Selasa, 19 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Slamet Hari Budiyono, Difabel yang Sukses Jadi Pengusaha Sarung Keris

02 September 2019, 12: 34: 02 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Slamet Hari Budiyono, perajin sarung keris di lingkungan Geneng, Kelurahan Jombang ini tetap semangat menyambung hidup.

Slamet Hari Budiyono, perajin sarung keris di lingkungan Geneng, Kelurahan Jombang ini tetap semangat menyambung hidup. (Anggi Fridianto)

Share this      

JOMBANG, Radar Jombang - Keterbatasan fisik tak membuat Slamet Hari Budiyono, difabel asal Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang, putus asa dalam menjalani hidup. Belajar secara otodidak, Slamet kini sukses menjadi pengusaha sarung keris. Bahkan dalam bulan Suro tahun ini, pesanan sarung keris buatan Slamet meningkat.

”Saya membuat warangka sejak 1982,” ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang kemarin (1/9). Pria kelahiran Jombang 12 Januari 1960 ini mengalami lumpuh kaki karena terserang polio sewaktu masih kecil. Akhirnya, seumur hidupnya dia menggunakan bantuan kruk dan gledhekan untuk berjalan.

Kendati demikian, tak pernah membuatnya patah semangat. ”Ya memang begini keadaannya. Harus tetap bersyukur,” sambungnya. Membuat warangka keris merupakan satu-satunya keahlian untuk meneruskan hidup. Sebab, di zaman sekarang ijasah SD tak akan laku untuk melamar pekerjaan. Apalagi kondisinya yang tak memungkinkan untuk bekerja ekstra.

”Saya dulu suka koleksi barang-barang antik. Termasuk keris dan pusaka,” tutur dia. Namun, setelah mengetahui harga warangka cukup mahal diapun belajar secara otodidak dari kayu sonokeling. Untuk belajar membuat warangka, dia menghabiskan waktu sekitar empat bulan. ”Setelah saya tekuni ternyata ada yang pesan. Bahkan, lumayan ada yang mencari saya untuk membuat warangka,” sambung dia. 

Hampir 37 tahun menggeluti kerajinan warangka, nama Slamet kini terus dikenal. Pelanggannya tidak hanya dari Jombang, juga dari Tuban, Kediri, Gresik, Surabaya dan daerah lain juga sering mendatanginya. Harga yang ditawarkan juga bersaing, mulai Rp 100 ribu dengan ukuran yang paling kecil hingga Rp 500 ribu dengan balutan kuningan.

”Harganya tergantung model. Kalau yang standar begini Rp 300 ribu,” jelas dia. Untuk membuat warangka keris, tidak sembarang kayu bisa dipakai. Hanya beberapa kayu yang memiliki kualitas bagus untuk membuat warangka misalnya sonokeling, timongo dan kemuning. ”Sebab kayu ini ringan tapi kuat,” jelas dia. 

Memasuki bulan Suro seperti ini, diakui untuk pesanan  warangka mulai banyak. Sebagian masih menawar nawar harga dan sebagian lainnya sudah memesan. ”Ini saya dapat pesanan dua warangka,” tandasnya. Tidak hanya memesan warangka, khusus pelanggan tetap biasanya hanya datang untuk mereparasi warangka tersebut. ”Kalau reparasi murah, tinggal melihat apa yang diperbaiki,” pungkasnya. (ang)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia