Sabtu, 07 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Padi Diserang Hama Potong Leher, Petani Jombang Waswas Produksi Turun

08 April 2019, 14: 20: 49 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani menunjukkan kondisi tanaman padi yang mati akibat serangan hama.

Petani menunjukkan kondisi tanaman padi yang mati akibat serangan hama. (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Petani di  Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang diliputi rasa waswas. Sebab, tanaman padinya mulai  diserang hama potong leher (blas). Mereka khawatir hasil panen menurun dan merugi. Terlebih lagi, harga gabah saat ini juga merosot tajam.

Berbagai upaya telah dilakukan, seperti penyemprotan. Namun, hama potong leher  (batang padi membusuk) tetap ganas menyerang padi. ”Kami juga sudah melakukan penyemprotan dan lain sebagainya, akan tetapi untuk potong leher ini agak susah dideteksi karena tahunya saat padi muncul,” ujar Ngasiman salah satu petani asal Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng.

Diakui, tahun kemarin ada hama  potong leher, namun tidak seberapa. Namun, musim tanam saat ini serangan potong leher mulai meluas. Bahkan, tidak hanya di dusunnya saja, akan tetapi di dusun lainnya seperti Dusun Tegalan, Desa/Kecamatan Bareng juga terserang. ”Untuk tahun ini memang cukup ganas serangannya,” katanya.

Dirinya memprediksi, apabila padi terserang potong leher pada sawah ukuran 5.000 m2 yang biasanya menghasilkan 3 ton, hanya bisa menghasilkan 2 ton. ”Kan ini penurunanya sangat banyak sekali,” ungkapnya.

Ia juga mengakui, selama ini juga tidak pernah ada kunjungan dari petugas penyuluh pertanian (PPL). Pihak penyuluh hanya datang saat serangan sudah parah, bahkan  tidak datang sama sekali. ”Kalau sudah terserang parah baru datang kan percuma juga. Seharusnya penyuluh itu datang meski pada tidak terserang hama. Sehingga petani ini kebingungan menghadapi potong leher,” katanya.

Ia juga menambahkan, apabila ada semacam sosialisasi terkait penanganan potong leher, para petani  bisa lebih waspada lagi dan menanggulanginya. ”Potong leher baru kelihatan saat padi muncul,” imbuhnya.

Saat ini menurutnya, harga gabah basah hanya Rp 3 ribu sampai Rp 3.300 per kilogram. ”Ya harapan kami pemerintah bisa lebih  peduli nasib petani,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia