Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Galian C Liar Marak di Jombang, Ecoton Surabaya Desak Penindakan Tegas

07 April 2019, 18: 11: 55 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu galian yang beroperasi di wilayah Kecamatan Ngoro.

Salah satu galian yang beroperasi di wilayah Kecamatan Ngoro. (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Masih beroperasinya galian C diduga ilegal di Kabupaten Jombang mendapat tanggapan serius dari pemerhati lingkungan. Amirudin, aktivis lingkungan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) berharap segera ada tindakan tegas dari pihak berwajib maupun pemkab untuk menghentikan galian tersebut.

“Seharusnya tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan penindakan, karena dalam Undang Undang sudah jelas diatur,” ujarnya dikonfirmasi kemarin. Dijelaskan, pada Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009 sudah diatur apabila melakukan kegiatan tambang tanpa ada izin, pelanggaran ancaman pidana paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

Sebenarnya, lanjut dia, kasus galian ini kuncinya berada di tangan bupati. Seharusnya bupati tidak gampang mengeluarkan rekomendasi ke pemerintah provinsi terkait izin galian C tersebut. Lebih dari itu, untuk penambangan ilegal bupati juga harus pro aktif melakukan pengawasan, pembinaan dan penindakan terhadap pelaku penambang melalui dinas terkait. Termasuk melibatkan aparat kepolisian dan aparat penegak perda. 

“Bupati juga harus tegas melakukan penindakan terhadap galian C ilegal ini,” ungkapnya. Menurut Amir, sapaan akrabnya, keberadaan penambangan galian yang diduga ilegal selalu mendapat bekingan. Terbukti, mereka berani beroperasi kembali meski belum mengantong kelengkapan ijin operasional. 

“Saya pikir pelakunya sangat mudah diketahui, pertanyaannya sekarang, apakah berani aparat kita memberi sanksi tegas terhadap pelaku. Masyarakat juga harus didorong lebih proaktif untuk melaporkan aktivitas ini dan jangan takut,” tegasnya.

Sebab, dalam analisanya, jika dibiarkan terus menerus, maka galian B bisa merusak lingkungan. Semisal aktifitas galian C berada di daerah tangkapan air atau daerah hulu, maka bisa berakibat pada debit air dan mata air yang berkurang banyak.

Tidak hanya itu, galian C yang berada di daerah pertabian juga berdampak pada air yang dapat mendukung lahan-lahan pertanian sekitarnya. “Panen biasanya setahun 2-3 kali, bisa menjadi 1 kali saja karena tanaman pertanian hanya bergantung pada hujan,” pungkas Amir. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia