Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Tertanam di Jalan Desa, Batu Ini Diyakini Peninggalan Kapal Majapahit

31 Agustus 2019, 12: 06: 24 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sebuah batu yang diyakini jadi tempat tali menambat kapal di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito.

Sebuah batu yang diyakini jadi tempat tali menambat kapal di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito. (Achmad Riza Wad’ullah)

Share this      

JOMBANG, Radar Jombang - Sebagai salah satu  pintu gerbang Kerajaan Majapahit, di Kabupaten Jombang banyak ditemukan sisa peninggalannya. Salah satunya, sebuah batu yang diyakini jadi tempat tali menambat kapal di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito.

Batu ini tertanam di samping jalan Desa Mentoro. Jika dilihat sekilas, batu ini nampak biasa, tanpa terlihat ukiran, batu ini berbentuk kubus dengan ketinggian 20 centimeter di atas tanah. Berada di bahu jalan, batu yang asalnya hitam ini terlihat telah menghijau tertutup lumut.

Bentuknya pun telah tak rata, bagian atas dan sampingnya nampak telah aus tergerus usia. Di sekelilingnya pun, tak ada penanda khusus, tulisan, ataupun pagar yang menandakan jika batu ini adalah bangunan penting dan bersejarah.

Namun, seluruh warga desa tahu betul, batu ini bukan batu biasa. Bukan lantaran bertuah, namun lebih karena sejarahnya. Ya, batu ini diyakini warga sebagai salah satu peninggalan dan saksi megahnya transportasi sungai di era Majapahit. 

“Itu untuk menali kapal yang sandar dulunya, kata orang-orang tua dulu,” ucap salah satu warga di lokasi. Ia menambahkan, jika batu ini sebenarnya tak cuma satu, ada dua batu berbentuk serupa yang lokasinya di sebelah barat. “Cuma yang barat itu sudah dipindah, ini kan dulu bagian tengah ini katanya sungai,” lanjutnya.

Hal inipun diakui sejarawan Jombang Nasrul Illah saat ditemui jawa Pos Radar Jombang. Pria yang juga asli kelahiran Mentoro ini menyebut batu itu adalah bekas tempat tambatan kapal ketika bersandar. “Cancangnya kapal, kalau warga menyebut. Jadi itu memang ada dua dan jarak antara keduanya sekitar 150 meter,” terangnya.

Hal ini didasarkan pada penggalian yang telah dilakukan di antara kedua batu itu. Penggalain yang sempat dilakukan sejumlah peneliti beberapa tahun lalu menemukan indikasi jika seluruh wilayah diantara dua batu itu sebelumnya adalah sungai. 

Tak cuma sungai biasa, sungai itu jadi alat transportasi untuk siapapun bisa masuk ke wilayah Majapahit. Namun luasan sungai yang menyusut menyebabkan kini lebar sungai jadi lebih kecil. “Jadi istilahnya dulu itu wewetih, bentuknya sungai yang mengalir ke arah Brantas, bentuknya juga lebar, karena bisa untuk memuat kapal.  Itu pintu masuk ke batas kota Majapahit kalau lewat air,” lanjutnya.

Hingga kini, kedua batu itu masih terjaga meski salah satunya telah dipindah dengan alasan menutup jalan sebelumnya. Bahkan penuturan salah satu Petugas BPCB, batu itu telah diregistrasi ke aset BPCB meski untuk sejarah lengkapnya belum pernah dipublikasikan.

“Kalau untuk situsnya sudah teregister, Cuma cerita atau sejarah lengkapnya seperti apa belum terbuka. Yang diketahui hingga saat ini memang itu bekas cancang perahu untuk sandar,” terang Koordinator Juru pelihara Situs Purbakala Jombang Hadi Ali. (riz)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia