Minggu, 23 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Harga Cabai di Jombang Saat Musim Panen Terakhir Tak Semahal Pasar

14 Februari 2020, 18: 30: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Cabai hasil panen terakhir petani di Bandarkedungmulyo

Cabai hasil panen terakhir petani di Bandarkedungmulyo (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Harga cabai di pasar yang beberapa waktu lalu melonjak, ternyata tak dirasakan petani di Dusun Klaci, Desa Brodot, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang. Jenis cabai lalapan yang menjadi alasannya.

Tanaman cabai di Dusun Klaci terlihat mulai dibabati petani. Ya, mereka memanen petikan terakhir sekaligus memotong semua pohon dan dibawa pulang ke rumah. Seperti yang dilakukan Triani, salah seorang petani cabai.

Di halaman rumahnya, terdapat tumpukan pohon cabai. Ranting beserta daunnya masih nampak hijau. Dia sengaja memanen cabai di petikan terakhir sekaligus membawa pohonnya ke rumah. “Ini yag terakhir sejak lima bulan setelah tanam,” katanya.

Ditemani sejumlah tetangganya, dia nampak sibuk memetik cabai yang masih menempel di ranting. Cabai rawit warna hijau itu kemudian diletakkan dalam ember yang sudah disediakan. “Dipilihi dulu soalnya mau diambil tengkulak,” sambung dia.

Harga cabai beberapa waktu lalu yang meroket nyatanya tak sampai dirasakannya. Cabai yang dipanen Triani jauh dari angka Rp 50 ribu seperti yang dijual di pasar. “Sekarang sudah turun, jual ke tengkulak Rp 10.000 per kilo,” sebutnya.

Dia sendiri tak mengetahui kenapa cabai yang ditanam harganya tidak sama dengan lainnya. “Mungkin beda jenis cabai, ini bukan cabai rawit merah, tapi cabai lalapan,” terang dia sambil menunjukkan cabainya.

Petani setempat biasa menyebut sebagai lombok putihan atau lalapan. Harganya selama ini cenderung fluktuatif. Harga paling tinggi yang dirasakan Triani hanya Rp 25.000 per kilogram. “Sekitar dua minggu yang lalu harga ke tengkulak segitu. Terus turun jadi Rp 15.000 sekarang malah Rp 10.000, nggak tahu cabai ini kok nggak mahal,” tanyanya.

Biasanya, harga paling rendah yang dirasakan Rp 8.000 per kilonya. Dalam waktu lima bulan, dia bisa memetik hingga puluhan cabai. “Seminggu pokoknya dua sampai tiga kali petik. Biasanya sekali petik dapat setengah kuintal,” beber dia.

Dengan luas sawah sekitar 1.400 meter persegi, biasanya petikan terakhir harganya paling murah. Berbeda petikan di bulan ketiga, masih cukup tinggi. “Pokoknya petikan awal itu sedikit, terus tambah banyak, terakhir ini yang balik sedikit. Harganya juga ikut turun,” ungkapnya.

Kini, dia beralih menanam padi. Selain hampir semua petani menanam cabai dan sudah dipanen, harga jualnya juga murah. “Sekarang padi lagi, soalnya ini yang terakhir. Setiap tahun mesti begitu, awal musim hujan sudah tidak ada lagi yang tanam cabai,” sahut Tuminah, petani cabai lainnya. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia