Minggu, 23 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Dua Bulan, 31 Warga Jombang Positif DBD, 1 Balita Tewas

14 Februari 2020, 18: 40: 49 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu pasien DBD yang dirawat di RSUD Jombang.

Salah satu pasien DBD yang dirawat di RSUD Jombang. (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Selama dua bulan ini, warga yang positif terjangkit virus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jombang, cukup banyak mencapai 31 orang. Bahkan, satu penderita balita dilaporkan meninggal dunia.

“Selama 2020, Januari ada 21 positif DBD, sampai Februari 31 positif yang sudah terdata,” terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Wahyu Sri Hasrini, kemarin.

Berdasar data yang didapat, lanjut dia, jumlah penderita DBD di bulan pertama 2020 cenderung ada penurunan. Sebab, di bulan sama 2019 lalu, angka penderita DBD mencapai 123 orang. Sayang, dia tidak merinci perbandingan data di bulan Februari. Apakah selama kurun waktu dua bulan itu ada yang meninggal dunia atau tidak.

“Hal ini dipengaruhi pergeseran musim hujan, kalau tahun lalu mulai ada tren naik sejak Oktober 2018, di 2020 ini tren naik memang baru Januari,” lanjutnya.

Dia menyampaikan, dari seluruh pasien yang positif itu, satu diantaranya meninggal dunia. Wahyu menyebut, pasien DBD yang meninggal itu dilaporkan akhir Januari 2020 asal Kecamatan Kudu. “Itu ada kasus 1 meninggal, sedang dalam perawatan, usianya masih 11 bulan,” sambung Wahyu.

Pihaknya menyebut, upaya untuk menyelamatkan balita sudah maksimal. Sejumlah pertolongan pertama hingga merujuk ke RSUD Jombang sudah dilakukan. “Begitu kita temukan ditangani, dirujuk dan sempat dirawat di RSUD Jombang namun tidak tertolong,” tambahnya.

Karena itulah pihaknya hanya bisa mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan penyakit DBD. “PSN itu harus tetap dijalankan,” tegasnya.  

Dikonfirmasi terpisah, Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran membenarkan adanya pasien meninggal karena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasien meninggal itu setelah mendapat perawatan di RSUD Jombang selama empat hari akhir Januari 2020.

Ia menyampaikan, pasien dirujuk ke RSUD Jombang sudah dalam kondisi Dengue Shock Sydrome (DSS). Kondisi DSS ini disebut Pudji merupakan fase yang menghawatirkan lantaran fase terakhir penderita DBD. ”Ada pasien dari Kudu umur 11 bulan dikirim ke RSUD Jombang dengan DSS. Kondisinya memang betul-betul pada fase akhir,” ujarnya kemarin.

Pasien mendapatkan perawatan di ruang ICU central dengan dibantu alat pernapasan. Pihak rumah sakit juga memberikan berbagai cairan ke tubuh pasien. Termasuk dipasang sejumlah peralatan khusus infus pamp dan syringe pump. Namun, di hari ke-4 pasien balita tersebut tak terselamatkan. ”Kami lakukan upaya penyelamatan maksimal. Awal ada respon positif dan pasien langsung kita masukan ke ICU central,” ungkap dia.

Menurut Pudji, hingga sekarang masih ada empat pasien positif DBD yang diberikan perawatan intensif di RSUD Jombang. ”Tiga pasien anak dan satu pasien dewasa yang positif DBD,” ungkapnya. Dua pasien anak dirawatan di ruang seruni dan satu anak di ICU central. ”Untuk pasien dewasa mendapat perawatan di ruangan karena kondisinya membaik,” pungkasnya.

Dinkes Diminta Lebih Serius 

MENINGKATNYA kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jombang membuat para wakil rakyat angkat bicara. Ketua DPRD Jombang Masud Zuremi meminta Dinas Kesehatan lebih serius menangani penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk ini.

”Saya melihat di rumah sakit dan puskesmas kasus DBD semakin banyak di Jombang,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (12/2). Pemkab Jombang dalam hal ini Dinas Kesehatan harus lebih serius menangani penyebaran penyakit DBD hingga ke pelosok desa. Dia minta ada langkah khusus yang harus dilakukan cepat agar tidak semakin bertambah.

”Jangan dianggap remeh, apalagi sudah ada korban meninggal dunia,’’ tambahnya. Dia menilai, meluasnya kasus DBD di Jombang harus ada beberapa langkah penanganan yang dilakukan. Misal melakukan gerakan pembasmian jentik nyamuk secara masal. ”Serentak se-Jombang mulai dari instansi, kecamatan, desa, hingga RT dan keluarga melakukan  pembasmian jentik masal agar bisa mengurangi perkembangbiakan nyamuk,’’ papar dia.

Langkah seperti itu juga berlaku di puskesmas yang memiliki tenaga jubastik sendiri. Sebagai leading sektor paling bawah yang bersentuhan dengan masyarakat, ia meminta puskesmas selalu siaga. ”Ini yang paling penting, karena mereka yang turun langsung ke masyarakat,’’ jelasnya.

Masud juga mengingatkan Bupati Mundjidah dan Wabup Sumrambah menginstruksikan jajaran di bawahnya mengatasi penyebaran penyakit DBD ini. ”Pemkab Jombang harus serius memantau sekaligus melakukan pencegahan dini,’’ tegas politisi senior ini.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi D Syarif Hidayatulloh merasa prihatin dengan kasus DBD yang semakin meluas. Apalagi di musim hujan seperti sekarang perkembangbiakan nyamuk semakin banyak. Karena itu ia berharap Jombang tidak mengalami kejadian luar biasa (KLB). ”Adanya korban meninggal dunia harus menjadi pelajaran bersama. Saya minta tidak hanya Dinkes yang proaktif, masyarakat sendiri harus bersama-sama berantas dan melindungi keluarga dari DBD,’’ papar dia.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan, melakukan antisipasi dengan memberantas jentik nyamuk, menutup barang bekas yang ada di pekarangan, memasang obat anti nyamuk hingga beberapa langkah proteksi terhadap keluarga. ”Karena Dinkes tenaganya terbatas, tidak bisa menjangkau satu persatu keluarga, untuk itu masyarakat juga harus mau proaktif,’’ pungkasnya. (*)

(jo/riz/yan/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia