dari yang masok gula ke saya, jadi memang ini menghabiskan stok gula di pabrik lokal," pungkasnya.

Dorong Pemkab Stabilkan Harga

SEMENTARA itu, melonjaknya harga gula di Kabupaten Jombang hingga jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) mendapat respons dari kalangan dewan. Rohmat Abidin, anggota Komisi B DPRD Jombang mendorong pemkab segera menindaklanjuti serius.

”Ini juga kurang proaktifnya Pemkab Jombang untuk mengantisipasi kenaikan harga di pasar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.

Politisi PKS ini menambahkan, harusnya pemkab sudah bisa mendeteksi lonjakan harga sejak dini, dan segera mencari solusi terbaik untuk menekan kenaikan. ”Jangan kalau sudah naik tajam baru turun ke lapangan,” ungkapnya.

Lantaran menyangkut hajat hidup orang banyak, Rohmat mendorong dinas terkait segera turun dan mencari penyebab terjadinya lonjakan yang dinilai tidak wajar. ”Segera dinas turun cek ke lapangan, cari tahu dimana masalahnya,” tegasnya.

Menurut Rohmat, selama ini Jombang diketahui memiliki banyak petani tebu, sehingga dari segi potensi stok gula harusnya aman. ”Jangan-jangan gula di Jombang juga beredar ke daerah lain. Sehingga ini yang harus diperhatikan pemkab, agar pasokan dari Jombang tidak keluar,” terangnya.

Pemkab juga bisa berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk mencari informasi terkait kenaikan harga yang melambung tinggi. Dikarenakan, harga gula yang tinggi biasanya dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan sendiri. ”Karena biasanya harga mahal  justru ditimbun,” tegasnya.

Ia juga meminta, pemkab berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar. ”Untuk kenaikan ini kami juga akan bahas di internal dewan, apakah nanti kita juga turun ke lapangan atau memanggil dinas terkait untuk mempertanyakan kenaikan harga gula,” pungkasnya.

Sementara hingga berita ini ditulis, Bambang Nurwijanto Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang belum bisa memberikan keterangan. Meski terdengar nada sambung aktif, belum ada jawaban. Begitu pula upaya konfirmasi melalui WhatsApp juga belum ada balasan. (*)

(jo/wen/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia