Senin, 17 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Cerita Khoirul Umam Hasbiy Mahasiswa Jombang yang Kuliah di Wuhan

03 Februari 2020, 10: 09: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Khoirul Umam Hasbiy bersama teman-temannya, mahasiswa Jombang yang kuliah di Wuhan.

Khoirul Umam Hasbiy bersama teman-temannya, mahasiswa Jombang yang kuliah di Wuhan. (Istimewa/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Dari total 245 warga negara Indonesia (WNI) yang tertahan di Provinsi Hubei, dilaporkan ada tiga mahasiswa asal Jombang. Salah satunya, Khoirul Umam Hasbiy, 30 yang sedang menempuh pendidikan S-3 di Huazhong, University of Science and Technology.

Dia menceritakan, sejak wabah virus korona menyebar ia bersama rekan-rekannya menjadi panik. Bahkan, sempat ada informasi 170 warga yang meninggal akibat terserang virus tersebut. Sehingga mental mereka menjadi drop. Hari-hari dilalui dengan perasaan gundah gulana. ”Suasana disini (Wuhan, Red) masih mencekam, teman-teman sempat depresi,” ujar Ketua Ranting Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) ini yang dihubungi via sambungan selulernya, kemarin.

Kabar menyebarnya virus korona, dimulai sejak Desember lalu. Waktu itu, suasana di kota Wuhan masih normal. Jalanan kota masih ramai. Seperti biasa mahasiswa berangkat naik bus menuju kampus. Bahkan, keramaian kota dan hiruk pikuk masyarakat Wuhan terjadi 24 jam penuh tanpa istirahat. Namun, suasana terbalik 180 derajat setelah wabah virus menyebar.

Bahkan, mereka menjadi panik setelah pemerintah kota Wuhan menyatakan wuhan di lockdown (pembatasan kegiatan, Red) untuk beberapa minggu ke depan. ”Sejak Wuhan lockdown, semuanya berubah total, kota Wuhan yang sebelumnya ramai menjadi sepi seperti kota tak berpenghuni,” terangnya.

Mahasiswa jurusan administrasi publik dari CGS (Chinese Government Scholarship) ini mengaku sudah dua tahun tinggal di Wuhan. Merebaknya virus korona baru dirasakan kali ini. Sejak pemerintah Wuhan memberlakukan pembatasan kegiatan, beberapa aturan pun dijalankan. Misalnya, pihak kampus menginstruksikan agar mereka tinggal di asrama masing-masing dan keluar hanya diperbolehkan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti berbelanja.

Selain itu, mereka selalu mengenakan masker dan menjaga tubuh tetap fit. ”Teman-teman mahasiswa dan wisatawan juga masih tertahan. Pemerintah Wuhan Helpless (tak berdaya, Red). Semua langsung dihandle Central Government,” jelas dia.

Setiap hari, ia bersama teman-teman se-asrama memasak kebutuhan untuk makan. Selama ini, diakui bantuan makanan dari pemerintah pusat masih minim. ”Dari Jombang ada tiga orang termasuk saya,” jelasnya. Meski begitu, berhari-hari menjalani pembatasan kegiatan, dia mengaku sangat bersyukur karena belum ada WNI maupun tiga mahasiswa yang dikabarkan terjangkit virus korona.

Apalagi, ia merasa tenang saat pemerintah Republik Indonesia bakal segera melakukan evakuasi. ”Benar hasil rapat PPIT dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Pak Presiden mendukung penuh proses evakuasi. Untuk sementara kami berkoordinasi dengan KBRI terkait titik kumpul dan titik penjemputan,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia