Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Sering Mendung dan Hujan, Produksi Krupuk di Badang Ngoro Terganggu

09 April 2019, 10: 32: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Aktivitas produksi kerupuk di Desa Badang, Kecamatan Ngoro.

Aktivitas produksi kerupuk di Desa Badang, Kecamatan Ngoro. (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang banyak dijumpai usaha pembuatan kerupuk. Saat musim penghujan seperti saat ini, mereka sangat berharap matahari selalu bersinar panas, agar kerupuk yang baru dibuat cepat kering.

Karena itu jika cuaca berubah cerah, mereka langsung bergegas mengeluarkan adonan kerupuk yang sudah dipotong tipis-tipis untuk dijemur di teras rumah agar mendapat panas matahari. Lantaran saat ini musim penghujan, pembuat kerupuk harus pintar-pintar memilih waktu yang pas.

Salah satunya dilakukan Marzuki Soleh, pemilik usaha pembuatan krupuk di Desa Badang, Kecamatan Ngoro. Sinar matahari ini memang diandalkan untuk proses penjemuran kerupuk oven. Sehingga, pada saat musim penghujan seperti saat ini sangat mempengaruhi hasil produksi sehari-harinya.

”Ya biasanya saya bisa memproduksi kerupuk oven ini tiga kuintal saat musim kemarau, tapi saat musim penghujan seperti ini hanya bisa 1,5 kuintal saja,” tuturnya. Padahal, lanjut pria berusia 67 tahun tersebut, untuk proses penjemuran itu tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya dua jam pada saat musim kemarau.

”Kalau panasnya terik hanya bisa dua jam saja,” katanya. Akan tetapi, pada saat musim penghujan seperti ini, bisa membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena apabila kerupuk oven tersebut tidak kering, maka akan dilakukan kembali proses penjemuran pada hari esoknya.

”Jadi kalau tidak kering yang dijemur lagi besoknya,” katanya. Terlebih lagi, menurutnya cuaca saat ini tidak bisa ditebak. Terkadang, pagi hari sangat cerah, namun siang tiba-tia turun hujan. Sehingga, itu yang mengakibatkan dirinya juga harus siaga menjaga kerupuknya agar tidak kehujanan.

”Ya harus dijaga, takutnya tiba-tiba hujan kan kerupuk menjadi rusak,” bebernya. Kendati musim hujan ini, dirinya terus memproduksi kerupuknya, karena sudah banyak pelanggan yang menanti.

”Kalau tidak produksi kasihan juga pelanggan yang menungggu,” imbuhnya. Terlebih lagi, kerupuk oven buatan Marzuki cukup dikenal, bagaimana tidak dirinya sudah merintis usaha pembuatan kerupuk oven ini sejak 1989. Sehingga, dirinya juga sudah mempunyai banyak pelanggan.

”Dulu mulai usaha ini karena melihat dan belajar dari mertua saya,” ungkapnya. Untuk penjualan, pada waktu pertama kali usaha dirinya hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut. Akan tetapi, saat ini sudah zaman teknologi dirinya juga memasang promosi melalui media sosial.

”Anak saya yang mempromosikan ke media sosial,” tuturnya. Sehingga, saat ini dirinya mempunyai pelanggan tidak hanya di Jombang saja melainkan di Sidoarjo, Tulungagung dan Mojokerto. ”Untuk pelanggan luar Jawa masih belum, karena sudah memenuhi permintaan dari daerah sekitar,” katanya.

Untuk harganya sendiri, bapak tujuh anak ini membandrol dengan harga Rp 12 ribu per kilogram. ”Jadi untuk rasa-rasa seperti rasa bawang itu Rp 12 ribu per kilogram, untuk biasa hanya Rp 11.800 per kilogramnya,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia