Minggu, 23 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Cuaca Sering Buruk, Warga Jombok Kesamben Waswas Banjir Susulan

14 Februari 2020, 19: 23: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Avur Watudakon yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Desa Jombok.

Avur Watudakon yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Desa Jombok. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Selama tujuh hari menggenangi wilayah pemukiman warga. Banjir yang terjadi di wilayah Kesamben kini telah surut. Meski begitu, warga masih was-was ancaman banjir susulan.

”Kalau di wilayah sini sudah surut sejak Minggu (9/2) malam. Tapi sebagian sawah warga masih tergenangi air sampai sekarang,” Susmawati warga Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben kemarin (12/2).

Pantauan di Dusun Beluk, Desa Jombok aktivitas warga sudah berlangsung normal. Sebagian sibuk membersihkan perabot yang terkena banjir. Air yang sebelumnya menggenangi jalan hingga masuk ke rumah-rumah warga sudah surut.

Namun, warga masih merasa waswas rumahnya bakal kembali kebanjiran. Menyusul musim penghujan diprediksi masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan. “Ya ketar-ketir, soalnya musim hujan kan masih panjang. Ini mungkin pertengahan, apalagi hujan turun setiap hari,” imbuhnya.

Mengantisipasi potensi banjir susulan, dia bahkan masih membiarkan sejumlah perabotan rumahnya berada di tempat tinggi. ”Sekarang tidak berani naruh barang di bawah. Biarpun sudah surut masih saya taruh atas semua, khawatir kalau nanti banjir lagi,” sambung dia.

Terlebih, dari pengalaman sebelumnya, banjir yang menggenangi rumah-rumah warga bertahan dalam tempo lama. “Tahun lalu itu sampai 12 hari baru bisa surut. Sekarang delapan hari. Biasanya kalau air sudah masuk rumah, tidak bisa langsung surut, malah naik,” ungkap dia.

Dia menilai belum ada program penanganan signifikan yang dilakukan pemkab mengatasi banjir yang sudah tiga tahun berturut-turut melanda wilayah Kesamben. “Kemarin itu sungainya (Avur Watudakon, Red) sudah dikeruk, ternyata masih banjir,” terang dia.

Dia pun berharap pemkab mencarikan solusi terbaik mengatasi ancaman banjir di wilayahnya. Tidak hanya mengandalkan normalisasi sungai. ”Sungainya sudah dikeruk tapi masih saja banjir. Apa tidak ada cara yang lain, rasanya tidak ada pengaruhnya. Seperti di daerah lain, begitu banjir pemkabnya langsung gerak cepat bagaimana agar banjir lekas surut, terus langkah pencegahannya juga dibuatkan apa begitu,” papar Susmawati.

Dia berharap pemkab benar-benar fokus menangani banjir di wilayah setempat. “Harusnya tidak hanya dikeruk, tanggulnya itu ditinggikan, terus saluran di kampung dikasih penutup. Soalnya banjirnya ini tidak langsung surut, waktunya lama,” beber dia.

Hal senada diungkapkan Suwanti warga lainnya. Dampak banjir sekarang masih dirasakan. Yakni belum normalnya air sumur milik warga. “Airnya belum bening, masih butek. Jadi harus didiamkan dulu sehari,” katanya sembari menunjukkan air yang sudah didiamkan itu.

Kendati begitu, tangki air masih berada di lokasi. Ada dua tangki masing-masing berada di lokasi berbeda. “Masih ada yang ambil air dari situ, soalnya belum normal semua air sumurnya,” terang dia sembari menujuk tangki.

Dia pun merasa khawatir banjir akan kembali datang. “Soalnya tanggul sungainya kritis, kemudian air yang menuju Sipon itu berbelok-belok. Airnya jadi tidak lancar,” beber dia.

Tidak hanya berdampak ke permukiman, banjir juga membuat tanaman padi di sawah terendam. Akibatnya, petani dibuat gusar. “Sampai sekarang masih belum surut total, yang di sawah masih ada yang kebanjiran,” pungkas dia.

Sebelumnya, banjir yang menerjang dua desa di wilayah kecamatan kesamben mengakibatkan ratusan rumah warga terendam (4/2). Masing-masing  150 rumah di Dusun Beluk, Desa Jombok dan 108 rumah di Dusun Kedondong, Desa Blimbing.

Tidak hanya itu, dampak banjir juga membuat areal sawah terendam. Total sekitar 815 hektare terdampak banjir. Rinciannya, 81 hektare sawah persemaian dan 725 hektare sudah ditanami.

Sudah Petakan Penanganan Banjir

TERPISAH, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jombang Miftahul Ulum sudah melakukan upaya mengatasi banjir di wilayah Kesamben. Salah satunya melakukan survei kondisi tanggul kritis serta saluran yang mengalami penyempitan.

“Jadi begini banjir di Jombok dan sekitarnya, kemarin kami bersama PJT sudah survei mencari titik tanggul kritis dan terjadi penyempitan. Ada empat tanggul yang kritis dan harus ditangani,” katanya dikonfirmasi, kemarin (12/2).

Rinciannya, dua titik tanggul kritis berada di wilayah Desa Jombok. “Sisanya itu kalau tidak salah di perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto,” sambung Ulum.

Lokasi itu lanjut dia, nantinya ditangani pihak PJT (perusahaan umum jasa tirta). “Jadi kita nanti berbagi peran. Insyaallah di Bekucuk dan Jombok dari PJT mengerahkan alat berat untuk memperbaiki tanggulnya. Dari Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto kemarin juga ikut mendampingi menyelesaikan permasalahan ini. Karena banjir ini kan ada dua wilayah,” jelas dia.

Menurut Ulum, selain terdapat tangul kritis terjadinya banjir di wilayah lantaran intensitas hujan tinggi. “Mungkin karena hujan beberapa minggu ini tinggi, jadi kelihatannya di sungai itu juga ada penyempitan. Kita sendiri tahun lalu sudah melakukan normalisasi sepanjang 9 kilometer,” urai Ulum.

Kendati sudah dilakukan langkah antisipasi, ternyata banjir masih terjadi.. “Ini begini, kita kemarin yang normalisasi di wilayah Jombang saja, sementara sebelahnya itu kan sudah Mojokerto. Tidak mungkin melakukan aktivitas di sana. Yang jelas banjir tahun ini tidak separah tahun lalu,” ungkap Ulum.

Sebagai langkah pencegahan, ke depan pihaknya bekerjasama dengan PJT dari pemilik kewenangan avur, yakni Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas juga ambil bagian. “Tindak lanjut kemarin, antara PUPR Jombang dengan Mojokerto dan PJT bersama-sama, termasuk BBWS juga siap gerak. Karena tahun ini ada kegiatan di sana. Insyaallah mestinya awal tahun sudah mulai. Informasi terakhir, beberapa waktu lalu sudah dilakukan survei kesiapan lokasi,” beber Ulum.

Menurut Ulum, yang menjadi kewenangan balai besar itu yakni melakukan penanganan pada Sipon Watudakon. “Ýang jelas masalah Sipon di Pagerluyung (Kabupaten Mojokerto, Red), kalau normalisasi bisa saja. Seberapa panjang kita sendiri kurang tahu, yang lebih tahu dari balai sana,” pungkas Ulum. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia