Senin, 17 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Palang Pintu Kereta di Plosokerep Masih Belum Berfungsi Optimal

09 Februari 2020, 19: 50: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Palang pintu rel kereta api yang dibangun Dinas Perhubungan Jombang di Desa Plosokerep, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang

Palang pintu rel kereta api yang dibangun Dinas Perhubungan Jombang di Desa Plosokerep, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Palang pintu rel kereta api yang dibangun Dinas Perhubungan Jombang di Desa Plosokerep, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang belum berfungsi optimal. Meski sudah ada dua palang pintu, tapi tak ada satu pun penjaga di dalam ruangan.

“Palang pintu di Plosokerep itu dibangun 2019, cuma kita terkendala tenaga,” kata Hartono, Kepala Dishub Jombang yang dikonfirmasi kemarin. Sebelumnya, lanjut dia, untuk pengisian personil sudah ada kerjasama dengan pihak desa setempat. “Sebenarnya awal tidak mau saya serap, ternyata pihak desa mau membantu tenaga, akhirnya dibangun,” imbuh dia.

Sehingga begitu pembangunan selesai, untuk penjaga perlintasan menjadi kewenangan desa setempat. “Kemudian ada MoU dengan desa, karena kita tidak kuat bayar tenaga. Sekarang tidak boleh mengangkat pegawai, apalagi honorer,” jelas Hartono.

Dalam poin perjanjian kerjasama itu  penjaga dilakukan pihak desa. “Untuk pemeliharaan tetap dari kita, untuk operasional kita ambilkan dari Desa Jatipelem,” ungkap Hartono. Ia menjelaskan, penjaga palang pintu untuk satu lokasi, minimal memerlukan delapan orang. Itu pun harus mengikuti pelatihan di PT KAI Daop 7 Madiun.

“Jadi tidak sekedar penjaga, harus mengikuti pelatihan dulu. Makanya kita kemarin keberatan soal siapa yang jaga,” sambung dia. Meski begitu, pembangunan palang pintu sudah dilakukan dua kali. Sebelumnya dilakukan di Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek.

“Tahun ini tidak ada karena perlintasan tidak diizinkan lagi. Istilahnya harus izin dulu ke PT KAI. Rapat di Semarang terakhir kemarin begitu, karena kalau dibebankan ke daerah jelas berat,” ungkap Hartono. Yang paling dirasakan adalah penjaga palang pintu. “Karena minimal harus ada delapan orang,” pungkasnya.

Ada 29 Titik Perlintasan

SEMENTARA itu Ixfan Hendriwintoko, Manager Humas PT KAI Daop 7 Madiun menyebut, data perlintasan kereta api di Jombang terdapat di 29 lokasi. Masing-masing 24 sebidang dengan jalan, dan 5 lokasi lainnya menyebar di beberapa titik. Mulai dari Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito hingga di Kecamatan Bandarkedungmulyo.

“Untuk perlintasan sebidang resmi yang sudah dijaga, total ada 9, masing-masing 8 dijaga petugas PT KAI dan 1 lokasi dijaga Pemkab Jombang,” katanya dikonfirmasi kemarin. Rinciannya, satu yang sudah dijaga petugas dari pemkab yakni di Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek. Lainnya masih belum masuk dalam data.

Sedangkan perlintasan yang tidak dijaga total ada 15 titik. Rinciannya, 11 lokasi sudah dipasang Early Warning System (EWS), sementara 4 lokasi belum terpasang. “Yang belum ada EWS di Desa Glahahan, Kecamatan Perak, kemudian Desa Jambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang,” sebut dia.

Sementara lima lokasi lainnya yang tak sebidang, masing-masing satu sudah ada flyover dan sisanya underpass. “Untuk underpass di Sumobito, dan wilayah Bandarkedungmulyo,” pungkas Ixfan. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia