Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Gedung SMAN 3 Jombang; Dulu Rumah Sakit, Kini Ruang Belajar Siswa

08 April 2019, 15: 25: 45 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Foto karyawan rumah sakit di depan kantor yang kini menjadi kantor Tata Usaha SMAN 3 Jombang

Foto karyawan rumah sakit di depan kantor yang kini menjadi kantor Tata Usaha SMAN 3 Jombang (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Bangunan SMAN 3 Jombang yang terletak di Jl dr Soetomo ternyata memiliki sejarah yang menarik. Ya, bangunan peninggalan Belanda yang sampai saat ini masih terawat, dulunya bergonta-ganti difungsikan. Mulai dijadikan rumah sakit,  dan kembali difungsikan sebagai sekolahan. 

Nuansa bangunan lawas terpampang dengan jelas saat memasuki area sekolah.  Ornamen bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda makin terlihat, mengingat hampir semua bangunan, berasitektur lawas. Mulai dari lantai hingga dinding. Untuk dinding misalnya nampak begitu tebal dengan ukuran hingga sekitar dua batu bata.

Ukuran pintu dan daun jendala juga nyaris semuanya sama, tidak seperti pintu maupun jendela saat ini. Untuk tekstur bangunan pun lebih keras dan terlihat sangat kokoh. Belum diketahui secara pasti kapan bangunan itu dibangun. Hanya saja dari cerita yang ada, kali pertama bangunan itu difungsikan untuk sarana pendidikan.

Dwi Sunanto salah seorang guru menerangkan, diperkirakan bangunan itu ada sejak 1914 saat pemerintah Belanda berada di Jombang. ’’Memang dulunya itu untuk sekolahan. Jadi Belanda itu istilahnya politik etis atau politik balas budi. Artinya mendirikan sekolah untuk masyarakat Indonesia. Makanya itu ada HIS (Hollandsch-Inlandsche School) sekitar 1918. Tapi yang sekolah hanya orang-orang tertentu, seperti bangsawan atau orang-orang yang punya pengaruh, seperti anak lurah, wedono, dan sebagainya,’’ kata Totok biasa disapa.

Meski tak disebutkan dengan pasti, diyakini sebelum dipergunakan untuk rumah sakit, bangunan tua itu diperuntukkan untuk sarana pendidikan. Ada sekitar 10 lebih bangunan tua itu berdiri di atas lahan seluas 5,4 hektare. ’’Tapi tidak semuanya ditempati SMAN 3 Jombang. Sampingnya itu ada Stikes Pemkab lalu SDN Jombatan 1,’’ sebut dia.

Dalam perjalanannya, pada 1942 seluruh bangunan itu berubah fungsi kala Jepang melakukan invasi ke Indonesia. Menurut dia, saat Jepang menjalankan kebijakan dengan priorotas utama keperluan perang dan militer. Bangunan itu kemudian dimanfaatkan untuk keperluan perang sebagai tangsi, barak, hingga rumah sakit militer. ’’Saat itu sekolah dihapuskan, dan bangunannya dipakai untuk rumah sakit,’’ cerita dia. 

Sehingga, lanjut Totok untuk memudahkan keperluan rumah sakit, lorong-lorong pun dibangun. Tujuannya untuk menghubungkan antara bangunan satu dengan lainnya. Sampai sekarang lorong dengan tiang dari kayu itu pun masih berdiri kokoh.  ’’Baru kemudian setelah Indonesia Merdeka 1945, bangunan ini dipakai lagi untuk pendidikan SGB (Sekolah Guru Besar, Red) sekitar 1949. Kemudian 1950-an SGB itu pindah ke Nganjuk,’’ sebut Totok yang juga lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Negeri Jombang 1966 ini.

Pada tahun berikutnya, masih menurut Totok, bangunan itu kembali difungsikan untuk sarana pendidikan. ’’Sekitar 1950-an dipakai untuk SGA (Sekolah Guru Atas, Red) kemudian berganti nama menjadi SPG Negeri Jombang,’’ beber dia.

Mengingat lahannya yang begitu luas, beberapa sekolah lain pun pernah nebeng di area itu. Dia masih ingat betul, mana saja sekolah yang pernah berlokasi dengan SPG Negeri Jombang ini. ’’Dulu itu ada SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Red) Negeri Jombang, lalu SMP Sore, kemudian SMEP (Sekolah Ekonomi Pertama, Red) Negeri Jombang, dan SMPN 1 Jombang. Universitas 17 Agustus Surabaya dan Universitas Kosgoro juga pernah di situ,’’ sebut dia.

Melihat tata letak bagunan tua di SMAN 3 Jombang cukup unik. Sebab berada di pinggir lapangan bundar. Masing-masing bangunan berada di samping lapangan. Dwi Sunanto salah seorang guru menuturkan, pemerintah Belanda memberikan nama untuk lapangan bundar yaitu Normal School. ’’Sejak awal mungkin sudah dirancang begitu. Jadi lapangan itu disampingya ada bangunan,’’ kata Totok. 

Sampai sekarang ada lebih dari 10 bangunan tua peninggalan kolonial itu masih kokoh. Di antaranya empat eks asrama yang kini dipergunakan ruang kelas. Kemudian empat ruangan yang dulunya dipergunakan rumah dinas kini berubah jadi ruang kantor. Sisanya dipakai untuk ruang UKS, aula hingga ruang untuk penjaga sekolah dan tukang kebun. ’’Kalau dihitung jelas banyak,’’ beber dia.

Tak hanya bangunan, untuk fasilitas penunjang pun sampai sekarang masih ada. Yakni sumur tua. Ukurannya begitu besar tak seperti sumur pada umumnya. Meski sebagian sudah ditutup, beberapa di antaranya tetap dibiarkan apa adanya.

Menurut Totok, hampir di setiap gedung terdapat sumur tua. ’’Di ruang asrama misalnya. Jadi dulu waktu masih dipakai Belanda asrama disediakan untuk mereka yang tinggal di situ. Atau sewaktu dipakai rumah sakit untuk keperluan sehari-hari,’’ papar dia. Sebab masih menurut dia saat dipergunakan sarana pendidikan, mereka yang bersekolah sebagian besar menginap. 

Gedung itu kemudian ditempati SMAN 3 Jombang yakni pada 1991. Tepat ketika SPG Negeri berubah menjadi SMA Negeri. ’’Tepatnya pada 17 September 1991 SMAN 3 Jombang secara resmi dibuka. Ini yang menjadi dasar hari jadi sekolah,’’ pungkas Totok. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia