Kamis, 27 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Gus Sholah Wafat, Tapi Semangatnya Tak Akan Pernah Padam

09 Februari 2020, 15: 46: 56 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Jenazah KH Salahuddin Wahid dibawa ke makam usai disalatkan di Masjid Pesantren Tebuireng.

Jenazah KH Salahuddin Wahid dibawa ke makam usai disalatkan di Masjid Pesantren Tebuireng. (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Suasana duka menyelimuti langit Kabupaten Jombang. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid meninggal dunia Minggu (2/2) pukul 20.55 WIB di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta. Meninggalnya Gus Sholah, sapaan akrabnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat.

Salah satu keponakan Gus Sholah, KH Muhammad Irfan Yusuf, menceritakan sebelum meninggal Gus Sholah mengeluhkan rasa sakit pada bagian jantung. “Gus Sholah memang sering keluar masuk rumah sakit untuk berobat. Beliau memiliki riwayat penyakit jantung. Bahkan sudah operasi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, Minggu (2/2) malam.

Gus Irfan juga mengatakan, setelah operasi itu Gus Sholah juga sempat kembali lagi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Sedangkan kabar terakhir yang diterima keluarga di Tebuireng, Gus Sholah dirawat kembali di RS Harapan Kita untuk menjalani ablasi jantung. Namun kondisi kesehatan Gus Sholah justru terus menurun. “Gusti Allah punya kehendak lain, Gus Sholah harus pergi meninggalkan kami di Tebuireng,” lanjutnya.

KH Fahmi Amrulloh (Gus Fahmi) memimpin salat gaid yang diikuti ribuan santri di Masjid Jamik Ponpes Tebuireng kemarin.

KH Fahmi Amrulloh (Gus Fahmi) memimpin salat gaid yang diikuti ribuan santri di Masjid Jamik Ponpes Tebuireng kemarin. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Gus Sholah sendiri lahir di Jombang pada 11 September 1942 silam, atau meninggal dunia dalam usia 77 Tahun. “Gus Sholah meninggalkan istri, tiga anak, dan enam cucu,” pungkasnya. Sementara itu sejak Minggu malam, seluruh santri dan pelayat menggelar doa bersama di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng. Doa bersama digelar tanpa henti, sampai jenazah Gus Sholah tiba di Tebuireng untuk dimakamkan.

Jenazah Gus Sholah tiba di Tebuireng pukul 13.10 WIB, setelah menempuh dua jam perjalanan dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma Jakarta ke Bandara Juanda Surabaya. Kemudian satu jam perjalanan dari Surabaya menuju Tebuireng melalui jalan tol. Begitu tiba, jenazah Gus Sholah langsung dibawa ke dalem kasepuhan.

Baru sekira pukul 13.40 WIB, jenazah Gus Sholah dibawa ke Masjid Pondok Pesantren Tebuireng untuk disalatkan. Salat jenazah dipimpin KH Fahmi Amrullah Hadzik, salah satu cucu KH Hasyim Asy'ari, diikuti seluruh santri dan ribuan pelayat lainnya. Dengan lantunan doa yang disertai tangis kesedihan, mereka mengantarkan Gus Sholah menuju maqbaroh. Hasil musyawarah pondok memutuskan, jenazah Gus Sholah dimakamkan di kompleks makam keluarga.

Posisi makam Gus Sholah persis berada di sisi utara makam ayah dan ibunya, KH Wahid Hasyim dan Nyai Sholichah Wahid. Menurut informasi, posisi makam itu merupakan permintaan Gus Sholah sendiri saat masih hidup. Banyaknya pelayat sampai membuat pagar besi kompleks makam keluarga Pondok Pesantren Tebuireng jebol. Melalui pengeras suara, pihak pondok sampai harus meminta pelayat untuk tertib.

Hanya keluarga, kerabat, para tokoh, serta orang-orang terdekat almarhum Gus Sholah saja yang boleh masuk ke area makam keluarga. Putra Gus Sholah, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disebut Ipang Wahid, bertugas mengumandangkan azan. Usai pemakaman, dilanjutkan dengan doa dan sambutan dari perwakilan keluarga, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, tokoh organisasi masyarakat yang diwakili Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan teman Gus Sholah yang diwakili Menko Polhukam Mahfud MD.

Mewakili pihak keluarga, KH Abdul Hakim Mahfud atau yang akrab disapa Gus Kikin, menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang hadir di pemakaman Gus Sholah. “Ini merupakan cobaan yang sangat berat. Atas nama keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, kami sangat berterima kasih. Kehadiran bapak ibu memberi dukungan moral yang sangat besar. Karena kami sangat kehilangan Gus Sholah sebagai bapak maupun pengasuh,” katanya.

Gus Kikin juga menyampaikan permohonan maaf jika semasa hidup, Gus Sholah pernah berbuat salah baik disengaja maupun tidak. “Mohon dengan ikhlas untuk dimaafkan, mungkin ada kesalahan dalam tutur kata atau perbuatan,” pungkasnya.

Pemakaman Dihadiri Sejumlah Tokoh Nasional

ACARA pemakaman Gus Sholah juga dihadiri beberapa tokoh nasional. Selain Menkopolhukam Mahfud MD, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, hadir juga Wakil Gubernur Emil Elistianto Dardak, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Wantimpres yang juga mantan Gubernur Jatim Soekarwo, mantan Menristekdikti Muhammad Nuh, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Hotman Paris Hutapea pengacara yang juga sahabat Gus Sholah, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar,  mantan Kapolda Jatim Mahfud Arifin, mantan Menteri Agama Lukman Hakim dan Gubernur DKI Anies Baswedan yang datang usai pemakaman.

Selain itu, sejumlah tokoh Jombang juga hadir memberikan penghormatan terakhir. Seperti Bupati Mundjidah Wahab, Wabup Sumrambah dan Kapolres Jombang AKBP Boby Paludin Tambunan. ”Innalillahi wainna ilaihi rojiun, kita turut berduka atas berpulangnya Gus Sholah yang juga pimpinan pesantren,” ujar Mahfud Arifin, mantan Kapolda Jatim kepada sejumlah wartawan kemarin.

Menurut dia, Gus Sholah adalah sosok kiai yang memiliki wawasan luas. Pemikiran Gus Sholah mewarisi ayahnya KH Wahid Hasyim. ”Sewaktu menjadi Kapolda Jatim, saya sering sowan ke beliau. Atas meninggalnya beliau kita semua kehilangan,” jelas dia.

Hal senada disampaikan, Hotman Paris Hutapea pengacara kondang yang datang paling awal. Dia mengatakan, Gus Sholah adalah tokoh Islam intelektual dan netral. ”Saya kenal beliau sudah lama. Termasuk dengan anak-anaknya dan Hj Farida,” ujarnya. Tokoh seperti Gus Sholah menurutnya diperlukan Indonesia untuk mempersatukan bangsa dan negara. ”Tidak hanya santri Tebuireng, namun bangsa Indonesia berduka,” pungkas dia. (*)

(jo/mar/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia